Menengok Islam Di Pulau Surga

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Negara yang terdiri dari pulau-pulau kecil ini adalah tujuan wisatawa favorit dunia. Berdekatan dengan Samudera Hindia, Maladewa adalah pulau yang pernah direkomendasikan Ibnu batuta, sang petualang muslm terkenal, untuk dikunjungi karena keindahannya. Hampir seluruh penduduk adalah muslim beraliran sunni.

Maladewa ( Foto @Source )

Republik Maladewa (Dhivehi Rajjege Jumhuriyya) adalah sebuah negara kepulauan karang terstruktur, bak titik-titik mutiara yang tersebar di Saumdera Hindia. Maladewa terletak kira-kira 700 km (435 mil) dari Selatan-Barat Sri Lanka.

Bagi para penggila perjalanan, mengunjungi Maladewa akan membuat siapa saja mengalami kehidupan yang menyenangkan yang menghapus semua penat di sepanjang tahun. Semua fantasi wisata laut bisa di lakukan di sini, seperti berenang, berjemur, menyelam, bermain pasir dan lain sebagainya.

Maladewa memang terkenal sangat indah, bahkan sering dikatakan terindah di dunia. Negara yang terletak di Samudera Hindia ini terkenal dengan banyak pulau dan pantainya yang sangat menawan. Banyak pesohor dari seluruh dunia menjadikan pulau ini sebagai tempat berlibur.

Kepulauan Maladewa berada di Samudera Hindia, terdiri dari deretan 1.190 pulau dan melintasi garis ekuator. Tak heran, wisata di kepulauan ini menawarkan berlimpahnya cahata matahari serta pantai yang unik dan menarik. Pariwisata yang merupakan andalan negara ini menyediakan pantai-pantai indah, laguna-laguna yang cantik, air laut yang jernih, terumbu karang yang memukau dengan kekayaan flora-fauna yang unik dengan iklim tropis yang hangat.

Keindahan kawasan ini diberitakan bahkan telah memesona orang yang pernah mengunjunginya sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan Marco Polo, penjelajah dari Venesia yang terkenal itu, menyebut kepulauan ini sebagai "flower of the Indies", kembangnya Hindia.

Pengembara dari Maroko, Ibnu Batuta, yang pernah tinggal di kepulauan ini mengatakan Maladewa sebagai salah satu keajaiban dunia. Pemandangan pantai, terumbu karang, ikan tropis dapat dinikmati dalam suasana sunyi, bahkan banyak tempat-tempat yang seakan belum terjamah manusia karena keindahannya yang masih murni.

Informasi mengenai Maladewa dengan pesona wisatanya yang menghiasai iklan-iklan travelling dan pariwisata dunia ternyata bisa membawa kita mengenal lebih dekat dunia Islam di sana. Negeri yang berpenduduk tidak lebih dari 1000 jiwa itu rupanya berpenduduk 100% Muslim. Undang-undang mengharuskan penduduk yang menjadi warga negara adalah muslim. Sehingga orang asing yang ingin bermukim harus muslim pula, kecuali turis.

Penduduk Maladewa diberitakan sangat taat dalam menjalankan shalat lima waktunya. Di negeri ini, kantor-kantor dan pertokoan biasanya akan tutup 15 menit sebelum adzan dan buka kembali 15 menit sesudahnya. Ini berlangsung setiap hari dan setiap waktu shalat.

Karena kentalnya agama yang mereka peluk inilah, di sini ada larangan untuk minum-minuman beralkohol ataupun membawanya.

Tak heran Maladewa termasuk dalam enam negara di dunia dengan kesilaman paling dominan selain Arab Saudi, Iran, Yaman, Uzbekistan dan Afghanistan.

Ada beberapa tempat yang dianggap tak boleh dilewatkan oleh siapapun yang berkunjung ke Maladewa. Beberapa diantaranya ternyata juga merupakan situs Islam di negeri ini. Sebut saja Islamic Centre. Bangunannya yang dibuka pada November 1984, bertindak sebagai gerbang wisata utara karena berada dekat dermaga di ibukota Maladewa, Male. Dalam Islamic Centre terdapat masjid dengan arsitektur yang indah. Kubah masjid yang berwarna keemasan tampak jelas di udara.

Terdapat pula bangunan Hukuru Miskiy yang disebut sebagai Jum'ay Grand Mosque (Masjid Besar Jumat) karena menjadi pusat pelaksanaan shalat Jum'at di Maladewa. Masjid ini salahs atu masjid paling bersejarah di Maladewa yang di bangun pada abad 15 oleh Sultan Ibrahim Iskandar. Hukuru Miskiy dibuat dari blok karang berukir dengan sangat indah desainnya. Panel kayu yang ditulis dengan huruf Arab berisi ayat suci tampak terlihat di dalam Masjid. Hukuru Miskiy menjadi sebuah masjid yang paling aktif dan menjadi tujuan kunjungan wisata di Maladewa.

Ada lagi tempat bernama Medhu Ziyaarath. Tempat berbentuk kuil ini dibangun untuk Abul al Barakaath Yusuf al Barbari yang membawa Islam masuk ke Maladewa pada tahun 1153. Tokoh yang merupakan pedagang dari tanah Arab ini dianggap yang paling awal membawa Islam. Beberapa data lain ada yang menyebut Syeikh Yusuf Shamsudin dari Tabriz yang membawa Islam pertama kali di Maladewa.

Museum Nasional Maladewa merupakan tempat populer lainnya. Museum ini terdapat di dalam Sultan's Park, sebuah taman publik di sana. Rumah kuno milik sultan merupakan artefak menarik karena memadukan sejarah dan budaya Maladewa baik pra-Islam maupun Islam.

Selain itu ada makam Sultan Ali Rasgefaanu yang terdapat di pantai barat Male. Salah satu sultan Maladewa ini diyakini mati syahid saat menghadang serbuan Portugis.

ISLAM MALADEWA

Maladewa ( Foto @Source )

Kentalnya Islam di Maladewa kiranya sudah cukup diakui dunia. Tak urung, di kalangan misionaris Nasrani, negeri ini termasuk yang sulit ditembus proyek kristenisasi. Undang-undang negara memang tidak main-main, karena siapa saja yang non-muslim tidak diperkenankan menjadi warganegara Maladewa.

Karenanya wajar jika Islam merupakan unsur penting di Maladewa. Hukum syariat Islam yang dalam bahasa lokal disebut sariatu telah membentuk dasar hukum kenegaraan di sana yang disesuaikan dengan kehidupan lokal. Lembaga kepresidenan, kejaksaan, departemen dalam negeri dan lembaga lain menggunakan hukum tersebut sebagai pijakan mereka. Semua hukum ini dipusatkan pelaksanaannya di masjid yang menjadi arena mempraktikan hukum-hukum syariat.

Karena itu sangatlah wajar jika Jum'at merupakan hari yang penting bagi warga Maladewa. Pada hari itu warga desa, kota dan karyawan pemerintahan maupun swasta, berbondong-bondong ke masjid sejak pukul 11 siang. Padahal khutbah Jum'at sendiri baru dimulai pada pukul 12.30 siang.

Hampir di setiap pulau di Maladewa memiliki masjid yang dibangun dengan indah. Bahkan ibukota Maladewa yang hanya merupakan pulau yang tak terlalu besar memiliki masjid sampai 30 buah. Sebagian besar masjid tersebut dibangun dari batu-batu karang.

Jumat Grand Mosque yang terdiri megah dibangun pada 1984 dengan didanai oleh negara-negara muslim kaya seperti Iran, Pakistan, Brunei Darussalam dan Malaysia. Pada tahun 1991 saja, negeri kepulauan ini memiliki hampir 1000 masjid di seluruh wilayahnya.

Pemerintah juga mengeluarkan beberapa peraturan khusus jika bulan Ramadhan tiba. Kafe dan restoran tidak boleh buka pada siang hari, sementara kantor-kantor dibatasi jam kerjanya agar masyarakat Maladewa lebih khusyuk menjalankan ibadahnya.

Presiden Maladewa, Moumoon Abdul Gayoom, memang dikenal memiliki komitmen yang kuat dalam hal sikap hidup Islami. Ia dan pemerintahannya telah meyakini dengan kondisi Maladewa yang Islam, maka karakter bangsa tak bisa ditegakkan dengan ideologi lain selain Islam dan syariatnya.

Tak banyak bukti yang menunjukkan tentang nenek moyang orang Maladewa. Asal usul orang Maladewa (Maldivian) sampai kini masih menjadi misteri. Beberapa kelompok penduduk yang tinggal pertamna kali di kawasan ini kemungkinan datang dari Sri Lanka dan Hindia Selatan. Ada juga yang mengatakan, suku bangsa Arya yang merupakan pendatang pertama yang datang pada 4.000 tahun lampau dari Lembah Indus. Hal ini diperkuat dengan keberadaan Hinduisme dan Buddhisme yang dianut warga sebelum mereka memeluk agama Islam.

Bahasa penduduk Maladewa adalah Dhivehi dengan akar bahasa Sanskrit dan sangat dipengaruhi bahasa Arab. Tak mengherankan juga, wajah peradaban Maladewa merupakan wujud dari titik temu budaya Afrika, Arab dan budaya maritim Asia Tenggara.

Pada ahli menyakini bahwa Maladewa sudah dihuni sejak abad ke-4 SM. Teori ini didasari oleh adanya laporan migrasi dari Arab, Afrika dan Timur Hindia pada tahun itu. Karenanya ras di Maladewa cenderung beragam.

Maladewa pernah di jajah portugis pada abad ke 16 selama lima belas tahun. Di luar itu, sejak tahun 1887 sampai 26 Juli 1965 Maladewa menjadi negeri yang berada dalam naungan Inggris. Sejak itu negeri ini memperoleh kemerdekaannya.

TERANCAM HILANG

Maladewa ( Foto @Source )

Masyarakat Maladewa kini mengalami satu ancaman besar yang terkait dengan perubahan iklim global. Pemerintah bahkan berencana mencari lokasi baru bagi negara mereka karena dikhawatirkan pulau-pulau di Maladewa akan hilang seiring dengan meningkatnya permukaan air laut.

"Skenario terburuk terkait peningkatan permukaan laut akan menyebabkan beberapa atau bahkan semua pulau di wilayah negara kita tak bisa dihuni dan kita harus mencari tempat tinggal alternatif bagi penduduk Maladewa," kata Mohammed Waheed Hassan Manik, wakil Presiden Maladewa

Tak bisa disangkal, Maladewa berada di lokasi strategis di jalur Samudera Hindia dan memiliki pantai-pantai yang sangat indah. Sebanyak 80 pulau dipenuhi resort-resort turis. Namun, letaknya yang lebih rendah daripada permukaan laut membuat wilayah Maladewa sangat sensitif terhadap peningkatan permukaan laut. Menurut sirus internet CIA, The World Fact Boook, Maladewa merupakan negara kepulauan karang di Samudera HIndia.

Total luas wilayah kepulauan karang Maladewa adalah 300 kilometer persegi dan memiliki garis pantai sepanjang 644 kilometer, dengan daratan yang datar dan pantai dengan pasir putih. Pariwisata dan perikanan adalah dua bidang yang terus dikembangkan di negara yang mayoritas penduduknya beraliran Sunni tersebut.

Titik terendah adalah Samudera Hindia 0 meter, dan titik tertinggi berada di lokasi tak bernama di pulau Wilingili di Karang Addu, yaitu setinggi 2,4 meter. Maladewa beriklim tropis: panas dan lembab. Sebanyak 80 persen pulau mempunyai ketinggian kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Sebuah studi mengatakan bahwa pulau-pulau tersebut dapat tenggelam dalam jangka waktu seratus tahun.

Kini kita hanya bisa berharap, Maladewa tetap ada selama mungkin, karena banyak saudara kita hidup di sana.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...