Kode Etik Ulama Di Australia

Sunday, January 7, 2018
Advertisement
AkuIslam.Id - Untuk menjaga citra warga muslim di Australia, Muslim Advisory Council, lembaga muslim di Australia mewajibkan dai atau ulama Australia mendaftarkan surat tugas dan menaati kode etik di sana.

Australia ( Foto @Source )

Singapura merupakan negara yang melakukan seleksi pemuka agama Islam dan guru agama di sana. Ustad yang berkompeten, mereka harus memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh Islamic Religious Council of Singapore. Seperti halnya di Singapura, Muslim Advisory Council (MAC), lembaga muslim yang dibentuk oleh PM Australia John Howard, akan memberlakukan prosedur yang ketat bagi para imam Muslim.

Lembaga itu menerapkan sistem pendaftaran dimana setiap imam atau da'i yang ada di Australia harus mendaftarkan surat tugas yang dimilikinya dan menaati kode etik yang telah ditetapkan MAC.

Menurut MAC, prosedur itu diterapkan agar umat Islam dan warga Australia pada umumnya bisa membedakan mana imam-imam yang bertanggungjawab dan mana yang membahayakan.

"Setiap ulama bisa datang ke masjid dan mengatakan bahwa dirinya imam kemudian memberikan ceramah," kata Kedua MAC, Amir Ali seperti dilansir dari AFP.

Akibatnya, kata Ali, jika mereka yang mengaku imam itu mengatakan hal-hal yang tidak bertanggungjawab atau yang tidak layak, media massa akan mengutipnya dan masyarakat akan merasa terancam lalu warga Muslim akan dipandangs ebagai ekstrimis, teroris, dan sejenisnya.

"Imam yang semacam itu jumlahnya sedikit tapi mereka sudah menciptakan persoalan citra bagi warga muslim di Australia," sambung Ali.

Ia mengingatkan, para imam yang tidak mematuhi petunjuk yang dikeluarkan MAC akan dipublikasikan ke publik. "Jika mayoritas iam dan pemuka agama Islam bersikap moderat dan memathunya; maka mereka yang ingin tetap berada di luar aturan akan diidentifikasi," tegas Ali

Dr Amir Ali yang juga menjabat sebagai PResiden Federation of Islamic Councils mengatakan, dengan adanya ketentuan sistem registrasi itu, para ulama dan pemuka agama akan membentuk organisasi tersendiri, mendaftarkan para imamnya dan melaksanakan kode etik yang sudah ditetapkan secara sukarela.

"Tidak ada yang punya wewenang untuk memaksakan pelaksanaan kode etik itu, semuanya harus dilakukan secara sukarela. Tapi kalau para ulama menolak bekerjasama, maka warga Muslim dan masyarakat luar akan tahu bahwa mereka adalah ekstrimis yang tidak mewakili umat Islam pada umumnya," papar Ali.

Untuk itu, MAC menawarkan bimbingan bagi para imam tentang apa saja yang bisa diterima di negara Australia yang multikultur ini dan menawarkan bantuan bagi ulama yang bukan kelahiran negeri Kanguru untuk belajar Bahasa Inggris.