Kisah Nabi Ibrahim Melempar Setan

Friday, January 12, 2018
Assalamualaikum, Jangan lupa selalu Like juga ya fanspage kami (FANSPAGE AKU ISLAM), agar lebih mudah terkoneksi dengan kami tentunya.

Advertisement
AkuIslam.Id - Nabi Ibrahim pernah melempar batu ke arah setan yang tengah menggodanya. Peristiwa itu terjadi ketika Nabi Ibrahim as mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya namun kemudian digantikan seekor domba. Peristiwa tersebut kini diperingati dengan ibadah kurban.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim as telah berumur tua, namun belum memiliki anak. Karenanya ia berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak soleh. Doanya dikabulkan Allah, maka lahirlah Nabi Ismail dari istrinya, Hajar. Suatu saat Nabi Ibrahim mengajak Hajar dan Ismail beranjak dari Arafah. Setibanya di Muzdalifah Nabi Ibrahim as mengajak mereka untuk beristirahat sejenak. Begitu capeknya, akhirnya mereka tertidur. Saat itu Nabi Ibrahim as bermimpi. Dalam mimpinya ia merasa mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim as terbangun dengan terkejut.

"Astagfiullah, mungkinkah setan yang telah memberiku mimpi buruk?" kata Nabi Ibrahim as dalam hati.

MIMPI ANEH

Namun esok malamnya, mimpi itu terulang kembali hingga tiga kali. Akhirnya ia membicarakan hal itu kepada Ismail.

"Nak, sesungguhnya ayah telah bermimpi sebanyak tiga kali. Dan dalam mimpiku, Allah memerintahkanku untuk menyembelihmu. Bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Nabi Ibrahim as.

"Ayahku, jika memang mimpi itu perintah Allah, maka laksanakanlah. Insya ALlah engkau kan mendapatiku sebagai anak yang berbakti dan sabar." jawab Ismail.

Nabi Ibrahim as sangat bersedih hingga menitikkan air mata. Bagaimana tidak, puluhan tahun ia menginginkan anak, namun setelah anak itu diberikan Allah, kini ia harus menyembelih putera tercintanya.

Maka esoknya Ismail berdandan dengan baju terbaiknya. Kepada Hajar mereka pamit untuk berjalan-jalan. Di tengah jalan mereka bertemu setan yang berwujud seseorang. "Hai Ibrahim, betapa kejam hatimu hingga tega menyembelih anakmu sendiri," katanya.

Nabi Ibrahim as segera menyadari siapa yang menegurnya. Ia mengambil batu kerikil dan melempari orang itu. Kelak inilah yang dalam ibadah haji disebut Jumratul Ula.

"Dengan nama Allah pergilah kau setan!" kata Nabi Ibrahim as.

Setan itu pun lari ketakutan dan menghilang. Lalu muncul lagi orang yang kedua. Ia pun mengatakan hal yang sama dan Nabi Ibrahim as melemparinya dengan batu juga. Inilah yang disebut Jumratul Wustha.

Muncul lagi yang terakhir yang juga dilempari batu oleh Nabi Ibrahim as. Yang ini disebut sebagai Jumratul Aqobah. Kemudian sampailah mereka di Bukit Mina tempat Nabi Ibrahim as akan menyembelih Ismail.

"Nak, benarkah kau ikhlas dengan perintah Allah ini?" tanya Nabi Ibrahim as.

"Insya Allah, tapi aku meminta padamu untuk meringankan deritaku. Ikatlah kedua tangan dan kakiku. Tutuplah mukaku dengan baju ini. Percepatlah gesekan pedangmu. Lalu sampaikan salam dan berikan pakaianku kepada ibuku untuk kenang-kenangan." jawab Ismail.

DIGANTI DOMBA

Nabi Ibrahim mengangguk dan kemudian Ismail berbaring terlentang di atas batu, sementara pedang Nabi Ibrahim as telah berada di lehernya.

"Bismillahirrahmanirrahim...," suara Nabi Ibrahim as begitu gemetar.

Namun sesaat sebelum pedangnya menyentuh kulit Ismail, terdengar suara ghaib memecah angkasa.

"Wahai Ibrahim kau telah membuktikan ketaatanmu kepada Allah. Dan Allah berkenan memberimu balasan yang setimpal.

Di depan Nabi Ibrahim as kini berdiri sesosok malaikat yang bercahaya. Ia menuntun seekor domba yang besar dan bagus.

"Wahai Ibrahim, Allah memerintahkan untuk mengganti kurbanmu dengan seekor domba. Sembelihlah domba itu sebagai ganti anakmu. Makanlah dagingnya dan jadikanlah hari ini sebagai hari raya bagimu. Sedekahkanlah sebagian dagingnya kepada fakir miskin. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang taat," kata Malaikat.

Nabi Ibrahim as dan Ismail sangat gembira. Mereka menyembelih domba tersebut dan membagi-bagikan sebagian dagingnya kepada fakir miskin. Begitulah asal mula adanya hari raya Idul Adha atau hari raya kurban atau disebut juga hari raya haji. Kisah tersebut dijelaskan Alquran dalam surat ash-Shaaffaat ayat 98-102.