Kesetiaanku Dibalas Pengkhianatan

Friday, January 19, 2018
Advertisement
AkuIslam.Id - Menikah adalah masa pacaran paling indah dalam kehidupanku. Karena itulah, sejak berumah tangga, rasa cintaku makin mendalam kepada imamku ini. Demi cinta dan kesetiaanku padanya, aku rela menanggalkan karierku agar bisa mendampingi suamiku tugas keluar kota. Siapa sangka, ternyata pengorbananku dibalas pengkhianatan.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Perkenalkan namaku Lila (24), bukan nama sebenarnya. Aku seorang ibu dengan seorang anak. Dua tahun sudah aku menikah dengan pria yang juga menjadi imamku, Tisna (25). Sejak kami menikah, rasa cinta kami semakin mendalam.

Maklum, kami menikah tanpa pacaran. Tak ada kamus pacaran dalam kehidupan kami. Justru pacaran itu datang ketika kami sudah melakukan akad nikah. Dan ternyata, lebih indah dari yang aku bayangkan. Kehidupan yang makin harmonis inilah yang membuat aku semakin mencintai suamiku.

BERHENTI KERJA

Demi cintaku kepada sang suami juga, aku akhirnya memutuskan untuk berhenti berkarier. Padahal, kala itu karierku sudah cukup mapan. Aku ingin mengabdikan diri sebagai istri yang setia mendampingi suami yang mencari nafkah.

Aku pun merasa pengorbananku tak sia-sia. Sebab, semakin bertambah usia pernikahan kami, semakin kudapat sisi romantis suamiku. Dia juga makin sayang dan menunjukkan kesetiaannya padaku. Hampir tiap hari, selalu saja ada kejutan yang dia berikan untuk istri tercintanya ini.

Aku masih ingat betul di minggu-minggu pertama kami menikah, dirinya bahkan pernah menyiapkan sarapan di atas kasur. Walaupun hanya tersedia nasi goreng dan segelas susu hangat di atas breakfast tray, rasanya aku sudah menjadi seorang ratu yang sangat dimanjakan oleh sang raja.

ADA WANITA LAIN

Bahkan, ketika aku telah positif hamil, rasa cinta suamiku semakin bertambah. Namun, pikiran positif itu berubah drastis ketika usia kehamilanku memasuki tujuh bulan. Suatu pagi, aku menerima sebuah telepon dari seorang wanita. Dari suaranya, terlihat usia wanita tersebut sudah paruh baya.

Dirinya memperkenalkan diri sebagai salah satu rekan kerja Mas Tisna. Sayangnya, belum sempat aku bertanya siapa gerangan wanita di seberang, sambung telepon langsung diputus. Yang aku ingat wanita itu menyebut dirinya mama. "Tolong sampaikan ke Tisna, kalau mama menunggu Tisna ya," ujar wanita tersebut.

Rupanya wanita tersebut sengaja membiarkan aku diam dan tak memberikan kesempatan untuk bertanya-tanya. Sedangkan dalam hati aku pun menjadi semakin penasaran. Siapa sebenarnya wanita ini, mengapa dia mencari Mas Tisna. Sepertinya wanita itu sudah sangat kenal dekat dengan suamiku.

Sembari kusimpan tanyaku dalam hati sambil menunggu Mas Tisna pulang dari kantor. Aku memang pencemburu, namun aku tidak pernah bertindak di luar kewajaran. Tiba-tiba jantungku berdebar kencang dan mataku sembab. Siapa lagi wanita ini, siapa yang sedang dirindukan Mas Tisna.

AKU DIKHIANATI

Tubuhku lunglai. Hatiku tiba-tiba terasa hampa. Tak kusangka, kegelisahan dan rasa penasaranku terjawab dengan berita yang mengecewakan. Ternyata wanita itu adalah kekasih suamiku. Sudah enam bulan ini Mas Tisna menjalin hubungan dengannya. Ya Allah, apa yang kurang dariku. Mengapa tiba-tiba suamiku berpaling dan membagi cintanya dengan wanita lain.

Yang lebih membuatku tercengang. Ternyata wanita itu adalah atasan suamiku yang usianya 10 tahun lebih tua dan tentu saja karier dan jabatannya sudah sangat mapan. Astagfirullah! Apkah karena harta suamiku jadi berpaling? Lagi-lagi aku hanya bisa bertanya dalam hati.

Yang jelas, suamiku tak membantah sama sekali dengan semua tuduhanku. Walau dia memelukku saat berlinangan air mata karena kecewa dengan perbuatannya, namun tak pernah ada kata penyesalan yang diucapkan Mas Tisna. Suamiku ternyata lebih mempertahankan wanita itu.

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin hidup dengan pria yang fisiknya bersamaku, namun hati dan jiwanya juga dibagi dengan wanita lain. Mungkin aku tak lagi punya jabatan, namun pengorbanan dan cinta tulusku kepada Mas Tisna itu adalah murni.

Memang sulit memaafkan perbuatan Mas Tisna, tapi aku juga tak bisa jauh dan berpisah darinya. Rasa cintaku yang sangat dalam, membuatku masih selalu berharap kami mampu melewati dan memulai babak baru dalam hidup kami. Hanya ada aku, Mas Tisna, dan buah hati kami kelak.