Hati-Hati Dalam Berbicara, Karena Allah Tahu?

Saturday, January 13, 2018
Assalamualaikum, Jangan lupa selalu Like juga ya fanspage kami (FANSPAGE AKU ISLAM), agar lebih mudah terkoneksi dengan kami tentunya.

Advertisement
AkuIslam.Id - Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2003, Waktu itu, aku ingat tanggal 11 November, Pukul 10 Pagi. Sebagai seorang pelaut, aku tengah mengarungi perjalanan pulang dari Merseille (Prancis) ke Genoa (Italia). Kejadian ini terjadi di atas kapal yang megah dan terkenal di Eropa dengan kecanggihannya. Kebetulan, waktu itu, aku dan teman-teman sesama pelaut sedang merayakan suatu pesta. Pesta ini adalah tradisi kami bila pulang setelah menjalani masa kerja selama 10 bulan.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Kami pun menghabiskan beberapa botol minuman keras dan berjoget ria untuk merayakan kepulangan kami ke tanah air. Dengan sombong dan congkaknya, kami berlima berteriak histeris, "Sing tikelep ieu Kapal da Aing dek baralik ieu (Mudah-mudahan kapal ini tenggelam karena aku mau pulang)." Selang beberapa jam, tiba-tiba awan yang tadinya cerah berubah gelap gulita dan guntur menggelegar bersahut-sahutan.

Hujan turun dengan derasnya diselingi badai. Selama dua hari berturut-turut, kapal kami yang terkenal dengan kecanggihannya itu pun bisa mengeluarkan semacam sayap sebagai penyeimbang bila ada badai.

Kami pun terombang ambing selama dua hari di tengah laut padahal jarak normal dengan kecepatan sekitar 70 knot dari Merseille ke Genoa 12 jam juga akan sampai. Celakanya, istriku yang kukabari sebelumnya sudah menunggu di Bandara Cengkareng karena perkiraanku tanggal 13 November, aku dan teman-teman sudah di tanah air.

Untung kami cepat menyadari dan menyesali kenapa tiba-tiba cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi gelap. Rupanya Allah SWT memberi peringatan kepadaku dan teman-temanku bahwa tidak ada yang lebih kuat dan perkasa selain dari-Nya.

Aku dan teman-temanku menangis dalam ketakutan yang amat sangat dan meminta ampunan (istighfar) kepada Sang Pencipta langit dan bumi, milik sekalian alam.

Selang beberapa menit, tiba-tiba, cuaca yang tadinya gelap disertai hujan dan badai berubah menjadi cerah dengan cepatnya. Kapal kami pun mulai bisa berjalan normal menuju Genoa (Italia). Setelah kejadian tersebut, aku berusaha meminta perlindungan dan pertolongan kepada ALlah SWT. agar selamat sampai di Tanah Air.

Sesampainya di Bandara Cengkareng, aku dan teman-teman melakukan sujud syukur karena Allah ternyata masih memaafkan kesalahan kami. Alhamdulillah, aku dan teman-temanku sampai sekarang sudah bisa berkumpul lagi bersama istri dan anak-anakku. Kejadian tersebut menjadi bahan renungan dalam kehidupanku sekarang.