Akibat Menyambung Rambut

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Pengalaman ini terjadi pada akhir tahun 2004 dan dialami langsung oleh adik perempuanku. Sebetulnya, sejak jauh-jauh hari aku sudah mengingatkan bahwa menyambung rambut itu haram. Meski begitu, ternyata nasihatku hanya menjadi nasihat basi karena kemudian dikalahkan oleh maraknya berbagai fenomena sambung rambut di kalangan artis.

Sambung Rambut ( Foto @Source )

Kurasa sebetulnya adikku pun kurang tertarik untuk menyambung rambut. Di samping harganya mahal, juga sangat berisiko terhadap kesehatan rambut dan kulit kepala. Hingga suatu hari, terjadilah musibah itu. Entah karena sok tahu atau sekedar iseng, adikku dan seorang teman perempuannya sepakat untuk bergiliran saling memotong rambut.

Pada awalnya, mereka puas pada hasil potongan pendek rambut mereka. Tapi keesokan harinya, rambut baru itu malah menjadi ledekan teman-teman sekolahnya.

Tak kuat menahan malu, tanpa sepengetahuan kami sekeluarga, ia nekat pergi ke salon dan menyambung rambutnya. Tidak tanggung-tanggung, untuk perbuatan haram itu adikku rela mengeluarkan uang Rp. 300.000 untuk ongkos salonnya.

Betapa kagetnya kami ketika tiba-tiba adikku pulang dengan rambut barunya yang panjang. Saat ini hanya ibuku yang berani menegur sementara aku hanya terdiam sebal. Malas berdebat, aku langsung pergi tidur.

Pagi harinya, kulihat adikku sudah sibuk menyiapkan berbagai jenis barang mulai dari air panas, air ingin, air hangat, gunting, sisir, handuk, dan lain-lain. Lucunya, ia berusaha sembunyi-sembunyi melakukannya hingga justru diam-diam menarik perhatian. Tapi karena kesibukanku dan perasaan sebal yang masih ada, kudiamkan saja perbuatannya.

Menjelang Ashar, adikku masih sibuk sendiri. Bahkan ia sampai bolos sekolah hari itu. Tak kuat menahan penasaran, akhirnya aku bertanya. Ternyata, rambut barunya yang ia ikat ke belakang sama sekali tidak bisa dilepas. Bahkan untuk diurai satu persatu pun terasa amat lengket di tangan. Dengan wajah memelas, akhirnya ia minta tolong padaku. Rupanya, sejak pagi ia sudah menahan malu karena 2 hal, yakni mendapatkan teguran Allah dan tidak mendengar nasihatku.

Akhirnya kami sekeluarga harus turun tangan untuk membantunya. Adikku berkeras tidak mau disuruh kembali ke salon karena memang kondisinya sangat memalukan. Sebenarnya, cara yang paling mudah adalah dengan mengunduli rambutnya tapi itu pun bukan cara terbaik mengingat Rasulullah melarang wanita mencukur rambutnya.

Akhirnya, satu-satunya cara adalah melepaskan sambungan rambutnya satu persatu secara manual alias dikorek dengan kuku. Bayangkan, aku dan ibuku harus mengorek seluruh sambungna rambutnya hingga menjelang tengah malam. Hasilnya, kukuku dan kuku ibuku harus keropos sana sini. Adikku pun masih harus keramas berulang-ulang untuk membersihkan serpihan-serpihan lem yang ada.

Setelah peristiwa ini, ia mengaku kapok dan bertaubat. Semoga peristiwa ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua bahwa apapun yang telah dilarang Allah untuk kita, pada dasarnya semua itu semata-mata hanya untuk kebaikan kita sendiri.

Related Posts