Suami Menyebutku Istri Yang Bodoh - Aku Islam

Post Top Ad

Suami Menyebutku Istri Yang Bodoh

Suami Menyebutku Istri Yang Bodoh

Share This
Advertisement
Banyak orang memujiku karena aku cantikd an punya suami yang sukses. Akan tetapi, mereka tak tahu bahwa di balik itu semua, aku adalah wanita yang menderita. Caci maki dan sikap kasar suamiku yang membuat aku harus punya kesabaran tak terbatas agar rumah tanggaku tetap bertahan.
Kesedihan Seorang Wanita Mendapat Perlakuan Kasar Suaminya ( Foto @Source )
Perkenalkan aku bernama Nadia. sebagai ibu rumah tangga, aku dianggap teman-temanku sebagai wanita cantik yang awet muda. Kini, usiaku memangs udah menginjak 42 tahun, namun mereka bilang aku tetap terlihat menarik seperti wanita yang usianya sepuluh tahun lebih muda. Mendengar pujian ini, rasanya tak percaya dan bikin aku besar kepala.

Apalagi ketika teman-teman arisanku mengatakan bahwa rahasia awet mudaku karena rumah tangga bahagia dan aku yang selalu dimanja suami, rasanya itu sebuah ironi. Sebab, senyum, tawa bahkan 'rumpiah' ceria yang kuceritakan pada kawan-kawan arisanku sebenarnya bohong belaka. 

Aku membohongi mereka sekaligus diriku sendiri bahwa aku perempuan yang bahagia. Padahal tidak.

BERHENTI BEKERJA

Sebagai ibu rumah tangga, aku emang digambarkan sebagai sosok cantik yang bertemu pangeran tampan, kaya dan sukses. Memang benar, hal itulah yang terjadi padaku. Lima belas tahun sudah aku mengarungi bahtera bersama sumaiku yang gagah dan 'hebat'. Dimana-mana dia banyak mendulang kesuksesan. Bisnisnya di bidang real estate juga membuat suamiku tak pernah sepi oleh rejeki, bahkan boleh dibilang berlimpah.

Sayangnya, selama lima belas tahun hidup bersamanya, aku tak lagi mengenyam kebahagiaan. Itu terjadi sejak lima bulan usia pernikahan kami. Tepatnya ketika aku mulai berhenti bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan lantaran suamiku meminta aku menjadi istri dan ibu rumah tangga saja. Menurutnya, tugas suamilah yang mencari nafkah. Tugas istri melayani suami dan mengasuh anak.

Alasan itu tentu saja tidak membuatku keberatan. bagaimanapun, kesuksesaan suamiku kesuksesaanku juga. Apa yang harus membuatku merasa keberatan. Semuanya biasa saja dan wajar. Sejak saat itu pula, aku memutuskan berhenti bekerja dan di rumah. Sayangnya, rumah yang besar dan mewah tak membuatku nyaman hidup sendirian.

SUAMIKU POSESIF

Suamiku lebih banyak menghabiskan waktu dengan bisnisnya. Aku yang biasa sibuk pun menjadi nganggur dan gelisah. Hingga kemudian kuputuskan untuk bergabung dengan salah seorang temanku dalam sebuah arisan ibu-ibu. Dari sinilah aku mulai punya teman lagi. Sayangnya, kegiatan baruku ini kurang disukai suamiku.

Aku dianggapnya hanya ingin keluyuran dengan dalih arisan. Entah mengapa, tiba-tiba suamiku menjadi pencemburu dan posesif karena kegiatanku itu. Padahal, hanya sebulan sekali aku ngumpul bersama teman-temanku. Jika rasa cemburu dan posesifnya muncul, dia tak hanya ngomel dan memakiku karena dianggap istri yang doyan keluyuran, namun juga menempelengku.

Aku yang tak ingin membuat rumah tanggaku makin runyam, akhirnya kuputuskan untuk tidak lagi mengikuti arisan tersebut. Kebetulan pula saat itu, aku tengah hamil anak pertama kami. Jadi, aku memilih lebih banyak beristirahat saja di rumah. Semua itu kulakukan demi suamiku dan hingga aku punya anak lagi lima tahun berikutnya.

DICAP BODOH

Praktis kegiatanku hanya di rumah, sebagai istri dan ibu. Tak ada kegiatan lain selain mengasuh anak dan melayani suami membuat wawasanku sepertinya mulai tumpul. Di depan suamiku, aku merasa tak lagi sebagai wanita yang cerdas seperti ketika aku bekerja dulu. Hal itu pula yang membuat suamiku makin 'kaku' terhadapku.

Karakternya yang temperamen dan mudah marah membuatnya tak sabar terhadapku. Bahkan dengan nada merendahkan, dia mengatakan bahwa aku istri terbodoh di dunia. "Diajak ngomong bisnis tidak nyambung," katanya.

Ya Allah, bukannya aku bodoh, tapi aku mungkin tidak mungkin bisa mengimbanginya jika yang ditanyakan selalu mengenai bisnis melulu. Aku yang hanya ibu rumah tangga dan tak boleh pergi dari rumah tanpa keinginannya, tentu membelenggu semua apa yang aku inginkan. Membuatku tak lagi bisa tahu dunia luar dan hal baru, apalagi soal bisnis yang tak pernah aku sentuh dan pelajari.

KUCOBA BERSABAR

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah diberi label wanita bodoh oleh suamiku. Bahkan, ketika aku sudah membuktikan, walau aku tak bisa bicara bisnis, namun aku bisa sukses mengasuh anak-anak dan mengurus rumah tangga. Sayangnya, itu semua belum cukup.

Suamiku tak hanya mencaci, memaki dan menganggapku wanita yang tak punya wawasan, tapi juga memperlakukanku bagaikan perempuan hina. Beragam perilaku kasar selalu aku terima. Jika aku tak bisa menjawab pertanyaan soal bisnis, maka dengan tak sabar dia memaki dan melemparkan barang apapun yang ada di dekatku ke mukaku.

Hingga kini, aku sungguh tak berdaya untuk melawan suamiku. Kehadiran kedua anak-anakkulah yang membuatku tetap bertahan hingga kini. Demi kehormatan dan rumah tanggaku dianggapku utuh dan harmonis pula yang membuat aku berusaha untuk bersandiwara kepada kawan-kawanku bahwa aku sangat bahagia. Padahal itu salah.
Advertisement

Post Bottom Ad

Pages