Kebiasaan Tahajud Seorang Composer Musik - Aku Islam

Post Top Ad

Kebiasaan Tahajud Seorang Composer Musik

Kebiasaan Tahajud Seorang Composer Musik

Share This
Advertisement
Kejadian ini terjadi kala saya mulai membiasakan shalat Tahajud. Padahal, jujur saja, sebelumnya jangankan melakukan shalat Tahajud, melakukan shalat wajib yang lima waktu saja saya tidak pernah. Maklum, lingkungan pergaulan saya notabenenya adalah orang-orang yang jauh dari agama.
Shalat Di Pertengahan Malam ( Foto @Source )
Memasuki bulan September tahun 2004, tepatnya satu bulan menjelang Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu seluruh umat Muslim. Sebagai muslim, saya selalu bergembira menyambutnya dengan bulan yang dinanti-nanti itu. Maka tak heran, dari tahun ke tahun, alhamdulillah puasa saya tidak pernah bocor, meski tidak disertai shalatnya.

Namun, pada bulan inilah saya tersadar. Saya mulai mengawali shalat lima waktu yang sudah berpuluh tahun itu saya tinggalkan. Entah ada kekuatan dari mana, tiba-tiba bulan itu menjadi bulan perenungan bagi diri saya.

Saya terus mengevaluasi kembali dosa-dosa yang pernah saya lakukan selama ini. Seperti minum-minum, kenakalan, dan lain sebagainya. Ditambah lagi, jauh sebelum itu, ayah saya memang sudah dijenguk oleh Yang Maha Kuasa.

BACA JUGA YANG INI :


Saya larut dalam sedih dan saat itulah, air mata saya menetes bersaksi pada diri saya sendiri yang selama ini berselimut dosa. Akhirnya, saya memutuskan shalat lima waktu dan, Alhamdulillah, hingga saat ini, Insya Allah, saya tidak akan meninggalkan kewajiban yang lima waktu itu lagi. Pada bulan inilah, saya juga mulai membiasakan shalat sunnah Tahajud.

Namun aneh, ketika pertama kali mencoba shalat Tahajud, ada satu ketakutan yang sangat luar biasa. Tangan saya merinding, sebelah kanan badan saya terasa berat, seperti ada sesuatu yang erat mendekap. Entah apa. yang jelas, saya terus beristigfar memohon ampunan kepada Allah swt. sambil sesekali diiringi doa minta keselamatan dan minta diberi rezeki. Hal itu saya lakukan dengan rutinnya dalam beberapa bulan. Termasuk juga shalat Dhuhanya. Sepertinya, tiada malam tanpa Tahajud.

Setelah dua minggu setelah lebaran, ada seorang produser (rekan saya) "Restu Record" dari Loksukon, Aceh Utara menelepon saya, ia meminta 4 lagu Slow Rock (maaf, dalam hal ini, kebetulan saya seorang komposer atau pencipta lagu) ciptaan saya. Ia pun membayarnya dalam jumlah jutaan.

Ya Allah, saya gembira sekali dan bersyukur kepada-Nya. Saat itu, saya memang sedang membutuhkan uang untuk membayar hutang. Saya menangis terharu dan, sekali lagi, berterima kasih kepada Allah.

Ternyata, doa saya didengar meski hamba-Nya yang satu ini banyak balutan dosa. Demikian sepenggal kisah kecil saya. Semoga bermanfaat dan berguna untuk yang membacanya.
Advertisement

Post Bottom Ad

Pages