Kebahagiaan Mukmin Fitri - Aku Islam

Post Top Ad

Kebahagiaan Mukmin Fitri

Kebahagiaan Mukmin Fitri

Share This
Advertisement
Rasulullah Saw.: "Sesungguhnya menyenangkan orang mukmin itu! Segalanya serba baik..." 
(HR. Imam Bukhari).
Ilustrasi Kebahagiaan Seorang Mukmin Yang Fitri ( Foto @Source )
Mukmin kaffah adalah kualitas yang mesti diraih setiap muslim beriman. Kualitas itu, pada hari-hari ini, semakin terasa penting untuk segera dimiliki penduduk negeri ini. Karena seperti dikatakan Nabi dalam hadits sahih di atas, seorang mukmin adalah individu yang menyenangkan, yang membuat setiap kondisi menjadi serba baik, serba menenangkan.

Di tengah kondisi negeri yang susah, di antara kondisi alam yang rusak, dan di saat masa depan masih menjadi tanda tanya bagi banyak penghuni bangsa ini - yang membuat banyak orang bingung, takut, putus asa, dan tak lagi mengindahkan ukuran-ukuran kebijaksanaan dalam menyikapinya, kita perlu mukmin yang disebut Nabi diatas, tak hanya sebagai kualitas yang ada di sekitar kita tapi juga di dalam diri kita sendiri.

Nabi mencontohkan seperti apa mukmin yang ia maksud dalam lanjutan hadits tersebut. "Segalanya serba baik, dan yang demikian tidak dimiliki orang lain kecuali oleh orang mukmin. Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur dan jika dia mendapat kesengsaraan dia bersabar, sehingga apa yang dihadapinya selalu mendatangkan kebaikan baginya," ujar Nabi Saw.

Apa dan bagaimana pun hal yang mengarah pada diri sang mukmin, yang ia pantulkan hanya satu : kebaikan. Subahanallah.

Karenanya, wajar  jika kegembiraan adalah perasaan yang hinggap di dada seorang mukmin setiap kali ia berada di bulan Ramadhan. Ramadhan adalah kondisi spesial yang membuat kualitas seorang mukmin di tambah dan diteguhkan keindahannya. Mukmin yang imannya berkurang bisa di infus kembali, sedang yang sudah baik dapat bertambah baik lagi.

Tak heran karena pada Ramadhan-lah, rahmat, maghfirah, dan perlindungan Allah dari siksa neraka yang telah Dia tetapkan pada hamba-Nya yang ingkar dan lalai, itu dihamparkan. Dan setelah takbir digemakan sebagai tanda berakhirnya Ramadhan tahun ini, sang mukmin mendapat gelar tambahan, yakni fitri. Ia mukmin yang memantulkan segala yang menghampirinya sebagai kebaikan dan ia suci, bersih, dalam keadaan asalnya yang menghadapkan wajahnya lurus kepada agama Allah.

Kualitas mukmin yang fitri inilah yang membuat takbir dikumandangkan sebagai sebuah rasa syukur yang dalam. Takbir itu bersahut-sahutan seakan mengabarkan keseluruh penghuni bumi bahwa banyak mukmin yang telah meraih kembali kenyamanan fitrahnya.

Kegembiraan batin ini diikuti dengan kegembiraan lahir. Kita diwajibkan berbuka, tak boleh berpuasa, dan membayarkan zakat fitrah agar kaum fakir dan miskin juga dapat bergembira dengan makanan dan pakaian layak.

Orang-orang dianjurkan menuju tanah lapang, bertakbir dan melaksanakan shalat berjamaah, tak terkecuali anak-anak dan wanita yang tengah haid, sekalipun mereka tak shalat. Di pagi idul Fitri, kegembiraan wajib disebarkan ke arah mana saja yang mungkin dapat dilakukan.

SARANA MENUJU ALLAH

Di luar kualitas mukmin dan fitrah itu, ada satu hal lain yang menjadi pijakan kebahagian yakni hubungan keluarga yang diperbaharui dan disegarkan. Allah telah menciptakan satu makhluk sebagai sarana hubungan kekerabatan itu, yakni Rahim. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari yang dilontarkan Abu Hurairah, Nabi Saw bercerita.

Sesaat setelah Allah yang Maha Tinggi dan Agung menciptakan semua makhluk, Rahim berdiri dan berkata, "Inilah pijakan orang yang berlindung dan terputusnya hubungan kerabat," ujarnya.

Allah menjawab, "Ya"

Lalu, masih menurut cerita Nabi Saw, giliran Allah Swt yang berfirman, "Tidakkah kau rela bahwa aku dekat dengan orang yang menyambungmu dan aku putus dari orang yang memutusmu?"

Rahim menjawab, "Tentu"

Yang demikian, lalu menjadi ketetapan dalam diri Rahim, sejenis kantung di dalam tubuh perempuan tempat janin tumbuh sampai akhirnya dilahirkan. Siapa yang menyambung (silat) rahim, dalam arti menjalin hubungan baik dengan keluarga dan kerabatnya, maka dia berada dekat dengan Allah. Siapa yang terputus dari rahim, maka terputus juga hubungannya dengan Allah.

Maka demikianlah, Mukmin, fitri dan memperbaharui silaturahmi, ada tiga hal yang menjadi sebab segala hal menjadi baik dan indah. Darinya lahir tiga hal yang mengisi detik demi detik di hari raya dan detik-detik hidup setelahnya. Pertama, kebahagiaan; Kedua, kebahagiaan; dan ketiga, kebahagiaan.
Advertisement

Post Bottom Ad

Pages