Belajar Menghargai Waktu - Aku Islam

Post Top Ad

Belajar Menghargai Waktu

Belajar Menghargai Waktu

Share This
Advertisement
Kesuksesan manusia dalam hal dunia dan akhirat akan terlihat dari sejauh mana ia menghargai waktu. Waktu yang terus berjalan tersebut, hendaknya kita gunakan untuk ibadah. Janganlah menunda, karena menunda waktu adalah ciri-ciri orang merugi.
Waktu ( Foto @Source )
Saudaraku yang dirahmati Allah, salah satu kunci kesuksesan seseorang di dunia dan akhirat adalah menghargai waktu. Waktu terus bergulir dan berganti tiada henti. Jika manusia tidak menggunakan setiap waktu tersebut, ia akan rugi, sebab banyak membuang kesempatan untuk melakukan sesuatu.

Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita sebagai manusia yang tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu.

SIFAT MENUNDA

Dalam QS Al Ashar, Allah menegaskan bahwa orang yang rugi bukanlah yang kehilangan uang, jabatan, maupun nama besar. Namun orang yang rugi tersebut adalah orang yang membuang-buang kesempatan untuk bermain, beramal dan saling menasihati.

Saudaraku yang dirahmati Allah, tidak sedikit dalam diri manusia ada sikap meremehkan waktu. Ketika mendengar azan salat, sebagian dari kita masih terlihat santai untuk menyelesaikan pekerjaannya. Padahal, keutamaan menuniakan shalat di awal waktu sangat dianjurkan.

Ada dua hal yang menyebabkan manusia cenderung menunda beribadah. pertama, ia tertipu oleh dunia. Ia merasa ada hal lain yang jauh berharga daripada beribadah. Orang yang lebih mementingkan kehidupan duniawi adalah bagian dari orang kafir. Allah berfirman, "Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal," (QS Al Alaa : 16-17).

Ibadah bisa diartikan secara luas. Seseorang yang bekerja dengan niat mencukupi kebutuhan rumah tangga juga bisa diartikan ibadah. Karenanya menunda-nunda pekerjaan juga termasuk orang yang merugil.

Yang kedua, karena tertipu kemalasan. Malas merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Orang malas tidak akan pernah meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Tidak ada obat paling manjut untuk mengobati kemalasan selain mendobraknya dengan mempertebal niat dan bersemangat untuk beribadah. Seseorang yang niatnya lemah, maka ia cenderung menunda.

Malas itu bisa di ibaratkan seperti keimanan kita yang ada kalanya meningkat atau menurun. Tapi jika dilatih terus menerus dan teratur, keimanan itu bisa meningkat atau setidaknya tidak menurun. Begitu pula dengan malas, dengan cara teratur diikuti konsisten kita mengerjakan metode atau cara mengatasi rasa malas, insya Allah rasa malas bisa diatasi dan ada kemungkinan berubah menjadi rajin.

ORANG YANG BERTAKWA

Saudaraku yang dirahmati Allah, sifat menunda melakukan ibadah juga menjadi salah satu faktor terhalangnya rahmad dan rezeki dari Allah. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Sebagai seorang hamba, kita wajib untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Nah, jika kita selalu menunda-nunda waktu untuk beribadah, rezeki dari Allah akan tersendat-sendat.

Allah dengan tegas berjanji dalam firmannya. "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhynya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu," (QS Ath Thalaaq: 3).

Saudaraku yang dirahmati Allah, rasulullah dalam sebuah hadis yang sangat populer telah memperingatkan kita agar mempergunakan waktu yang lima sebelum datang yang lima. Yakni, masa muda sebelum tua, waktu longgar sebelum sibuk, kaya sebelum miskin, sehat sebelum sakit, dan hidup sebelum datang kematian.

Semoga kita senantiasa diberikan kesadaran untuk mempergunakan waktu dengan beribadah. Sehingga termasuk hamba-Nya yang tidak merugi. Wallahu A'lam.
Advertisement

Post Bottom Ad

Pages