Kisah Ibrahim Dan Ismail Membangun Ka'bah - Aku Islam

Post Top Ad

Kisah Ibrahim Dan Ismail Membangun Ka'bah

Kisah Ibrahim Dan Ismail Membangun Ka'bah

Share This
Advertisement
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah beserta Isma'il (seraya berdo'a): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. al-Baqarah : 127).

Ka'bah ( Foto @Source )

Sejarah mencatat, topan besar dan bah yang terjadi pada zaman Nabi Nuh ternyata menenggelamkan segala di permukaan bumi bahkan Ka'bah pun rusak. Kendati demikian, bangunan Ka'bah itu masih mengundang daya tarik. Setelah topan dahsyat itu mereda, maka orang-orang yang beriman kembali mengunjungi Ka'bah untuk melaksanakan ibadah.

Atas perintah Allah SWT, akhirnya, pada zaman Nabi Ibrahim, bangunan Ka'bah itu dibangun kembali. Hal ini pun didahului dengan suatu peristiwa yang unik. 

Dapat diceritakan, peristiwa unik itu sebagai prolog dari pembangunan (kembali) Ka'bah. Karena sebelum pembangunan (kembali) Ka'bah itu, Allah memerintahkan nabi Ibrahim untuk membawa istrinya, Siti Hajar ke tempat yang cukup jauh dari kota Qan'an, tempat tinggal Nabi Ibrahim.

TAK DISIA-SIAKAN ALLAH

Di tempat yang jauh itulah, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar di padang yang tandus. Setelah Hajar dan Isma'il ditinggalkan Nabi Ibrahim, Hajar lantas duduk menyusui Isma'il. Hari panas, rasa haus menyertai penat. Hajar memakan kurma, lalu meminum air (dari tempat air) yang ditinggalkan nabi Ibrahim.

Tetapi kurma dan air itu terbatas. Saat sudah habis, Hajar dibuat bingung. Isma'il pun mulai kehausan. Terik mentari kian membuat Hajar dan Ismail ditikam dahaga yang membuat tenggorokan kering. Hajar tak tega melihat Ismail. Saat memandang sekitar, Hajar mendapati Shafa gunung paling dekat dengannya dan segera berlari ke gunung Shafa. Tapi di atas gunung itu ia tidak mendapati seseorang yang bisa dimintai pertolongan.

Hajar pun turun dari Shafa. Saat tiba di lembah, Hajar mengangkat ujung pakaiannya, berlari dengan lelah hingga melewati lembah dan tiba di Marwa. Ia berdiri di atas gunung Marwa, melihat ke sekitar tetapi tak melihat seseorang. Hajar berlari dari Shafa dan Marwa sampai tujuh kali. Ketika Hajar berada di atas Marwa lagi, dia mendengar suara. Lalu dia berkata, "Diamlah". Dia mendengar suara itu, lalu mencari sumber suara seraya berkat, "Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan?"

Saat Hajar kembali ke tempat bayinya, ternyata ia melihat keajaiban. Ia menjumpai air (dikenal air zam-zam) memancar. Ia mengisi tempat airnya yang kosong. Setelah ia mengisinya, ternyata air itu teta mengalir. Hajar meminum air tersebut dan kemudian menyusui bayinya.

Malaikat lantas berkata pada Hajar, "Janganlah kamu takut disia-siakan. karena disini akan dibangun sebuah rumah oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya"

MEMPERKOKOH PEGANGAN PINTU

Di tempat itu, Hajar dan Ismail hidup. Setelah beberapa waktu, datang rombongan suku Jurhum yang meminta izin kepada Hajar tinggal di sekitar air zam-zam. Akhirnya, tempat itu pun memancarkan kehidupan. ismail beranjak dewasa dan menikah dengan seorang wanita dari kelompok itu. Hajar pun kian tua dan akhirnya meninggal dunia.

Setelah lama berlalu, nabi Ibrahim datang menjenguk Ismail tapi hanya menjumpai istri Ismail saja. Lalu, nabi Ibrahim bertanya kepada wanita tersebut, "Ke manakah Ismail pergi?"      

Istrinya menjawab, "Dia sedang mencari nafkah untuk kami."

Lalu, nabi Ibrahim bertanya keadaan mereka. Istri Ismail bercerita, "Kami dalam kondisi yang jelek dan hidup dalam kesempitan dan kemiskinan.

Jawaban wanita itu, membuat nabi Ibrahim bisa menyimpulkan tentang karakternya. Maka, sebelum pulang, nabi Ibrahim menyampaikan salam pada Ismail dan berpesan agar Ismail mengganti pegangan pintunya.

Setelah Ismail kembali, istrinya bercerita peristiwa itu dan menyampaikan pesar Nabi Ibrahim. Saat mendengar pesan itu, Ismail berkata, "Itu tadi ayahku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah pada orang tuamu."

Setelah menceraikan istrinya, Ismail menikah lagi dengan seorang wanita yang masih berasal dari Bani Jurhum. Waktu berlalu pun, nabi Ibrahim kembali mengunjungi Ismail. Tapi Ismail tak ada di rumah, sehingga nabi Ibrahim hanya bertemu dengan istri Ismail yang baru, Ibrahim lalu bertanya, keberadaan Ismail.

Istri Ismail yang baru itu menjawab bahwa Ismail sedang mencari nafkah. Lantas nabi Ibrahim bertanya tentang keadaan mereka. Wanita itu menjawab keadaan mereka baik-baik saja dan berkecukupan, sambil memuji asma Allah.

Nabi Ibrahim bertanya, "Bagaimana makanan dan minuman kalian?"

Wanita itu menjawab, "Kami makan daging dan minum air.

"Ya Allah berkatilah mereka dengan daging dan air." doa nabi Ibrahim. Dan setelah itu, Nabi Ibrahim pergi. Tetapi sebelum pergi, dia berpesan kepada wanita itu agar nabi Ismail memperkokoh pegangan pintunya.

Setelah tiba di rumah Ismail bertanya pada istrinya, "Adakah tadi orang yang bertamu?"

"Ada! Dia seorang tua yang berpenampilan bagus." Jawab istrinya dan ia memuji nabi Ibrahim. "Ia bertanya padaku tentang dirimu, maka aku jelaskan keadaanmu. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, dan aku jawab bahwa kehidupan kita baik-baik saja," lanjur istri Ismail.

Ismail lalu bertanya, "APakah dia berpesan tentang sesuatu padamu?"

"Ya. Ia menyampaikan salam padamu dan menyuruhku mengokohkan pegangan pintumu?"

"Itu adalah ayahku dan engkau adalah pegangan pintu tersebut. Beliau menyuruhku untuk tetap menikahimu (menjagamu)/"

DATANG PERINTAH DARI ALLAH

Waktu pun berlalu. hingga suatu saat, nabi Ibrahim kembali mengunjungi Ismail. Saat mengunjungi ismail itu, Nabi Ibrahim melihat ismail sedang berada di bawah pohon, menajamkan anak panah. ismail menyambut dengan ramah dan keduanya melepas rindu, karena sudah lama tak bertemu. 

Tetapi karena kedatangan nabi Ibrahim kali ini membawa perintah Allah (lihat QS. al-Baqarah: 125_, maka nabi Ibrahim menjelaskan, "Wahai Ismail..., Allah telah memberikan perintah kepadaku."

Ismail berkata, "Kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu."

"Apakah engkau mau membantuku?" tanya nabi Ibrahim

Ismail menjawab, "Aku akan membantumu".

Nabi Ibrahim lantas menunjuk ke arah tumpukan tanah yang telah tinggi dari tanah sekitar dan berkata, "Allah telah memerintahkan untuk membangun sebuah rumah disini!"

Akhirnya, ayah dan anak itu pun bekerja meninggikan fondasi Baitullah. Ismail mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya. Keduanya bekerja dengan keras, seakan tidak mengenal lelah. Setelah bangunan itu tinggi, ismail membawa sebuah batu untuk jadi pijakan bagi Nabi Ibrahim. Batu itulah yang kemudian disebut sebagai maqam (tempat berdiri) nabi Ibrahim. 

Keduanya terus bekerja seraya berdoa seperti diceritakan al-Qur'an, "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah beserta Isma'il (seraya berdo'a) : "Ya Tuhan kami terimalah daripada (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui;." (QS. al-Baqarah 127).

Akhirnya, pembangunan baitullah selesai. Tentu Ka'bah yang dibangun oleh nabi Ibrahim itu tak seperti sekarang, karena waktu itu belum beratap, tidak ada kiswah (penutup) maupun aksesoris-aksesoris yang menghiasai Ka'bah.

KAPAN KA'BAH DIBANGUN?

Dalam al-Qur'an dan hadits, tidak dijumpai secara eksplisit petunjuk yang menyatakan siapa dan kapan Ka'bah dibangun pertama kali kecuali dikatakan Ka'bah itu ditinggikan oleh nabi Ibrahim bersama Isma'il (QS. al-Baqarah: 127).

Pendapat yang menyatakan bahwa Ka'bah atau Baitullah sudah ada sebelum Ibrahim meninggalkan Gajar dan Ismail di padang pasir dekat Bakkah berdasarkah (QS Ibrahim: 37, ketika Nabi Ibrahim memanjatkan doa, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan agar mereka bersykur".

Tetapi berdasarkan ayat diatas, ada juga ulama dan mufasir yang justru berpendapat bahwa yang mendirikan Ka'bah adalah nabi Ibrahim dan Ismail karena diyakini, nabi Ibrahim meninggalkan Hajar bersama puteranya Ismail di tempat yang di atasnya akan dibangun Ka'bah. Adapun dalam menafsirkan QS al-Baqarah 27, saat meninggalkan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama ismail, nabi Ibrahim berdo'a kepada Allah SWT. agar menerima amalan mereka berdua, yakni membangun Ka'bah itu.

Tapi, pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengatakan Ka'bah sudah berdiri sebelum zaman nabi Ibrahim.
Advertisement

Post Bottom Ad

Pages