Penguasa Zalim Diazab Gila Sampai Mati

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Jabatan merupakan amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Namun hal itu tidak dijalankan oleh Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi sewaktu menjabat sebagai panglima perang Bani Umayyah. Puncaknya ia telah menzalimi seorang ulama hingga ulama itu dihukum mati. Akibatnya, Hajjaj menjadi gila dan tak lama kemudian ia mati mengenaskan.

Di dalam kitab Al Ulama' fii Wajhit Tughyan dijelaskan bahwa Jajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi merupakan panglima perang paling kejam dari Bani Umayyah. Ia telah membunuh 120 ribu nyawa. Selanjutnya, ia ingin mengeksekusi seorang ulama besar tabi'in yang terkenal zuhud dan tak takut mati, yakni Sa'id bin Jabir.

Ilustrasi ( Foto @Hijaz.ID )

Hajjal pun merekayasa sebuah persidangan untuk bisa membuktikan bahwa Sa'id pantas dihukumi mati. Maka ditangkaplah Sa'id dengan tuduhan pemberontakan dan dibawa ke persidangan.

"Siapa namamu?" ujar Hajjaj di persidangan itu.

"Sa'id bin Jubair." jawab Ulama tersebut.

MENGHUKUM ULAMA

"Tidak. Namamu adalah Syaqiy bin Kusair," timpal Hajjaj bermaksud merendahkan. Syaqiy bin Kusair artinya adalah orang celaka anak orang rusak. Maknanya adalah kebalikan dari Sa'id bin Jubair yang berarti orang bahagia putra orang yang membetulkan hal-hal rusak.

"Ayahku tentu lebih tahu namaku daripada dirimu," jawab tenang Sa'id bin Jubair ini membuat kondisi Hajjaj terbalik. Bukannya merasa berhasil merendahkan, ia malah terasa disindir bodoh.

"Kamu celaka, ayahmu juga celaka." Hajjaj mulai marah.

"Hal yang belum terjadi tak mungkin engkau mengetahui. Sebab hanya Allah yang Maha Mengetahui," jawab Sa'id bin Jubair.

"Kalau begitu, aku akan mengganti siksaan untukmu dengan api yang berkobar-kobar" ancamnya.

"Seandainya aku percaya bahwa api itu milikmu, tentu aku tidak akan meyembah tuhan selainmu." timpal Sa'id bin Jubair.

Hajjaj semakin marah dan mencari cara bagaimana agar Sa'id bisa dijebak dengan pertanyaannya.

"Bagaimana pendapatmu tentang Ali, apakah ia masuk surga atau neraka?" Hajjaj adalah panglima perang yang tunduk pada para khalifah Bani Marwan, bagian dari kekhalifahan Bani Umayyah. 

Di zaman itu, sosok Ali adalah fenomena tersendiri yang menjadi diskusi kontroversial bagi penguasa dan rakyatnya. Hajjaj berhadap Sa'id terjebak dengan pertanyaan ini dan kemudian ia segera bisa dieksekusi. Namun, ia sangat marah dengan jawaban yang membuatnya kalah telak.

"Jika engkau masuk surga, pasti engkau akan tahu siapa saja orang-orang yang masuk surga" jawab Sa'id, membuat darah Hajjaj makin mendidih.

"Bagaimana pendapatmu tentang para Khalifah?" tanya Hajjaj lagi.

"Aku tidak berwenang menilai mereka." begitu jawaban diplomatis Sa'id.

MATI MENGENASKAN

Ini makin membuat Hajjaj geram. Akhirnya, meskipun tidak ada kesimpulan tegas bahwa Sa'id bersalah. Hajjaj tetap mengeksekusinya.

"Pilih cara pembunuhan apa yang kamu inginkan dariku?" kata Hajjaj.

"Justru engkaulah yang harus memilih untuk dirimu sendiri wahai musuh Allah. Demi Allah, jika engkau hari ini membunuhku dengan suatu cara, aku akan membunuhmu dengan cara yang sama di akhirat nanti."

Ulama yang mulia ini kemudian digiring ke tempat eksekusi. Di sana ia dihukum mati. Namun sebelum menghadap Allah, ia sempat berdoa, "Ya Allah, jangan berikan kesempatan Hajjaj untuk menghukum seorang pun setelah kematianku."

Doa itu langsung diijabah oleh Allah. Tak lama kemudian, Hajjaj dihantui ketakutan hingga menjadi gila. Hajjaj jadi sering berteriak tidak jelas, "Wahai orang-orang, ada apa dengan Sa'id bin Jubair? Mengapa setiap kali aku akan tidur, Sa'id mencengkeram tenggorokanku?"

Akhirnya, 15 hari setelah wafatnya Sa'id, Hajjaj pun meninggal. Ia mati dalam kondisi terhina seperti matinya orang gila.