Teladan Islami Bulan Madu

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ilustrasi Pasangan Suami Istri Muslim Yang Sedang berbulan Madu ( Foto @U-Report )
Bagi pengantin baru, bulan madu merupakan saat yang ditunggu-tunggu. Yaitu, kesempatan bagi kedua mempelai untuk saling mencurahkan kasih sayang dalam kondisi lebih privat. Hebatnya, Rasulullah telah memberikan tuntunan untuk hal satu ini.

Kedua mempelai yang baru saja disahkan di hadapan penghulu, selalu mendambakan waktu yang lebih spesial untuk mereka berdua. Biasanya untuk mendapatkan waktu privat yang tidak dapat diganggu oleh orang lain, mereka lebih memilih tempat khusus.

Seperti booking hotel atau tempat-tempat pariwisata yang menyajikan alam yang indah. Sehingga, dapat menyempurnakan keindahan perasaan mereka berdua. Seperti daerah pantai, pegunungan, maupun kota-kota bersejarah yang memiliki sisi pariwisata lainnya.

Hal ini tentu tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Asalkan apa yang dilakukan tidak bersifat pemborosan dan berlebihan. karena, perbuatan berlebihan jelas tidak disukai oleh Allah dan rasul-Nya.

Rasulullah sendiri untuk lebih mengakrabkan diri dengan istri-istrinya dilakukan dalam berbagai cara. Salah satunya dengan cara bercanda. Pernah suatu kali Rasulullah bermain boneka dengan Aisyah. Dalam suatgu waktu-beliau pun pernah berkejar-kejaran dengan tawa dan canda penuh keakraban.

Bulan madu biasanya diharapkan kedua pasangan dapat memiliki keturunan. Karena itu harus diperhatikan cara-cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

BERPAHALA

Berhubungan suami-istri merupakan bagian dari ibadah. Karena, jika dilakukan mendapatkan pahala. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang bagaimana mereka berpahala saat melampiaskan syahwat. Rasulullah pun menjawab, "Bukankah kalau ia meletakkan (syahwatnya) di tempat yang haram tidakkah ia berdosa? Demikian pula kalau ia meletakkan (syahwatnya) pada jalan yang halal, maka ia mendapat pahala," HR Muslim.

RAYUAN

Sebelum melakukan making love Rasulullah mengajarkan untuk melakukan foreplay terlebih dulu. Dengan cara, bercanda yang dibumbui dengan cumbuan sehingga hasrat keduanya bisa muncul. Rasulullah Saw bersabda: "Segala sesuatu selain dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal: Yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (memanah), dan seorang yang berlatih renang," (HR An Nasai).

KAIN PENUTUP

Ketika hendak melakukan making love, hindari dalam kondisi telanjang. Gunakan selembar kain untuk menutupi tubuh mempelai. "Apabila di antara kamu mencampuri istrinya, hendaklah ia menutupi dirinya dan menutupi istrinya dan janganlah keduanya (suami-istri) bertelanjang bulat seperti keledai," (HR Tabrani).

DOA

"Bismillah. Allahumma jan-nibnaash syaithaa-na wa janni-bish syaithaa-na ma razaqta-naa". Artinya, Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami berdua (suami-istri) dari gangguan setan serta jauhkan pula setan itu dari apa saja yang Ngkau rezekikan kepada kami.

Kemudian ketika akan keluar air mani, katakan dalam hati tanpa menggerakkan kedua bibir kalimat, "Alhamdulillahil ladzii khalaqa minal maa'i basyara". Artinya, "Segala pujian hanya untuk Allah yang menciptakan manusia dari pada air".

BELUM TUNTAS

Saat berhubungan, hendaknya suami memperhatikan kondisi istrinya. Jangan sampai menghentikan ketika hajat istri belum terpenuhi. Hal ini seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Addi.

BERBAGAI ARAH

Seorang suami diperbolehkan mendatangi istrinya melalui berbagai arah. Asalkan yang dituju adalah faraj. "Istri-istri kamu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu dari arah mana saja yang kamu sukai," (QS Al Baqarah: 223).

Sebaliknya, suami dilarang keras menggauli istrinya melalui lubang dubur. "Terkutuklah orang yang menyetubuhi istri di duburnya," (HR Abu Dawud dan An Nasa'i dari Abu Hurairah).

KONDISI SUCI

Yang harus diperhatikan oleh suami-istri yang ingin melakukan hubungan intim adalah, memastikan bahwa istri dalam kondisi suci artinya tidak sedang haid. Karena ketika haid, haram hukumnya suami menggauli istrinya. "Katakanlah. Haid itu adalah kotoran (penyakit). Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri," (QS Al Baqarah: 222).