Bertobat, Mati Dikelilingi Bidadari - Aku Islam

Post Top Ad

Bertobat, Mati Dikelilingi Bidadari

Bertobat, Mati Dikelilingi Bidadari

Share This
Advertisement
Akibat punya perilaku buruk, Shahib diusir dari daerahnya. Ia pun tinggal di gunung gersang, merasakan penderitaannya. Di sanalah ia bertobat dan berdoa pada Allah. Akhirnya, dosa-dosanya pun diampuni. Ia mati dikelilingi bidadari.

Pada zaman Nabi Musa AS, ada seorang laki-laki zalim dan durhaka. Ia bernama Shahib dari Bani Israil. Karena sering membuat masalah, tentu saja penduduk sekitar tempat tinggalnya tidak suka kepada Shabib. Akhirnya, orang-orang kampung sepakat meminta untuk Shahib segera meninggalkan kampungnya.

"Lebih baik kamu keluar dari kampung sini, karena dosa kamu terhadap penduduk sudah tidak bisa dihitung lagi," kata tetuah kampung setempat yang bernama Husein.
Ilustrasi Padang Pasir Panas Tempat Kematian Shahib ( Foto @Pinterest )

Namun, Shahib tidak mau pindah juga. Tak lama kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Musa AS. Allah mengabarkan perihal di atas. Nabi Musa pun mendatangi lelaki itu dan juga turut mengusirnya dari desa tersebut. Laki-laki durhaka itupun angkat kaki dari desanya.

Tak lama kemudian, Shahib mengemasi barang dan pakaiannya. Ia meninggalkan rumahnya. Dalam perjalanan ia berpikir, daripada pindah jauh lebih baik pindah ke kampung sebelahnya. Akhirnya, Shahib menetap di desa dekat kampungnya dulu.

Setelah tinggal beberapa hari di tempat yang baru itu, Allah mewahyukan lagi kepada Nabi Musa AS agar mengusir Shahib dari desa tadi.

Mendengar Shahib masih dekat dengan tempat tinggalnya dulu, akhirnya Nabi Musa mendatangi Shahib, apalagi Musa telah mendapat wahyu dari Allah, supaya mengusir laki-laki itu. "Wahai Shahib, kamu jangan bertempat tinggal di sini lagi. Pergilah yang jauh dari sini," seru Nabi Musa.

DIUSIR LAGI

Nampaknya, pengusiran kali ke duanya ini membuat Shahib sakit hati. Shahib pun keluar lagi dari desa tersebut. Ia berjalan tanpa arah. Karena pikirannya sudah kacau lagi pusing, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke sebuah gurun gersang. Di tempat tersebut tidak ada orang tinggal sehingga tidak mungkin ia diusir lagi dari situ.

"Kalau begitu, aku akan berdiam di sini saja selamanya. Di gurun gersang seperti ini aku yakin tidak ada orang yang mengusir aku lagi. Dan, aku juga senang bertempat tinggal di sini," katanya dalam hati.

Tak lama setelah bertempat tinggal di gurun gersang, ia jatuh sakit, karena kekurangan makan. Sakitnya kian hari kian parah. Ia tergeletak tak berdaya di atas pasir panas. Penderitaan memang tak tertahankan lagi baginya. Karena tidak ada yang dmintai pertolongan, akhirnya Shahib mengadu dan mengeluh meratapi nasibnya.

"Wahai Tuhan, andai aku dalam pengkuan ibu, maka pastilah ia menyayangiku, ia akan menangisi atas kehinaanku ini. Andaikala ayahku di sisiku, pastilah ia akan menolongku, memandiklanku, mengkafaniku. Andai kata istriku ada di sisiku, pastilah ia menbangisi kepergianku. Andaikata anak-anakku ada di sini, pastilah mereka akan menangisi di belakangku dan berdoa, 'Ya Allah, ampunilah orang tuaku yang asing, lemah, suka maksiat, fasik yang diusir dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga terdampar di gurun yang gersang ini. Ia mati menuju akhirat dalam keadaan putus asa kepada semuanya, kecuali kepada rahmat Allah.'

"Ya, Allah, Jika Engkau putuskan aku dari ibuku, anak-anakku, istriku, maka jangan Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Hatiku terbakar karena berpisah dari mereka, maka jangan Engkau bakar aku dengan api-Mu karena maksiatku."

BIDADARI

Subhanallah, Allah pun mengirimkan bidadari-bidadari yang menyerupai ayahnya, ibunya, istrinya, dan anak-anaknya. Mereka semua duduk mengelilingi Shahib dan meratapinya. Ia pun menjadi tenang, karena seakan-akan ia dikelilingi oleh ibunya, istrinya, anak-anaknya dan ayahnya.

"Ya Allah. Jangan Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu."

Lantas, Shahib wafat dengan tenang, Ia menghadap Allah dalam keadaan bersih, karena dosanya terampuni. Allah menurunkan wahyu ke Musa, "Hai Musa, pergilah ke gurun. Di sana ada salah seorang waliku wafat. mandikan, kafani, salati dia."

Karena mendapat perintah dari Allah, maka Nabi Musa pun segera datang ke tempat yang dimaksud. Betapa kagetnya ia ketika menemukan orang yang disebut Allah sebagai wali-Nya itu adalah lelaki yang ia usir justru atas perintah Allah. Musa melihat ada bidadari di sisi mayat lelaki itu sedang menangisinya. "Wahai Tuhan, bukankah ini pemuda fasik yang kuusir atas perintah-Mu?"

"Benar, ya Musa. Aku merahmatinya. Aku ampuni dosanya karena keluhnya waktu sakit, yaitu karena perpisahannya dengan kampung halamannya, orang tua, anak-anak dan istrinya. Kukirim bidadari seperti ibunya, dan malaikat seperti ayahnya. Juga karena rahmat-Ku, di mana ia telah terhinda dalam keasingan. Jika orang terasing mati, menangislah penghuni bumi dan langit karena rasa kasihan, Aku juga kasihan padanya. Aku adalah zat yang Mahakasih Mahasayang.
Advertisement

Post Bottom Ad

Pages