Tak Dijawabkah Doa Saya...?

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
AkuIslam.Id - "...Dan aku akan berdoa pada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dalam berdoa kepada Tuhanku." (Nabi Ibrahim as. dalam QS. Maryam ayat 48).

Ilustrasi

Berdoa dan kecewa merupakan hal yang sering bertemu dalam diri manusia. Saat seseorang membuka tangannya mengadukan kesulitan, penderitaan dan kebuntuan hidup pada sang Khalik, saat itu pula ia berharap sesuatu akan datang menghilangkan kesulitannya itu.

Jika "sesuatu" itu dirasa tak kunjung datang, maka orang itu akan bertanya-tanya, tak dijawabkah doa saya? Adakah  sesuatu yang menghalanginya? Atau memang doa saya sama-sekali tidak didengar?

Tak jarang, pertanyaan - pertanyaan seperti inilah yang kemudian menghadirkan kekecewaan dalam diri seseorang. Ia mulai berputus asa, dan berprasangka tidak baik pada-Nya. Kondisi lanjutan dari ini adalah mengendurnya iman hingga setan bisa masuk dan membisikkan hal-hal tak baik agar orang itu berhenti berdoa dan mengambil jalan lain untuk menyelesaikan kesulitan.

Sering kita mendengar kalimat menghibur dari teman atau kerabat jika kita mengadukan permasalahan ini. 'Barangkali Tuhan ada rencana lain,' 'Barangkali belum datang saja pertolongan itu,' atau 'Barangkali kamu kurang yakin dan khusyuk dalam berdoa.' Seringkali hati malah lebih gundah mendapatkan nasehat itu. Seringkali pula dalam kondisi ini kita mempertanyakan kembali untuk apa doa itu? Kenapa kita mesti berdoa?

Kita tahu, doa adalah permohonan pada-Nya. Surat Mukmin ayat 60 menyebut bahwa doa itu berada dalam konsep yang sangat sederhana dan mudah. "Berdoalah pada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan," kata Allah dalam firman-Nya.

Jadi kita tinggal memohon apa pun yang kita inginkan dan Dia akan memperkenankan permohonan itu. Tak ada kata-kata bersayap dalam kalimat ini, karenanya kita dapat langsung menarik kesimpulan bahwa bila seseorang berdoa maka doa itu pasti diperkenankan-Nya. Mafhumnya pula, tk ada doa yang tak didengar dan tak diperhatikan-Nya karena Dia adalah Zat yang mendengar dan selalu memelihara hamba-Nya. Asal seseorang hamba memohon, maka permohonan itu akan dikabulkan-Nya. Demikian kaidah dasar yangd igariskan al-Qur'an.

Manusia mesti berdoa karena manusia lemah dan fakir. Orang yang tengah mengalami kesulitan akan sangat tahu keadaan ini karena ia merasakannya. Tak ada manusia di dunia yang tak mengalami kesulitan, tak ada manusia yang kebal penyakit. Bahkan hanya dengan sebuah virus yang tak terlihat pun manusia bisa binasa. Manusia lemah dan fakit karena tak ada manusia yang dapat meraih seluruh kekayaan dunia dan tak ada manusia yang dapat menguasai ilmu yang dapat menyelesaikan semua persoalan dunia.

Kondisi inilah yang membuat terang keadaan hamba dan keadaan Tuhannya. Dengan berdoa, kondisi kehambaan dan ketuhanan menjadi sangat logis dan masuk akal. Dapat dimengerti pula kenapa kita dianjurkan terus menerus berdoa, tak hanya karena hal ini diperintahkan-Nya, tapi karena manusia memang terus-menerus fakir dan lemah dari lahir sampai wafatnya.

Lalu kenapa masih ditemui orang berdoa dan doanya seperti tidak terkabul? Inilah barangkali hal yang perlu kita renungkan. Nabi Muhammad Saw menyebut doa merupakan inti ibadah. Di setiap ibadah ada permohonan pada-Nya. Ibadah sendiri selamanya adalah media agar hamba dapat dekat dengan-Nya dan terhubung baik secara lahir maupun batin dengan Tuhannya. Dan tak ada ukuran bagaimana kedalaman hubungan itu karena masing-masing orang berbeda-beda dalam menjalin hubungan itu dengan Allah SWT.

Doa menjadi ukuran, apakah Allah mengindahkan makhluk-Nya atau tidak. Orang yang tak berdoa tak akan diindahkan-Nya (QS. Al-Furqon: 77). Doa juga menjadi ukuran kedinamisan dan 'hidup'nya hubungan itu. Iyyaka na'budu wa iyyaka nastain dalam al-Fatihah menjadi buktinya. Iyyaka na'budu, hanya kepada Allah kita menyembah, adalah arah hamba menuju Tuhannya, dan sebaliknya iyyaka nastain, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan, adalah arah Allah menemui hamba-Nya.

Dalam konteks hubungan inilah kita dapat meraba kondisi doa kita pada-Nya yang juga berarti meraba kondisi doa kita pada-Nya yang juga berarti meraba kondisi hubungan kita dengan-Nya. Semua hubungan manusia dan Tuhannya terhubung dengan keikhlasan dan keimanan sebagai inti dari hubungan itu. Setiap doa pasti dikabulkan, rapi jika ia seperti ditunda maka berarti kita mesti meraba ke ikhlasan kita dalam bermohon dan berhubungan dengan-Nya. Dan jawab atas doa itu yang jika dirasa tidak sesuai denganpermintaan kita adalah sinyal untuk meraba lagi keimanan kita atas keberadaan dan takdir-Nya. Keikhlasan dan keimanan inilah modal besar manusia bertemu Tuhannya di hari akhir kelak. Tanpa dua hal itu, manusia sungguh tak berharga.

Itulah barangkali yang membuat Nabi Ibrahim as. Ingin agar tidak pernah kecewa dalam berdoa karena ia ingin menjadi hamba yang ikhlas bagi Tuhannya yang pemurah. Ini pulalah barangkali yang membuat Nabi Zakaria as. Mendapatkan karunia besar saat ia memohonkan dikaruniai anak, padahal ia sendiri merasa permohonannya tak akan mungkin terwujud mengingat ia sangat tua dan beristri mandul. Dalam kondisi mustahil, Allah memberinya anak karena ia adalah hamba-Nya yang tak pernah putus berdoa guna menjalin hubungan baik dengan-Nya dan satu kalipun ia tak pernah kecewa dalam berdoa kepada Rabb-nya. Wallahu A'lam.