Geser Arah Kiblat Pakai Surban!

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
AkuIslam.Id - Syekh Arsyad Al Banjary bukan ulama sembarangan. Puluhan tahun ia mengaji di Tanah Suci. Beragam disiplin ilmu agama ia kuasai. Terbukti, karya - karyanya mulai ilmu fikih, tauhid hingga waris telah di lahirkan. Bahkan ia pun punya karomah menggeser arah kiblat masjid dengan memakai surban.

Syekh Arsyad Al-Banjary, Kalimantan Selatan ( Foto @GusNuril.com )

Kemasyuran para ulama Indonesia terdahulu tidak diragukan lagi. Tak hanya Syekh Nawawi Al Bantani dari Tanara, Serang, Banten. Di Kalimantan Selatan pun ada ulama tersohor, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan.

Ulama yang tersohor di Abad ke-18 M itu lahir pada 15 syafar 1122 H/ Maret 1710 M di kampung Lok Gabang Martapura, Kalimantan Selatan. ia adalah putra dari pasangan Abdullah bin Abddurrahman dan Siti Aminah. Dari silsilahnya mempunyai nama lengkap Syekh Muhammad ARsyad bin Abdullah bin Abdurrahman Al Banjari. Sang ayah juga dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan alim.

Maka tidak mengherankan jika sejak kecil, Muhammad Arsyad tumbuh dan besar dalam suasana ke-Islaman yang kental di bawah pemerintahan kerajaan Islam Banjar. Terbukti, sejak berusia 7 tahun, Muhammad Arsyad kecil sudah fasih dan sempurna dalam membaca Alquran.

Tak hanya itu, ia punya bakat melukis yang akhirnya menarik perhatian Sultan Banjar kala itu, yakni Sultan Tahlilullah. Muhammad Arsyad kecil pun di boyong ke istana. Di sana, ia hidup dalam lingkungan bangsawan, namun tetap memperdalam ilmu Agama.

MENGAJI KE TANAH SUCI

Waktu terus berlalu, Muhammad Arsyad yang sudah semakin dewasa dan berilmu pun berkeluarga. Di usia yang ke-30 tahun, ia diberangkatkan ke tanah suci Makkah untuk mengaji, yakni memperdalam ilmu Agama.

Di Tanah Suci dia belajar kepada beberapa ulama terkenal dan wali pada jamannya. Tak tanggung - tanggung, lebih dari 30 tahun Syekh Muhammad Arsyad belajar di Tanah Suci. Berbagai bidang ilmu agama sudah dikuasai. Rasa hausnya akan ilmu sempat membuatnya untuk berkelana dan ngaji di Mesir. Namun atas nasihat dan perintah gurunya, ia dan beberapa kawan sejawatnya kala itu akhirnya pulang ke Indonesia.

Syekh Muhammad Arsyad pun kembali ke Jakarta. Selama di Jakarta, berkat karomah yang dia miliki, dia dapat membetulkan arah kiblat masjid yang kurang tepat. Di antaranya masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Masjid Pekojan.

Caranya, membetulkan arah kiblat pun cukup aneh, Setelah shalat Sunah, ia hanya menggeserkan surbannya. Aneh bin ajaib, bangunan masjid tersebut mengiringi geseran sorban.

Itulah salah satu karomah Syekh Arsyad. Selanjutnya, ia pulang ke Martapura. Sebagai ulama tersohor, karya - kara Syekh Aryad pun cukup banyak. Mulai dari kitab fikih, tauhid hingga waris. Beberapa karyanya antara lain, kitab Sabilal Muhtadin (kitab fikih), Risalah Ushuluddin (kitab tauhid), Kanzul Ma'rifah (tasawuf), Kitab Faraid (kitab pembagian waris), Kitab Ilmu Falak (astronomi), dan lainnya.