Cara Cerdik Sengketa Bayi

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
AkuIslam.Id - Setelah berhari - hari sengketa bayi tidak menemukan jalan keluar, Raja Harun Al Rasyid menyerahkan masalah itu pada Abu Nawas. Dengan cerdik, Abu Nawas pun mengambil keputusan yang tepat. Seperti apa putusan itu?

Ilustrasi

Keberadaan Abu Nawas selalu menjadi harapan Raja Harun Ar Rasyid untuk mengatasi berbagai permasalahan. Sebab, pria yang satu itu sudah tidak asing lagi baginya sebagai orang yang cerdik dalam mengatasi berbagai masalah. Itu sebabnya Raja Harun Arrasyid selalu memanggil dirinya untuk turut serta dalam menyikapi masalah-masalah yang dihadapi.

Kali ini, kebijaksanaan Abu Nawas benar-benar diuji. Suatu ketika, Raja Harun Arrasyid memanggilnya ke istana Raja tengah dibingungkan oleh dua perempuan yang bersengketa terhadap seorang bayi mungil. 

Sang raja telah berupaya segala langkah damai, tapi selalu gagal. Kedua perempuan itu tetap mati-matian saling mengakui sebagai pemilik absah sang bayi.

Akibatnya, sengketa bayi itu pun berlangsung hingga berhari-hari. Merasa kehabisan ide dengan sengketa itu, sang raja pun memanggil Abu Nawas untuk meminta pertolongan. Sebab, biasanya dari pikiran Abu Nawas selalu keluar ide-ide gila yang tak terpikirkan oleh banyak orang untuk menyelesaikan sebuah persoalan.

DIPERCAYA RAJA

Tak lama kemudian, datanglah Abu Nawas ke istana. Sang raja tampaknya lebih mempercayai Abu Nawas daripada hakim untuk urusan ini. Kedua perempuan dihadapkan ke persidangan. Sementara Abu Nawas berperan sebagai hakim. Namun, setelah persidangan berjalan, Abu Nawas tidak langsung memberikan keputusan solusi saat itu juga.

Keesokan harinya, Abu Nawas mencetuskan ide yang cemerlang. Saat sidang dilanjutkan di hari kedua, semua hadirin, termasuk Raja, menyakini Abu Nawas yang dikenal cerdik dan pandai itu dapat menyelesaikan kasus tersebut. 

Kedua perempuan yang mengaku sebagai pemilik bayi dan juga yang hadir di persidangan itu menunggu keputusan akhirnya dan tidak sedikit dari mereka mulai bertanya-tanya siapa yang akan dimenangkan dalam persidangan tersebut.

Benar saja, Abu Nawas pun mengeluarkan keputusan yang 'gila'. Keputusan Abu Nawas membuat semua hadirin yang datang, termasuk sang raja, tercengang. Tiba-tiba saja ia memerintahkan algojo untuk membelah dua bayi mungil itu dengan pedang. Sontak dua perempuan itu terkejut dan marah. Mereka bertanya, apa yang akan dilakukan Abu Nawas terhadap bayi yang tidak berdosa.

"Sebelum saya mengambil tindakan, apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?" tegas Abu Nawas di hadapan mereka.

MEMBELAH DUA

"Tidak, bayi itu adalah anakku," teriak kedua perempuan itu. Dua perempuan itu masih belum ada yang bersedia mengalah meski algojo sudah mengeluarkan pedangnya. Sikap keras kepada dua perempuan itu memaksa Abu Nawas untuk memutuskan membelah bayi itu menjadi dua. Sebagian untuk perempuan yang pertama, sebagian lain untuk perempuan kedua.

"Jangan, tolong jangan belah bayi itu. Biarlah, aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu," pinta perempuan kedua dengan suara setengah berteriak.

Sementara perempuan pertama tak berkata kecuali hanya diam dan tercengang. Mendengar pernyataan itu, Abu Nawas tersenyum lega. Dengan segera dia menyerahkan bayi itu kepada perempuan kedua yang memohon tadi. Sebab, menurut Abu Nawas, tidak ada satu orang pun ibu yang tega anaknya disembelih. Seorang ibu lebih memilih dirinya menderita daripada anaknya sendiri.