Bijaksana Menghadapi Pengkhianat

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
AkuIslam.Id - Ismail adalah seorang pemimpin yang jujur dan adil. Suatu saat, ia mendapat kesempatan untuk mengetahui siapa saja yang berkhianat terhadapnya, namun ia tidak mengambil kesempatan itu. Karena kebijakannya tersebut, pengkhianat dalam kelompoknya itu luluh dan mengakui kemudian meminta maaf pada Ismail.

Ilustrasi

Pada zaman dahulu di suatu daerah di tanah Arab, ada dua orang pemimpin yang saling bermusuhan. Kelompok pertama dipimpin oleh Ismail Samani bin Fuad, sedangkan kelompok lain dipimpin oleh Laits Safari bin Thalib. 

Pada suatu hari, kedua kubu itu sedang berperang. Tak disangka, kemenangan akhirnya jatuh pada kubu Ismail Samani bin Fuad. Seperti tradisi terdahulu, siapa yang menang berhak mendapat harta rampasan dari musuh.

Saat berjalan di tempat musuh, salah satu tentara Ismail menemukan sebuah kantong bersegel. Mereka meyakini berisi surat - surat dari orang - orang dekat Ismail Samani, yang membelot dan berkhianat kepada Laits Safari. Kantong itu, segera mereka berikan kepada Ismail.

SURAT RAHASIA

Saat menerima kantong tersebut, terbesit keinginan di hati Ismail untuk membuka kantong itu. Dengan begitu dia dapat membaca isi surat - surat itu, dan mengetahui siapa saja tentaranya yang menjadi pengkhianat. Namun, saat hendak membukanya, Ismail mengurungkan niatnya.

"Jika aku membaca surat-surat itu, aku yakin sikapku terhadap orang-orang terdekatku akan berubah dan itu akan berdampak buruk bagi pasukanku," kata Ismail dalam hati.

Tidak hanya itu, Ismail juga merasa khawatir, jika orang-orang terdekatnya itu tahu kalau dia mengetahui pengkhianatannya, mereka akan takut dan akan bangkit melawannya. Sehingga, ia khawatir api perang saudara akan berkobar. Ismail tidak menginginkan hal tersebut. Maka, dia mengambil keputusan lain.

"Tolong kumpulkan orang-orang dekatku," perintah Ismail pada bawahannya.

Selang tak berapa lama kemudian, seluruh orang - orang dekatnya telah berkumpul.

"Kalian semua, lihatlah apa yang aku pegang ini," kata Ismail sambil mengangkat tangannya yang menenteng sebuah kantong bersegel tersebut ke hadapan mereka.

Nampak wajah - wajah tegang menghiasai raut muka pasukannya. Beberapa dari orang yang hadir menunjukkan wajah yang pucat pasi, mereka takut pengkhianatan mereka diketahui Ismail.

MEMINTA MAAF

Setelah itu mereka melihat Ismail berdiri tegap di hadapan tentaranya. Dan dengan lantang dia berkata, "Kantong berisi surat - surat yang ditulis sekelompok orang dari kita kepada Laits untuk meminta perlindungan darinya. Jika kubuka segel ini, niscaya aku akan mengetahui siapa saja di antara kalian yang telah berkhianat padaku."

Semua mata tentara Ismail menatap tajam pada pimpinannya. Sebagian merasa tegang, dan sebagian lainnya merasa was-was. Bahkan, ada yang ketakutan.

"Kini, lihatlah apa yang akan aku lakukan pada segel ini," kata Ismail.

"Baiklah, patut kalian ketahui bahwa aku tidak tahu siapa saja yang telah menulis surat ini, namun siapapun dia, perlu kalian ketahui aku telah memaafkannya," lanjut Ismail berteriak dengan lantang.

"Sekarang bakarlah kantong ini biar semuanya hilang dan musnah dan kita bisa menjalin lagi kehidupan seperti semula di kelompok kita," sambungnya.

Bawahan itu pun menuruti perintah Ismail. Diterimanya kantong itu. Sesaat kemudian dinyalakannya api. dan perlahan - lahan terlihat api itu membakar kantong bersegel itu berikut surat yang ada di dalamnya mulai dari ujung hingga ke pangkalnya. Dan akhirnya habis tanpa tersisa sedikitpun.

"Sungguh mulia hatinya," demikian terdengar bisikan di antara kerumunan orang - orang yang menyaksikan itu.

Dengan kejadian itu, akhirnya orang - orang dekat ismail yang berkhianat merasa gembira dan bersyukur melihat kebesaran hati pemimpinnya itu. Tak lama kemudian, beberapa tentara yang pernah berkhianat kepada Ismail mendatangi pemimpinnya yang sedang duduk di singgasana kerajaan, untuk meminta ampunan. ismail menerima permintaan maaf mereka dengan lapang dada.