Nasihat Nabi Obati Sakit Hati

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
AkuIslam.Id - Dalam menjalin interaksi dengan rekan kerja, sahabat, bahkan keluarga tak jarang menusuk hati kita. Jika rasa itu dibiarkan, bukan tidak mungkin sakit hati menghinggapi jiwa kita. Untuk itu baginda Rasul memberikan nasihat supaya sakit hati itu segera terobati.

Ilustrasi Pesan Rasulullah Untuk Obati Sakit Hati ( Foto @Islamoformation.com )

Dalam kehidupan ini tentu kita tidak bisa lepas dari interkasi dengan sesama manusia. Dalam perjalanan interaksi tersebut tentu saja sangat mungkin memunculkan perbedaan, beda pandangan atau pemikiran. Jika perbedaan itu tidak segera disikapi dengan baik, lambat laun akan mengkristal menjadi kebencian yang berujung pada lukanya hati. Mari kita renungkan nasihat Rasulullah Saw sebagai bagian dari upaya meneladani akhlak beliau.

MELIHAT DIRI SENDIRI

Sakit hati itu muncul bisa jadi karena kita lebih dulu menyalahkan orang lain dan menganggap diri kita di pihak yang benar. Padahal, tidak menutup kemungkinan apa yang diutarakan orang lain tentang kita ada kaitannya dengan kesalahan yang kita lakukan.

Untuk itulah Baginda Nabi Mengingatkan agar kita pandai - pandai mengoreksi diri sendiri, yakni bermuhasabah akan kesalahan diri kita sendiri. Dari Syadad bin Aus Ra, dari Rasulullah Saw bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan - angan terhadap Allah SWT," (HR Tirmizi).

Jika kita menapaki pesan Rasulullah tersebut Insya Allah kita tidak serta merta menyalahkan orang lain. Sebaliknya kita akan lebih dahulu bertanya pada diri sendiri, mengapa orang lain kita bersikap demikian kepada kita. Jika bisa seperti itu, hati kita akan lapang dan bahagia.

BERPIKIR POSITIF

Formula berikutnya untuk mengobati sakit hati adalah berbaik sangka, yakni husnuzon terhadap setiap apa yang kita terima, kita dengar, kita rasakan dari orang lain. Sebaliknya sebisa mungkin kita menjauhi buruk sangka. Sebagaimana Rasulullah Saw. "Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta," (HR Muttafaqun Alaihi).

Kalau sudah demikian kita tidak serta merta menerima setiap yang kita dengar sebelum memastikan kebenarannya.

MEMBERI MAAF

Sifat ini tiada duanya sebagai bagian dari akhlak Rasulullah Saw. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda, "Musa bin Imran As, berkata, 'Wahai Tuhanku, di antara hamba - hamba-Mu, siapakah orang yang paling mulia dalam pandangan-Mu? 'Allah Azza Wajalla menjawab, 'Orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas'," (HR Baihaqi).

Bahkan baginda Rasul menjamin, dengan memaafkan, kita akan menjadi orang yang diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

MENJAGA IKHLAS

Salah satu penyebab mudahnya terjangkit sakit hati adalah kurang menjaga ikhlas dalam beramal. Maka pantas jika para ulama menilah ikhlas mudah diucapkan namun berat diamalkan. Sebab ikhlas itu mencakup aspek hati, sebagaimana digambarakan para ulama bahwa ikhlas melingkupi; pertama, mengkhususkan tujuan semua perbuatan kepada Allah SWT. semata. Pengkhususan ini mengharuskan tujuan perbuatan itu hanya untuk-Nya, bukan yang lain.

Kedua : Ikhlas ialah melupakan pandangan manusia, sehingga kita hanya melihat Sang Pencipta Alam. Orang yang menangis karena takut kepada Allah SWT, memberikan infak atau mengerjakan shalat di tengah ribuan, bahkan jutaan orang akan tetap ikhlas karena tidak menggubris pandangan manusia tadi. Ia hanya melihat pandangan Allah SWT semata. Ketiga, ikhlas diartikan dengan tidak memaksudkan perbuaan agar dilihat orang. 

Insya Allah dengan ikhlas, hati kita tidak akan pernah terpengaruh oleh respon manusia atas apa yang sudah kita lakukan. Rasulullah Saw bersabda, "Allah SWT berfirman, 'Jika hamba-Ku berniat melakukan suatu amal keburukan, maka janganlah kalian (para malaikat) mencatat kesalahannya hingga dia mengerjakannya. Jika ia telah melaku-kannya, tulislah semisal perbuatannya. Dan jika ia meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka tulislah bagiannya 1 kebaikan. Dan jika hamba-Ku berniat melakukan suatu amal kebaikan namun belum baginya dikerjakannya, maka tulsilah satu 1 kebaikan. Adapun jika ia telah melakukan, maka tulislah baginya 10 kebaikan, hingga 700 kali lipat'," (HR Imam Al Bukhari).