Demi Islam, Rela Menjanda

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
AkuIslam.Id - Demi iman Islam, Ummu Habibah rela menjanda karena suami pertamanya murtad. Keteguhan imannya itu berbuah manis. Suatu malam ia bermimpi dipinang Rasulullah Saw yang akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan.
Ilustrasi ( Foto @U-Report )
Ummu Habibah memiliki nama asli Ramlah binti Abu Sufyan. Ia putrai dari Abu Sufyan yang saat itu sebagai pemuka Quraisy. Meski bapaknya kafir, namun Ummu Habibah memilih Islam. Ia tak perduli paksaan ayahnya agar ia kembali kafir. Ia rela menanggung beban berat dan melelahkan karena memperjuangkan akidahnya. Abu Sufyan akhirnya tak kuasa memaksakan kehendaknya.

Pada mulanya Ummu Habibah menikah dengan seorang muslim, yaitu Ubaidillah bin Jahsy. Tatkala orang - orang kafir berbuat kejam atas orang - orang Islam, Ummu Habibah berhijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Di sanalah ia melahirkan anak perempuan yang diberi nama Habibah sehingga ia dikenal dengan sebutan Ummu Habibah.

JADI JANDA

Awal kehidupan di tempat hijrah itu dialaminya dengan bahagia. Namun, suatu malam ia bermimpi buruk. Dalam mimpi itu ia melihat wajah suaminya menjadi sangat buruk. Ia terperanjat dan bangun, kemudian memohon perlindungan kepada Allah. 

Ternyata tatkala pagi harinya, ia mendapati suaminya telah murtad memeluk agama Nasrani. Ummu Habibah menceritakan mimpinya, tapi suaminya tidak menggubrisnya.

Si Murtad yang celaka ini mencoba membawa istrinya keluar dari Islam. Namun, Ummu Habibah menolaknya. Ia malah justru mengajak suaminya agar tetap memeluk Islam meskipun ajakan itu ditolak. Sang suami akhirnya kian jauh bermaksiat. Ia selalu minum khamr sehingga suatu saat suaminya mati meninggal dunia akibat terlalu banyak minum khamr.

Hari - hari berikutnya di jalani Ummu Habibah dengan sabar karena menjadi seorang janda tanpa seorang pendamping. Dengan keimanan yang tulus, ia mampu menghadapi ujian berat tersebut. Pada suatu malam ia kembali bermimpi aneh. Dalam mimpi itu ia merasa dipinang Rasulullah Saw.

Setelah masa iddahnya, tiba - tiba ada seorang jariyah (budah perempuan) dari Najasyi yang memberitahukan bahwa dirinya telah dipinang oleh Rasulullah Saw. Alangkah bahagianya Ummu Habibah mendengar kabar gembira itu hingga berkata, "Semoga Allah memberikan kabar gembira untukmu."

Kemudian ia menanggalkan perhiasan dan gelang kakinya untuk diberikan kepada jariyah karena sangat senangnya. Maka, akhirnya Ummu Habibah resmi di peristri Rasulullah. Saat itu ia sudah berumur 40 tahun.

ISTRI SETIA

Sebagai seorang istri, Ummu Habibah selalu menempatkan urusan agama di atas segala - galanya. Hal itu dibuktikan dengan sikapnya terhadap ayahnya Abu Sufyan. Saat itu ayahnya masuk ke rumah Ummu Habibah. Abu Sufyan meminta bantuan agar Ummu habibah menjadi perantara antara dirinya dengan Rasulullah Saw untuk memperbaharui perjanjian  Hudaibiyyah yang telah dikhianati orang - orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk di atas tikar Nabi Saw, namun tiba - tiba dilipat oleh Ummu Habibah.

"Wahai putriku, aku tidak tahu, mengapa engkau melarangku duduk di atas tikar itu ?" kata ayahnya heran.

"Ini adalah tikar Rasulullah, sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau duduk di atas tikar Rasulullah," jawab Ummu Habibah.

"Wahai ayah, pemimpin Quraisy, apa yang menghalangimu masuk Islam ? Engkau menyembah batu yang tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar," ucap Ummu Habibah.

Abu Sufyan kemudian pergi dengan marah dan membawa kegagalan. Setelah Rasulullah Saw wafat, Ummu Habibah tetap tinggal di rumahnya. Ia tidak keluar kecuali untuk shalat dan beliau tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji. Ia wafat saat berumur 70 tahun.