Taat Beribadah, Jenazah Dinaungi Awan

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Subhanallah, sunggu indah proses pemakaman Mulyani. Di terik yang panas, awan mendung terus menaungi jenazahnya. Ya, mungkin bisa dibenarkan bahwa kematian Mulyani yang indah ini ada kaitannya dengan amal kebaikan yang dipupuk semasa hidupnya. Di antaranya kedermawanan dan taat ibadah.

Allahu Akbar... Allahu Akbar.. " Kalimat takbir menggema di setiap sudut desa Tjukir, Jombang. Iringian - iringan ratusan pelayat berjalan mengantar jenazah Mulyani ke peristirahatan terakhir. Siang itu sungguh cerah, namun anehnya proses pemakaman Mulyani seakan dinaungi awan mendung.

Ilustrasi ( Foto @U-Report )

"Seperti itulah proses pemakaman Mulyani pada 2005 silam. Sungguh menakjubkan. Sebab, wanita tua ini cukup dikenal baik di masyarakat," tutur Jaenab, warga Surabaya yang dulu sempat menjadi tetangga Mulyani.

Menurut Jaenab, sebelum wafat, Mulyani memang sudah sakit sakitan. Kemungkinan Mulyani sakit karena faktor usia. Menginjak 89 tahun, Mulyani tetap kuat menjalankan ibadah shalat. Namun bukan perkara itu saja kematian indah yang dialami Mulyani. Salah satu yang diketahui Jaenab adalah kedermawanan Mulyani kepada tetangga sekitar yang tidak mampu.

"Mungkin saja Allah meneduhkan jenazahnya dengan dipayungi awan mendung. Padahal siang itu sangat panas," cerita Jaenab.

Sejak dulu memang Mulyani menebar amalan kebaikan di sekitarnya. Meski ia bukanlah keturunan kiai, tapi ia paham betul ajaran Islam. Mulai dari ibadah, sedekah dan yang lainnya, tak pernah telat dilakukannya. Bahkan yang terakhir ibadah haji saja juga dijalankan dengan kondisi sakit. "Iya pas haji dengar kabar kondisinya sudah mulai sakit," imbuh Jaenab.

TEKUN IBADAH

Soal keramahan hati Mulyani tak perlu diragukan. Sifatnya itu membuatnya dihormati dan disegani warga sekitar. Terlebih karena keramahannya, tetangga kanan kiri dianggap seperti saudaranya sendiri.

"Jadi sudah dianggap seperti saudara sendiri. Mungkin karena kebiasaannya yang tersenyum membuat orang lain merasa segan dan menghormati ibu." ujar Kasiman, tetangga sebelahnya.

Terbukti, ketika almarhum menggembuskan nafas terakhir, para tetangganya serentak membantu prosesi pemakaman dan penyalatan jenazah. "Enggak tahu yang melayat dari mana saja. Ramai banget pas pemakaman," tambahnya lagi.

Dituturkan Kasiman, sebelum wafat, Mulyani memang berharap bisa berangkat haji. Namun kabarnya, kata Kasiman, keberangkatannya tertunda akibat kesalahan prosedur. Kemudian juga, Mulyani sempat sakit - sakitan.

"Tapi setahu saya ia akhirnya berangkat tahu depannya lagi," ingat kasiman

Menakjubkannya, Mulyani ini gigih menjalankan ibadah. Biarpun dalam kondisi yang sakit, tapi Mulyani terus mengucap rasa syukur lantaran masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi rumah baitullah. Baginya, menunaikan ibadah haji adalah suatu kewajiban bagi umat Islam yang sudah mampu. Rasa sakit yang mendera tak pernah jadi hambatan sedikitpun bagi Mulyani. Proses haji pun dilakukan dengan lancar tak ada masalah dengan kesehatan tubuhnya. "Alhamdulillah, almarhum ibu saya waktu itu sehat ketika menunaikan ibadah haji," tutur Rahmat putra keduanya.

MENGUCAP SYAHADAT

Tepat sepulang haji, kondisi Mulyani semakin memburuk. Keluarganya pun memaksa untuk dibawa kerumah sakit agar segera diobati. Tubuhnya semakin kurus kering. Guratan raut mukanya semakin terlihat jelas. Tubuhnya mulai ringkih tak seperti sebelumnya. Kendati demikian, shalat tak pernah dilupakannya. Mendekati ajal, wanita tua renta ini semakin tekun dalam ibadah. Lantunan kalimat - kalimat Allah senantiasa selalu keluar dari bibirnya.

Rahmat menceritakan, saat itu dirinya sedang menjaga ibunya ketika di rumah sakit sampai dengan lima hari. Menjelang kematian, ibunya tersebut sempat shalat dan membaca - baca doa. Beberapa hari lamanya, hanya itulah yang selalu dipanjatkan oleh Sulastri. Windi pun mengira apakah sang neneknya itu sudah merasakan bahwa Allah akan mengambil nyawanya. Pasalnya, Mulyani seolah sudah sangat siap menghadapi kematian.

Tak ada rasa ketakutan yang menyelimuti dirinya. Tampak sekali bahwa shalat dan doa - doa yang ia ucapkan menjadi bekal di hari kematiannya. "Nah dua hari sebelum pergi selamanya, ibu mengeluh tenggorokannya sakit. Meski begitu, ia tak pernah telat untuk shalat," ingat Rahmat.

Sehari sebelum meninggal, Mulyani meminta kepada seluruh keluarga untuk berkumpul. Dalam kondisi yang tak kuat lagi, ia meminta maaf kepada semua keluarganya dan para tetangganya. Tangisan pun memecah suasana kala itu. Derai air mata tak mampu terbendung oleh setiap anak - anaknya yang menyaksikan sakaratulmaut dari Mulyani.

"Dalam waktu singkat rumah disesaki banyak orang yang kebanyakan tetangga - tetangga," kata Rahmat.

Sampai akhirnya, Mulyani menghembuskan napas terakhir dengan mengucap kalimat Allah.

"Asyhadu an-laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah," ucap Mulyani di akhir nafasnya.