Dermawan Mati Ketika Bersujud

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Akhir dari kematian seseorang memang merupakan rahasia Allah. Seperti halnya Zubaidah, warga salah satu desa di Kabupaten Pamekasan ini meninggal dunia dalam posisi sujud. Di akhir hidupnya ia memang dikenal sebagai orang yang dermawan.

Ilustrasi ( Foto @sinar.fm )

Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang silam. Kala itu Zubaidah dengan suaminya Moh Halil memang dikenal sebagai orang kaya di lingkungannya. Dia memiliki beberapa usaha dan toko di desanya. Mulai dari usaha penggilingan padi, jual beli jagung, tepung, sampai memiliki sebuah toko klontongan di pasar.

Di samping itu ia juga dikenal sebagai tuan tanah yang memiliki banyak sawah dan ladang, walaupun demikian ia kerap kali menyewa buruh untuk mengurus pertaniannya. Dari hasil usahanya tersebut dia membangun rumah besar dan hidup sejahtera. Ia dan suaminya juga mampu pergi haji ke Tanah Suci Makkah. Saat ibadah haji tersebut ia ditinggal mati suaminya.

Sejak saat itu ia mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Ia jarang ke luar rumah dan menghabiskan waktunya hanya di rumahnya.

Waktu pun terus berjalan, perubahan dalam hidupnya semakin tampak, ibadahnya semakin rutin dan rajin. Dari mulutnya senantiasa keluar kalimat - kalimat zikir baik secara spontanitas ataupun disengaja.

MENINGGAL SUJUD

Hingga pada suatu hari, salah satu keluarga Zubaidah yang kebetulan menginap di rumahnya hendak membangunkan Zubaidah untuk salat Subuh. Namun ketika ia mendapati Zubaidah dalam keadaan sujud, ia mengira Zubaidah sedang salat. Akhirnya ia menunggu Zubaidah sambil duduk di luar kamar Zubaidah.

Beberapa saat kemudian ternyata Zubaidah tidak bangkit - bangkit dari sujudnya. Kemudian keluarganya berusaha untuk membangunkannya dengan memanggil - manggil namanya. "Dah... Zubaidah... !" Serunya kala itu. Namun, Zubaidah tetap tak bergeming.

Akhirnya ia menghampiri Zubaidah dan mengoyang - goyangkan badannya. "Dah, Zubaidah..., seru keluarganya yang berusaha untuk membangunkan Zubaidah. Tapi ketika ia melihat Zubaidah tak bergerak juga, kemudian ia memanggil anak - anak Zubaidah untuk melihat keadaan ibu mereka.

Ketiga anaknya pun datang berhamburan. Kala itu azan Subuh baru saja berkumandang dan zikiran di masjid - masjid masih tampak sayup - sayup terdengar lewat pengeras suara. "Ibu...Ibu...Ibu...!" seru salah satu anak Zubaidah. "Ibu kenapa ?" timpal yang lainnya.

Mereka pun berusaha memeriksa Nadi dan detak jantungnya, keduanya tak ada tanda - tanda kehidupan. "Inalillahi wa inna ilaihi raaji'un," ucap salah satu anaknya. Mendengar kalimat tersebut ketiga anaknya langsung menangis dan memeluk ibunya yang sudah dibaringkan di atas sajadah tempat ia salat.

Untuk memastikan kondisi Zubaidah, anak - anak kemudian memanggil dokter, namun dokter tersebut memastikan bahwa Zubaidah telah meninggal dunia beberapa saat sebelum Subuh. Berita kematian Zubaidah pun cepat menyebar, sehingga dalam waktu sekejap rumahnya telah dipenuhi oleh para pelayat.

Prosesi pengurusan jenazah pun dimulai. Para warga yang ikut memandikan merasa terharu mendengar kematian Zubaidah yang dalam keadaan bersujud. Padahal sebelumnya Zubaidah masih tampak sehat - sehat saja dan tak pernah terdengar menderita penyakit apa - apa.

"Ajal itu di tangan Allah dan Allah yang menentukannya," seru Sutiyah salah satu ponakan Zubaidah.

"Insya Allah ia meninggal dalam keadaan baik," timpal salah satu tetangga almarhum.

RAJIN SEDEKAH

Semasa hidup, awalnya Zubaidah dikenal sebagai orang yang sangat kikir dan pelit, baik kepada anak - anaknya, keluarganya, dan tetangganya. Dia enggan membantu orang lain dan merasa tidak senang jika ada keluarga main kerumahnya. Karena Zubaidah mengira mereka hanya mau minta uang saja.

"Dulu dia itu orangnya pelit, jangankan sama tetangganya, sama anak - anak dan keluarganya saja dia pelit. Dia tidak suka kalau ada keluarganya main ke sana," ujar Hasiyah, salah satu keponakan almarhumah.

Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh suaminya, Moh Halil. Ia dikenal sebagai orang yang sabar, penyantun, orangnya baik dan suka menolong, tapi Zubaidah tidak senang terhadap sikap suaminya yang pemurah tersebut.

Tapi setelah dia ditinggal oleh almarhum suaminya, ia berubah drastis. Sikapnya menjadi santun dan suka membantu orang lain. Di samping itu ia kerap mengundang keluarga untuk datang ke rumahnya, bahkan dia kerap meminta mereka untuk menginap di rumahnya.

"Alhamdulillah..., sekarang tante sudah berubah. Orangnya sudah menjadi baik dan terbuka pada siapa saja. Hal terpenting, sekarang ia menjadi dermawan dan sering bersedekah pada orang - orang," tambah Hasiyah.

Hingga pada suatu ketika dia menyedekahkan sebagian besar hartanya kepada anak - anak yatim dan orang - orang tidak mampu. Sikapnya pun semakin ramah pada setiap orang.

RAJIN SALAT MALAM

Di sisi yang lain, almarhum juga telah meningkatkan ibadahnya. Ia kerap rutin mengaji dan salat malam, padahal sebelumnya ia jarang bahkan nyaris tak pernah melakukan hal itu.

Namun semenjak ia ditinggal mati oleh suaminya, Almarhum sudah mulai melakukan perubahan besar - besaran dalam hidupnya. Perubahan tersebut sangat signifikan ketimbang masa kehidupannya yang dulu.

"Walaupun dia punya musala di rumahnya, dia dulu jarang ikut salat jamaah. Setelah ditinggal mati suaminya dia rutin sekali salat jamaah, bahkan dia juga sering mengundang ustad untuk mengimami di rumahnya," kenang Hasiyah.

Bahkan ketika bulan Ramadan tiba, Zubaidah juga kerap memberikan sarung, baju dan sandal kepada para jamaah yang ikut salat Tarawih dan tadarus di rumahnya.

Perubahaan sikap almarhumah kini memberikan kesan yang mendalam bagi keluarga dan para tetangganya. Walaupun awalnya dikenal sebagai orang kaya yang pelit, namun Allah menunjukkan jalan yang benar baginya sehingga almarhumah bisa bertobat dan merubah sikap sehari - harinya. Hal itulah yang Insya Allah menyebabkan almarhumah meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah.