Pejabat Sakiti Hati Warga, Sekarat Menjerit-Jerit

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Setelah sekian lama bertindak sewenang - wenang terhadap warga, seorang perangkat desa tiba - tiba menderita sakit parah. Menjelang kematiannya, pria yang seringkali meresahkan warga itu terus menjerit - jerit kesakitan hingga dari mulutnya terlontar kata - kata jorok karena tidak sabar. Ia pun meninggal dunia dengan cara mengenaskan.

Ilustrasi ( Foto @Ceramah Bersama )

Tidak seperti kematian seseorang pada umumnya, kematian Karso seakan tidak mendapatkan perhatian yang berarti dari warga di sekitar rumahnya, Meski rasa duka merundung keluarga besarnya, namun hal itu tidak banyak digubris oleh tetangga dan warga sekitar hingga hanya sedikit orang saja yang mau melayat untuk memberi penghormatan terakhir. Padahal, ayah dari seorang anak yang tinggal di daerah madiun ini tidak lain juga adalah seorang pejabat / perangkat desa.

Bagi keluarga Karso sendiri, kenyataan itu bukan yang pertama kalinya terjadi. Saat ia menjalani perawatan di rumah sakit, tak seorang pun dari warganya yang bersedia menjenguk apalagi memberikan bantuan kepadanya.

Malah yang ada adalah buah bibir yang ujung - ujungnya hanya menyimpulkan bahwa Karso adalah seorang perangkat desa yang tidak bertanggung jawab.

Ternyata itulah yang membuat mereka enggan untuk menjenguk dirinya sekalipun ia sedang kritis di rumah sakit. Rasanya sakit hati yang dialami warga seakan tidak bisa terobati dengan penderitaan yang dialami Karso itu. Meski sudah dalam keadaan terbaring kaku, ia tidak mendapatkan perhatian yang berarti dari mereka hingga akhirnya meninggal dunia.

SERING MENYAKITI HATI WARGA

Sebagaimana yang dikemukakan Muzaki, salah seorang tetangga almarhum bahwa pria yang sudah bertahun - tahun menjabat sebagai perangkat desa itu sebelumnya memang dikenal sangat arogan dan seringkali melukai hati warga dengan bertindak sewenang - wenang.

Di samping banyak mengambil hak mereka, ia juga seringkali merusak hubungan keluarga seseorang dengan mengambil istrinya untuk dinikahi.

"Sebagai perangkat desa, ia seringkali menggoda istri orang hingga tidak sedikit dari warga yang menaruh rasa benci kepadanya," jelas Muzaki

Lebih lanjut Muzaki menuturkan bahwa kebiasaan Karso menzalimi warga sudah tidak asing lagi di tengah - tengah mereka. Selain ia sering menggoda istri orang, hak - hak warga juga seringkali tidak dipenuhi. Kalau pun dirinya sempat mendapatkan kritikan pedas, namun hal itu tidaklah berarti apa - apa. yang ada, ia malah bertindak membabi buta. Jabatan dirinya sebagai perangkat desa dijadikan kesempatan untuk bertindak sewenang - wenang, sekalipun tindakannya itu jelas - jelas merugikan banyak orang.

Ironisnya, kebanyakan warga juga tidak berkutik dengan tindakannya. Mereka tampak tidak berani untuk memberikan perlawanan sekalipun dirinya sudah disakiti. Maklum, di tengah - tengah warga, Karso dikenal sebagai lelaki yang begitu keras dan angkuh. Karena itu tidak sembarangan orang yang bisa melawannya. bahkan, sekalipun ia telah merusak hubungan keluarga seseorang dengan menggoda istrinya, ia tidak mendapatkan perlawanan yang berarti.

Meski demikian, peringatan Allah kepada dirinya tetap tidak bisa dihindari dengan cara apapun. Di tengah - tengah kepuasannya melakukan tindakan - tindakan yang tidak manusiawi, tiba - tiba ia menderita sakit parah. Sehari - hari dirinya hanya terbaring kaku tak berdaya. Ruang rumahnya pun seringkali dibuatnya pecah setiap kali ia menjerit - jerit kesakitan.

Keluarganya sendiri dibuat terpana dengan penyakit yang dideritanya itu. Sebab, tanpa diketahui apa yang menjadi penyebabnya, tiba - tiba pria itu jatuh sakit hingga berminggu-minggu dirinya tidak bisa bangun dari ranjang pembaringannya. Perasaan tersiksa pun menghantui hidupnya hingga hal itu membuatnya seringkali tidak sabar untuk segera bangkit.

SAKIT PARAH

Menurut Muzaki, penyakit yang diderita Karso tampak begitu parah. Ia bahkan hampir tidak mengenali orang lain. Kegelisahan pun selalu menyertai hidupnya hingga jeritan sakit yang dirasakannya seringkali memecahkan kesunyian di rumahnya. Tubuhnya yang begitu panas membuatnya seringkali tidak tahan. Tiada waktu tanpa mengeluh hingga tidak jarang dirinya meneteskan air mata kesedihan, namun ia sendiri tidak tahu sampai kapan penderitaan itu akan terus menyelimuti dirinya.

"Ia seringkali menjerit - jerit karena kesakitan hingga akhirnya meninggal dunia," imbuhnya.

Sebelum meninggal, imbuhnya, pria yang sudah tidak asing lagi di mata warga ini sebenarnya sempat dibawah ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dokter. Namun, karena kondisinya yang serba tidak memungkinkan terpaksa ia dibawa pulang. Sebab, selama menjalani perawatan, Karso tampak tidak sabar menghadapi ujian itu hingga dirinya seringkali gelisah dan mencaci maki banyak orang, tidak terkecuali orang yang merawatnya.

"Perkataan jorok terus keluar dari mulutnya dan semua tindakan yang dilakukan untuk dirinya serba salah sehingga keberadaannya seperti orang stres, mungkin karena tidak kuat dengan penderitaaan yang menimpanya," tandasnya.

Dan menjelang kematiannya, lanjut Muzaki, Karso pun tampak seperti orang yang disebut berperang melawan maut. Ia meronta - ronta di ranjang pembaringannya dengan menjerit - jerit seakan dirinya belum siap untuk menghadap sang ilahi. Saking tidak sabarnya untuk tetap bertahan hidup, ia lupa untuk bertobat.

Bahkan, rasa emosi yang terus membara di hatinya membuatnya terus melontarkan kata - kata jorok hingga membuat beberapa orang yang ikut menyaksikan merasa aneh dengan omongannya.

Tak lama kemudian, di tengah - tengah kondisi menjeritnya itu, tiba - tiba ajal telah menjemputnya. Ia meninggal begitu sengsara, sebagaimana dirinya seringkali menyengsarakan banyak orang semasa hidupnya. Kabar kematiannya itu sempat membuat warga bertanya - tanya. Sebab, kejadian yang dialami Karso saat akan mengakhiri hidupnya tidak seperti biasa. ia meninggal begitu tersiksa.