Mantan Pastor Demi Islam Sampai Rela Miskin

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Allah SWT telah berkehendak Richard Haryanto menjadi seorang muslim, meskipun saat itu Richard punya jabatan sebagai pastor di gereja. Demi kebenaran Islam, Richard rela hidup miskin karena semua fasilitas yang dulu diperoleh dari gereja sudah dicabut. Berikut ini kisahnya.

Ilustrasi ( Foto @Ceramah Bersama )

Perkenalkan nama saya Oh Bun Aan. Saya lahir dalam keturunan Cina di Medan, 31 AGustus 1962, anak keenam dari enam bersaudara. Papa saya bernama We Guat Hong dan dibaptis menjadi Martha Wijaya. Lantaran orang tua Katolik, saya juga dibaptis menjadi Richard Haryanto.

Saya sekolah di SD Katolik St Petrus Medan, SMP katolik Budi Murni Medan, dan SMA di SMA Katolik Medan. Selama di SMA, saya terpilih sebagai putra altar di Gereja St Petrus Medan. Tugas - tugas putra altar mengurus kebutuhan misa harian tiap pagi, misa Sabtu dan Minggu serta misa - misa pada hari besar umat Katolik.

Setelah lulus SMA, saya punya cita - cita menjadi seorang pastor. Orang tua bangga dan mendukung. Lalu saya konsultasi di Gereja Paroki St Petrus Medan dan mendapat rekomendasi dari kepastoran St Petrus Medan. Saya berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di Seminari Tinggi di Jakarta. Akhirnya saya dapat menyelesaikan studi sekolah Seminari Tinggi tahun 1983.

PASTOR MUDA

Setelah lulus Seminari Tinggi, saya ditugaskan di Paroki Jetis, Yogyakarta Di sana saya sebagai pastor muda yang bertugas memimpin misa harian tiap pagi dan membantu Romo Mangun Wijaya. Tugas - tugas saya mengatolikkan orang - orang di sekitar Kali Code, Yogyakarta. Banyak orang - orang tertarik masuk Katolik karena kami membagi-bagikan sembako. Dana tersebut semuanya dari Paroki Jetis, Yogya dan bantuan uskup Jakarta serta dari Romawi.

Karena keberhasilan kami dalam rangka memurtadkan orang Islam sekitar Kali Code dan mengajaknya memeluk Katolik, kemudian saya disarankan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada Fakultas Teknik Jurusan Ilmu Komputer atas biaya Paroki Gereja St Petrus dan lulus tahun 1989. Selang satu tahun saya kuliah, orang tua pindah ke Jakarta. Orang tua menghendaki saya kuliah di fakultas ekonomi. Saya tak mau mengecewakan orang tua, saya kuliah lagi di Universitas IKIP Sanata Dharma Yogyakarta di Fakultas Ekonomi Akuntansi dan lulus tahun 1990.

Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan studi di dua universitas yang berbeda. Selama kuliah, saya sering berdiskusi tentang agama dengan teman - teman yang berbeda Agama. Karena waktu itu ada kuliah perbandingan agama dari lima agama. Bermula dari perbandingan agama itu mungkin hidayah saya terima.

Karena kurang peka, pada malam hari saya bermimpi bisa membaca surat Al Ikhlas.

MASUK ISLAM

Memang itu suatu proses awal, keesokan paginya saya bisa baca surat Al Ikhlas. Padahal saya tidak bisa membaca tulisan Arab. Di depan Romo Mangun, saya konsultasikan perihal mimpi saya. Lalu dia menyarankan saya agar retret. Tujuan retret adalah membersihkan pikiran dari hal - hal di luar Katolik serta roh kudus menerangi lagi hati kita.

Kemudian saya juga melakukan retret di Magelang selama tiga bulan. Mungkin karena hidayah itu begitu besar, akhirnyua bertekad untuk masuk Islam. Maka saya pun lari ke Jakarta menuju Masjid Istiqlal. Di masjid itulah saya mengucap dua kalimat Syahadat yang dibimbing oleh Almarhum Kh Zainudin MZ.

Setelah itu saya terus memperdalam agama Islam, sambil ikut berdakwah. Saya juga tekun kuliah sehingga sukses menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi. Keislaman saya terus menguat ketika saya dan keluarga berangkat umrah pada 2009 lalu. Meskipun belum bisa berangkat haji, saya sangat bahagia. Kami bisa tahu Baitullah.

Namun beberapa bulan setelah itu, saya mendapat cobaan dari Allah. Rumah saya yang berada di sekitar waduk Situ Gintung menjadi hancur karena musibah jebolnya waduk tersebut. Semua harta benda ludes terbawa luapan air situ gintung tersebut. Meski sangat sedih, tetapi kami sekeluarga masih bersyukur diberi kesempatan hidup oleh Allah.

Setelah itu kami pindah ke semarang. Di semarang saya mengajar di salah satu SMK negeri. Tak lama menjadi guru, saya diangkat menjadi kepala sekolag. Saya sangat bersyukur.

Tetapi kebahagiaan itu tak lama. Sebab rumah yangga saya diintervensi oleh mertua. Mertua saya masih tidak setuju anaknya saya masukkan Islam. Mertua saya sendiri adalah seorang pendeta. Akhirnya demi keamanan keluarga, saya niatkan untuk berhijrah ke Surabaya.

Di Kota Pahlawan, kami tidak mempunyai keluarga maupun saudara. Di sini saya tinggal di sebuah rumah kontrakan. Untuk menopang kebutuhan, saya hanya hidup dari orang - orang yang butuh jasa servis komputer. Istri saya juga rela bekerja menjual makanan dengan menitipkannya ke warung - warung.

Di Surabaya kami sekeluarga hidup sederhana, namun kami aman, nyaman dan bahagia. Kamir ela hidup miskin demi Islam. Karena yang saya cari di dunia ini bukanlah harta dan tahta, melainkan hanya rida Allah semata.

Semoga kisah dari Richard Haryanto ini bisa menambah Keimanan kita mengenai Agama Islam, dan semoga bisa menjadi Inspirasi dan juga Motivasi, mari dibantu share sebanyak - banyaknya sobat postingan ini.