Kisah Santri Yang Hatinya Tetap Gelisah Meski Sudah Beribadah Puluhan Tahun

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Gara-gara sikap ujub dalam ibadah, seorang santri dari Abu Yazid Al Bustomi merasa tidak tenang. Padahal, santri itu sudah beribadah puluhan tahun, namun hatinya selalu diliputi kegelisahan. Berikut kisahnya.

Ilustrasi Ujub / Menyombongkan DIri Sendiri atau Membanggakan Diri Sendiri ( Foto @Ceramah Bersama )

Ujub merupakan perasaan kagum terhadap diri sendiri yang terbit di hati seseorang yang beranggapan dirinya memiliki sifat yang lebih baik atau sempurna berbanding dengan orang lain. Sifat ujub ini akan menghalangi datangnya rida Allah, sekalipun ia adalah seorang ahli ibadah.

Dalam kitab Tadzkiratul Awliya karangan Fariduddin Attar, diceritakan bahwa di antara orang sufi yang patut diteladani adalah Abu Yazid Al Busthami. Selain seorang sufi, Abu Yazid juga adalah pengajar tasawuf. Dengan ilmu yang dimilikinya, ia mengetahui hati seseorang, terutama terhadap murid - muridnya.

Dijelaskan dalam kitab tersebut bahwa selama hidupnya, Abu Yazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadah mudah terkena penyakit ujub dan takabur. Ujub selalu menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, yaitu dengan belajar menghinakan diri kita.

Di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Santri itu juga menjadi kiai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah memiliki banyak murid, santri tersebut selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesalihannya, seperti baju putih, surban dan wewangian tertentu. Namun, hal itu dilakukan tidak sesuai dengan hati nuraninya, yakni semata - mata untuk beribadah kepada Allah.

MEMUJI DIRI SENDIRI

Dijelaskan dalam kitab itu, suatu saat, santri tersebut mengadu kepada Abu Yazid. Ia merasa gelisah sekalipun dirinya sudah bertahun - tahun beribadah, namun tetap saja tidak menemukan ketenangan dan ketenteraman dalam hidupnya secara rohani. "Tuan Guru, saya sudah beribadah tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman rohani seperti yang Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apapun yang Tuan Guru gambarkan," ujarnya.

"Sekiranya kau beribadah selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu," jawab Abu Yazid.

"Mengapa demikian ?," tanya balik murid itu tampak bingung.

"Karena kau tertutup oleh dirimua sendiri," jawab Abu Yazid.

"Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap ?" pinta sang murid.

"Bisa, tapi kau takkan melakukannya," ucap Abu Yazid.

"Tentu saja akan aku lakukan," sanggah murid itu.

"Baiklah kalau begitu, sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang - camping, Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak - anak kecil di sana. Kemudian katakan pada mereka bahwa barang siapa yang mau menamparmu satu kali, maka kamu akan memberikan satu kantung kacang kepada si penampar itu".

Abu Yazid melanjutkan, "Lalu datangilah tempat di mana jamaahmu sering mengagumimu dan katakan juga pada mereka barang siapa yang mau menampar mukamu, maka kamu juga akan memberinya satu kantung kacang".

Mendapatkan pernyataan itu, murid Abu Yazid tersebut tampak tertegun. Ia merasa begitu sulit perintah itu untuk dilakukan.

"Subhanallah, masya Allah, laailaaha illallah," Ucap Murid itu terkejut.

"Jika kalimat - kalimat suci itu diucapkan oleh seorang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi, kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir," tegas Abu Yazid yang kian membuat muridnya itu keheranan.

MENGHALANGI RIDA ALLAH

"Mengapa bisa begitu wahai guruku ?" tanyanya masih penasaran.

"Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan, Tuhan Mahasuci, seakan - akan kau menyucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu," jawab Abu Yazid

Murid itu kembali diam seribu bahasa. Ia keheranan terhadap jawaban Abu Yazid yang tampak mengetahui isi hatinya. Abu Yazid mengatakan bahwa ketidakmampuan seseorang merasakan ketenangan rohani dalam beribadah karena dalam diri orang itu masih terdapat sifat ujub.

Imam Sufyan Ats-Tsauri mengatakan bahwa sifat ujub adalah kekagumanmu pada dirimu sendiri sehingga kamu merasa bahwa kamu lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya daripada saudara kamu. Sedangkan boleh jadi kamu tidak beramal dengan benar seperti dia yang tulus amalnya.