Kisah Jenazah Si Kikir Susah Diangkat

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Sifat kikir yang dimiliki Ina, membuat dirinya semakin jauh dari Agama. Bahkan, ucapannya semakin kasar, suka mengumpat orang tuanya sendiri. Di akhir hayatnya, jenazah Ina tidak bisa diangkat sedikitpun. Nauzubillahi min zalik.

Ilustrasi ( Foto @Ceramah Bersama )

Kehidupan yang serba kecukupan tak membuat Ina memiliki rasa kedermawanan sedikitpun. Rasa ketakutan kehilangan hartanya semata - mata malah memupuk kikir dalam dirinya. Warga asal Jakarta Pusat, itu memang memiliki kekayaan yang terbilang fantastis. Sayang, dalam benak Ina tak menaruh rasa simpati atau iba sedikitpun kepada sesama umat yang membutuhkan.

Siang itu, seperti biasanya, Ina berangkat membuka toko emas di daerah Pasar Baru. Ia lantas mengenakan pakaian mewah dengan mobil kelas atas pula. Sampai di toko emasnya, Ina pun menyuruh para pegawainya untuk membersihkan toko. Sayang, bukan seperti seorang majikan yang santun kepada para bawahannya ketika menyuruh. Suara lantang dan ketus selalu keluar dari bibir Ina.

"Rika ! Cepet kamu bersihkan meja - meja itu dengan bersih. Jangan malas ! Sudah miskin, malas - malasan !" begitulah umpatan Ina yang kelewat batas.

SUKA MENGHINA

Rika, salah satu karyawan Ina, sebenarnya tak merasa sakit hati ketika disuruh Sang majikannya untuk membersihkan perabotan toko. Hanya saja, ketika Ina menyuruh itu selalu saja keluar umpatan dan hinaan kepada karyawannya. Mungkin jika karyawannya sendiri sudah terbiasa dengan keadaan itu. Tapi, bagaimana dengan pengunjung yang kebetulan lewat di depan tokonya ? Tentu pengunjung akan berpikir bahwa Ina itu bukanlah majikan yang baik.

Kalimat ejekan, olokan, dan hinaan, seolah sudah menjadi kebiasaan Ina sehari - hari. Menurut Rika, tiada bedanya antara Ina dan sang suami. Keduanya memiliki kesamaan yang persis, yakni suka menghina. Parahnya lagi, Ina itu dikenal sangat pelit sekali. Sifat kikirnya sedikitpun tidak terkikis. Kekayaan harta yang bergelimang malah membuatnya semakin sombong dan pelit. "Bukan bermaksud menjelekkan almarhum Ina, tapi memang itulah kenyataan yang pernah saya alami. Sifat kikirnya itu dibawah almarhumah sampai mati," tutur Rika menghela napas panjang.

Ina adalah seorang wanita yang memiliki anak tiga. Ia meninggal di usia 55 tahun. Suaminya adalah pengusaha sukses. Usaha toko emas yang dijalankan sekitar 12 tahun mengalami kemajuan pesat. Entah apa yang merasuki kehidupan Ina ini hingga membuatnya dikenal sebagai wanita kikir. Rika berkisah, pada suatu hari, tepat saat toko ramai pengunjung, datanglah seorang pengemis menuju toko. "Bu, mohon sedekahnya," begitulah kata pengemis kala itu.

"Eh lu pengemis ! Masih muda udah jadi pengemis ! Pergi sono, jangan ngemis di toko gue ! Malah ngedatengin sial aje !" ujar Rika menirukan Ina yang saat itu membentak si pengemis sambil menuding - nuding muka pengemis.

Jika dilihat memang si pengemis tersebut masih kelihatan muda. Kendati demikian, sungguh tak pantas ucapan Ina itu. Jangankan memberikan sedekah, sepeser pun saja tak keluar dari kantong Ina. Tadinya Rika mengira jika majikannya itu kebetulan tidak memberi sedekah lantaran karena si pengemis masih terlihat muda. Tapi, ketika Rika melihat sendiri orang tua Ina yang meminta bantuan kepada majikannya itu, barulah Rika menyadari bahwa Ina memang memiliki sifat kikir. Untuk memberikan bantuan kepada ibunya saja tidak mau, apalagi memberikan sedekah kepada orang lain.

"Jadi, saat orang tua ibu Ina itu meminta sedikit uang untuk dibelanjakan keperluan rumah tangga, malah dibentak dan disuruh pulang. Keterlaluan sekali Ina itu," terang Rika mengenang.

DIDOAKAN

Sejak kematian Ina, sifat kikirnya menjadi pergunjingan warga sekitar. Tabiat buruk dari Ina disinggung warga menjadi penyebab kematian tak wajar yang menimpanya. Anehnya, Ina sebelumnya tak pernah mengidap penyakit apapun. Entah karena keluarganya yang enggan bercerita karena malu atau memang benar - benar tidak terkena penyakit. Dari beberapa sumber yang ditemui, ada beberapa orang yang menyebutkan bahwa Ina terkena santet oleh saingan bisnisnya. Tanda - tanda itu bisa dilihat dari keanehan penyakitnya. Namun, ada juga yang menyebutkan jika Ismail meninggal karena sifatnya yang pelit.

Yang membuat warga merasa heran adalah keranda jenazah Ina tidak bisa diangkat sedikit pun. Pagi itu, beberapa keluarga dan para warga tengah bersiap untuk membawa jenazah Ina menuju tempat pemakaman.

"Setelah hitungan ketiga, kita angkat bersama ya, Bapak-bapak," ucap seorang warga.

"Satu, dua, tiga angkat !" timpal warga yang lain.

"Waduh, saya nggak kuat, Pak" keluh warga sambil memegangi bahunya yang ikut mengangkat jenazah Ina.

"Saya juga nggak kuat !" timpal warga lain.

Rupanya hampir semua warga mengeluh sakit bahunya ketika mengangkat keranda jenazah Ina. Sungguh aneh memang, keranda yang hanya berisi jenazah seorang wanita tak bisa diangkat sekitar delapan orang. Beberapa waktu lamanya, warga masih terus mencoba untuk mengangkat jenazah Ina, tapi tetap saja tak bisa diangkat. Pihak keluarga menjadi kebingungan karena hari semakin siang. Sementara itu langit menjadi gelap dan turun hujan. Seorang ustad sekitar kampung dipanggil untuk mendoakan jenazah Ina agar bisa diangkat kembali. Alhamdulillah, akhirnya jenazah Ina mampu diangkat menuju pemakaman.