Dihina Dan Disakiti, Nabi Tak Sakit Hati

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Kita tentu pernah merasa disakiti orang lain. Rasa marah, benci dan sakit hati mungkin tersisa di hati. Tapi, bukankah Rasulullah Saw telah memberi contoh, betapa sang Nabi tak pernah sakit hati, bahkan membalasnya dengan akhlak dan baiknya budi pekerti.

Ilustrasi

Ujian demi ujian menghantam perjuangan Rasulullah Saw dalam menegakkan Islam saat itu. Ketika Baginda Nabi Muhammad Saw dihina, di hadapannya langsung, beliau tidak pernah marah. Lebih istimewa lagi, hinaan itu dibalas dengan kebaikan.

Seperti dituturkan oleh Abu Bakar Ash-Shidiq. Suatu ketika, .... Ia bertanya kepada anaknya, Aisyah Ra yang juga merupakan istri Nabi Saw. "Wahai anakku, apa kira - kira amal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw ketika masih hidup, tapi belum aku kerjakan ?"

Aisyah Ra menjawab, "Rasulullah Saw selalu memberi makan kepada seorang Yahudi buta di pojok sudut pasar."

Tidak menunggu waktu lama, maka Abu Bakar Ra pun menghampirinya. Sambil mengeluarkan roti, Abu Bakar Ra mendekati perempuan buta Yahudi itu. Benar, perempuan buta itu terus saja mengoceh omongan buruk tentang Rasulullah Saw.

Suapan pertama pun telah masuk, namun terkagetlah Abu Bakar. Sambil memuntahkan kembali suapannya, perempuan buta ini berkata ketus, "Siapa kamu, kamu bukan orang yang biasa memberi aku makan."

Abu Bakar berkata, "Dari mana engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang biasa memberimu makan ?"

"Makanan yang engkau beri tidak kau haluskan lebih dulu. Orang yang biasa memberiku makan selalu menghaluskan makanan lebih dulu karena ia tahu, gigiku sudah tak sanggup lagi mengunyah makanan," sahut perempuan buta itu.

BERBUAH HIDAYAH
Tidak sabar dengan keadaan yang tak menentu di hatinya ini, Abu Bakar sambil terisak berujar, "Ketahuilah, orang yang biasa memberimu makan sudah wafat beberapa hari yang lalu dan aku adalah sahabatnya," Ucap Abu Bakar.

Ia melanjutkan, "Orang yang biasa memberimu makan adalah Muhammad Saw, Lelaki yang tiap hari selalu bersabar meski kau hina dan caci, sedangkan ia tak pernah berhenti menyuapkan makanan ke mulutmu."

Perempuan Yahudi itu kaget dan kemudian menangis. Subhanallah, dihadapan Abu Bakar, Ra, ia pun mengucapkan dua kalimah syahadat, yakni memeluk Agama Islam.

DIBALAS DOA
Lebih hebat lagi, meski darah mengucur dari tubuh mulai beliau, manusia pilihan ini justru membalasnya dengan doa dan kebaikan. Seperti halnya kisah beliau ketika berdakwah ke Thaif. Beliau berharap penduduk setempat akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk Agama Islam.

Namun, jawaban dari mereka sungguh diluar harapan Nabi Muhammad Saw. Salah satu dari mereka berkata, "Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau ?"

Yang lain berkata, "Kami hidup turun-temurun di sini. Tiada kesusahan pun penderitaan. Hidup kami makmur, serba berkecukupan, dan kami merasa senang dan bahagia. Oleh sebab itu, kami tak perlu Agamamu."

Mendengar jawaban mereka, berkata Muhammad Rasulullah Saw, "Bila memang demikian, kami pun tidak memaksa. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Kami mohon diri."

Tapi, para pemimpin Bani Tsaqif tidak membiarkan Rasulullah Saw dan Zain bin Haritsah pergi begitu saja. Keduanya dihadang oleh sekelompok penduduk kota Tha'if yang tampaknya tidak ramah.

Bahkan, di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil. Dengan satu aba - aba dari seseorang, sekelompok penduduk itu pun melempari Rasulullah Saw dan Zain bin Haritsah dengan batu. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah Saw sambil pergi dari tempat itu. Mereka berdua terluka akibat lemparan - lemparan itu.

Marahkah beliau ? Ternyata tidak beliau justru membalasnya dengan doa, padahal, jika Nabi bersedia, malaikat - malaikat Allah, sudah siap menabrakkan gunung - gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa.

Rasulullah Saw justru terkejut dengan hal ini, lalu bersabda, "Walau pun orang - orang ini tidak menerima ajaran Islam, aku harap dengan kehendak Allah, anak - anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya." Subhanallah. Itulah secuil teladan kesabaran Rasulullah Saw.