Hidayah Suara Takbir

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Setiap mendengarkan suara takbir, air mata Nanang Rahayudi langsung menetes. Gema takbir itu seolah menjadi jalan hidayah baginya sehingga ia memutuskan Agama Islam. Berikut penurutannya.

Ilustrasi Orang Berdoa

Perkenalkan nama saya Nanang Rahayudi. Saya lahir di Surabaya tahun 1965 silam. Dulu saya merupakan seorang non muslim. Namun tahun 2011 lalu, saya resmi menjadi seorang muslim.

Sebelum mengenal Islam, saya tidak tahu halal dan haram makanan. Dahulu saat saya bekerja di salah satu klub malam di Surabaya, semua makanan saya anggap oleh dimakan.

Proses saya memeluk Islam cukup panjang. Diawali tujuh tahun lalu, ketika ibu saya meninggal dunia. Sejak saat itu saya tidak pernah menginjakkan kaki untuk berangkat ke tempat ibadah Agama saya sebelum saya menjadi seorang yang memeluk Agama Islam.

Sampai pada malam ke-23 bertepatan dengan bulan Ramadan tahun 2011, saya didatangi oleh pengurus keagamaan tempat biasa saja beribadah. Memang pengurus keagamaan itu begitu aktif menanyakan jika ada jamaahnya yang kurang aktif datang ke tempat ibadah. Ketika pengurus keagamaan menanyakan ketidakhadiran saya di tempat ibadah, saat itu juga tiba - tiba saya memutuskan untuk keluar dari tempat ibadah saya dan saya memilih untuk masuk Islam.

Sejujurnya ketika saya mengatakan hal itu, saya sama sekali tidak mengetahui apa itu Islam. Memang di dalam pernikahan sata mengalami beda agama, Istri seorang muslimah, sedangkan saya seorang Non Muslim. Namun bukan berarti saya paham dengan cara istri saya melaksanakan shalat. Saat itu saya belum paham apapun dengan Islam.

Meski telah mengatakan ingin masuk Islam, namun niatan itu belum terlaksana secepatnya. Hingga malam hari raya Idul Fitri tahun 2011 itu, saat takbir berkumandang dari pengeras suara masjid - masjid, saya tiba - tiba menangis. Entah mengapa saya bisa menangis ketika mendengar suara takbir.

Itu terjadi hingga sekarang. Sehingga setelah itu saya memutuskan memeluk Agama Islam dan melepaskan Agama yang saya anut sebelumnya.

Alhamdulillah, lingkungan mendukung keputusan saya menjadi mualaf. Meskipun pada awalnya saya selalu ditentang oleh pimpinan di tempat saya bekerja. Tiga kali saya dipanggil dan ditegur lantaran keputusan saya menganut Agama Islam. ia berpendapat, menjadi Islam hanya akan memperlambat dan menghambat pekerjaan saya saja. Namun saya selalu menegaskan kepada beliau bahwa saya ingin masuk surga bersama Istri dan anak saya.

DIHORMATI PIMPINAN
Bagi saya, tidak ada yang boleh mengatur saya dalam memilih Agama. Saya akan tunjukan bahwa Islam itu Profesional, bukan arogan seperti yang diberitakan. Suatu hari saya diundang pimpinan saya menghadiri acara Imlek di rumahnya. Saya dipersilahkan makan, namun dengan cepat pimpinan saya mengatakan bahwa makanan itu mengandung babi dan saya tidak diperkenankan memakan makanan tersebut. Alhamdulillah, dengan begitu saya mengerti bahwa pimpinan saya sudah dapat menerima dan menghormati keputusan saya menjadi seorang mualaf.

Ketika dua bulan saya menjadi mualaf, saya mendapatkan semua jawaban itu. Saya tahu, gema takbir itu ternyata dapat meluluhkan hati yang paling keras. Namun dengan syarat harus menjalankan puasa. Jawaban itu terjawab setelah saya yang mengalaminya sendiri.

Saya mengenal Islam melalui Ustad, Teman dan juga Istri saya. Saya belajar Islam dengan hati yang senang dan tenang. Saya banyak belajar mengenai Akidah. Dulu, sewaktu masih menganut Agama Non Muslim, semua umatnya selalu didoktrin tanpa diberi kesempatan untuk berfikir. Berbeda dengan Islam. Setelah menjadi mualaf, saya merasa lebih tenang dan tidak pernah ada beban dalam hidup saya.

Dengan menjadi mualaf, saya selalu ingin banyak belajar mengenai Islam. Dalam ibadah, saya selalu mengingatkan kepada keluarga untuk selalu shalat tepat waktu. Usahakan untuk melakukan shalat lima waktu sesibuk apapun pekerjaan yang sedang dilakukan.

Disini saya merasa hanyalah manusia yang tidak ada apa - apanya di hadapan Allah SWT. Jika dikatakan hidayah, tiap manusia pasti mendapatkan hidayah. Hanya saja tidak bisa ditunggu begitu saja.

Semoga kisah Nanang Rahayudi seorang Non-Muslim yang mendapatkan hidayah dari suara takbir ini bisa menginspirasi kita dan juga memotivasi kita semuanya, Jangan lupa kebaikan ini sudah sepantasnya untuk di share sobat.