Cara Ikhlas Dalam Beramal

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Ikhlas sebagai satu kata yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan, karena ikhlas berkaitan dengan hati seseorang. Jika dilihat dari aspek tindakan, beramal itu adalah hal yang mudah, tetapi yang menjadi sulit karena dirinya tidak ikhlas.

Ilustrasi Ikhlas

Sebagian orang ketika memberikan sedekah atau beramal mengatakan "Sungguh saya lakukan ini dengan ikhlas." Padahal dari kalimat tersebut ( Aku Ikhlas ) maka keikhlasannya masih diragukan karena ikhlas itu diucapkan sehingga masih membutuhkan keikhlasan kembali. Ketika seseorang memberi dan kemudian mengatakan ikhlas kepada semua orang, maka tak lagi orang itu menjadi amal, melainkan sudah menjadi riya'.

Manusia bukan saja diperintahkan untuk beribadah kepada Allah, tetapi beribadah kepada Allah dengan ikhlas. Dijelaskan dalam hadis, "Sesungguhnya Allah, tidak melihat tubuhmu, tidak pula melihat wajahmu, tetapi dia melihat ke dalam hati dan amal perbuatanmu," (HR Muslim).

Sulit untuk ikhlas karena mungkin belum pahamnya kita akan keikhlasan. Untuk memudahkan pemahaman orang sering menggambarkan keikhlasan sebagaimana orang yang buang hajat. Orang yang buang hajat tidak pernah berpikir apakah sebelumnya ia makan sate ataukah makan steak, gulai dan lain sebagainya, ia tidak pernah berpikir apakah sebelumnya ia menghabiskan seratus ribu atau dua ratus ribu.

Ketika melakukan amal perbuatan artinya ketika kita merasakan beratnya dan melelahkannya amal kita tidak mengeluh. Begitu pula ketika kita memberi, maka yang ada dipikiran kita adalah kita memberi atau bersedekah kemudian setelah itu kita lupakan karena kita bersedekah dan beramal karena Allah SWT dan percaya bahwa Allah akan membalasnya sehingga kita tidak perlu lagi memikirkan apa yang sudah kita berikan.

COBAAN IKHLAS
Ikhlas dalam beramal memiliki arti yang luas. Bukan hanya amal sedekah dan memberikan materi, tapi juga ikhlas untuk mendapatkan amal ibadah. Kadangkala seseorang sudah berniat dengan penuh kesungguhan untuk datang ke majelis taklim. Kita datang ke majelis taklim karena ingin menuntut ilmu Allah karena Allah. Akan tetapi, karena di majelis taklim sang ulama yang mengisi pengajian tidak lucu atau tidak menarik misalkan, kemudian kita mengeluh dan mengomel, maka hilanglah keikhlasan kita dari dalam hati.

Sama juga seperti di bulan Ramadan, ketika seseorang berpuasa karena Allah, akan tetapi karena hari terasa terik, rasa lapar dan dahaga begitu mendengar, maka ia merasakan berat dalam menjalankan puasa. Kemudian kita memberanikan diri untuk makan dan minum sebelum waktu buka. Terlebih lagi ketika ternyata ada teman kita yang tidak berpuasa yang makan dan minum di hadapan kita atau memanas - manasi kita kemudian memberikan iming - iming akan mentraktir kita untuk makan sepuasnya sebelum waktunya kemudian kita mengiyakan, maka hilanglah keikhlasan kita dalam berpuasa berganti dengan penyesalan. Maka yang demikian berarti tidak ikhlas saat mengerjakan amal perbuatan meski itu amalan wajib.

Jika kita sudah ikhlas sebelum beramal dan ikhlas ketika melakukan amal, maka kita pun harus ikhlas setelah selesai beramal. Sungguh, semua amal tergantung niat kita.

"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niat dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasulnya. Dan barang siapa hijrahnya menuju kepada dunia yang hendak di perolehnya atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya hanya mendapatkan apa yang ditujunya tersebut." (Mustaffaq a'alih).

Keikhlasan tidak bisa kita peroleh begitu saja. Keikhlasan adalah anugerah dari Allah. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar dijadikan menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Dan berdoalah kepada Allah agar segala amalan ibadah dan keikhlasan kita selalu mendapatkan berkah dari Allah SWT.