Pemeluk Agama Non Muslim Masuk Islam Karena Kagumi Shalat

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Petunjuk Allah bisa datang dengan banyak cara. Seperti yang dialami oleh Yusuf Puernama Akbar, mantan pemeluk Agama Non Muslim. Setelah melihat orang Muslim Shalat dengan khusyuk, ia tergugah untuk masuk Islam. Berikut kisahnya.

Ilustrasi Mualaf ( Foto @en.qantara.de )

Perkenalkan namaku Yusuf Purnama Akbar (26), asal Wiyung Surabaya. Pada bulan Desember 2015 lalu aku telah bersyahadat masuk Islam dan meninggalkan Agamaku terdahulu yang kuanut sebelumnya.

Sungguh Allah Mahabesar yang telah memberikan petunjuk kepada hamba - hamba-Nya, sehingga di usia yang masih cukup muda ini, aku bisa menemukan jalan kebenaran, yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Bagiku, masuk Islam merupakan kebahagiaan yang sangat tinggi. Bagaimana tidak, dulu ketika aku beragama Non-Muslim, aku tergolong aktif beribadah. Aku sendiri juga tidak pernah membayangkan bisa menjadi muslim di usia yang cukup muda, terutama karena sejak dulu aku hidup dalam keluarga besar Agama kepercayaanku sebelumnya dan kami sangat taat.

Tapi memang petunjuk Allah tidak bisa terhalang oleh apa pun. Meski sejak awal ajaran Agama yang aku anut sudah mendarah daging dalam jiwaku, namun lambat laun semua itu luntur. Justru aku mulai tertarik dengan Agama Islam, sehingga makin lama ketertarikan itu semakin membuatku menginginkan masuk Agama itu, bahkan mulai membenarkannya.

KEINDAHAN SHALAT
Ketertarikanku terhadap Islam sebenarnya bermula sejak aku seringkali melihat orang shalat di Masjid. Mulanya, aku menganggap bahwa itu adalah biasa. Namun setelah beberapa kali aku melihat orang yang beribadah itu, lambat laun hatiku merasa tergugah. Aku pun mulai tertarik dengan gerakan - gerakan shalat yang dilaksanakan orang muslim di masjid.

Meski demikian, aku tidak lantas masuk Islam, sebab rasanya butuh waktu yang cukup lama untuk menentukan keputusan. Lebih - lebih yang menyangkut keyakinan dalam agama dan usiaku saat itu masih remaja. Karena itu, meski aku sudah mulai gelisah dengan agama yang lama, namun aku tetap menjalani ibadahnya kala itu.

Namun anehnya, semakin rajin beribadah, aku malah merasa semakin gelisah sehingga diri ini tidak bisa khusyuk. Tidak seperti orang shalat, aku melihat mereka tampak khusyuk dan tenang menghadap Tuhannya, seakan ada kenikmatan tersendiri yang mereka rasakan dalam shalatnya. Hal itu membuatku semakin penasaran. Sebab jujur saja, selama aku beribadah ditempat itu, aku tidak pernah menemukan keindahan dan kekhyusukan, malah yang ada pikiranku melayang ke mana - mana.

Dengan memberanikan diri, aku pun mendatangi Masjid Al Falah Surabaya. Sebelumnya aku banyak mendengar bahwa di masjid tersebut terdapat banyak sekali mualaf. Mereka mendapatkan bimbingan khusus setelah masuk Islam. Di masjid itu pun aku mendapatkan banyak sekali penjelasan seputar Islam hingga membuatku semakin tertarik menjadi umat Nabi Muhammad Saw.

KEHIDUPAN BARU
Proses menjadi seorang muslim bagiku benar - benar sangat berkesan. Sebab disamping membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri, ketika ikrar aku disaksikan ratusan orang. Mereka tampak sangat antusias mendukungku dan menyaksikan aku saat mengucap dua kalimat syahadat di Masjid itu. Rasanya sangat terharu. Bahkan ketika aku dituntun membaca kalimat Syahadat, jiwaku bergetar begitu kencang.

Begitu bergetarnya jiwaku saat itu, hingga aku harus mengulang bacaan Syahadat itu berkali - kali karena tak kunjung fasih melafalkannya. Setelah aku dipastikan tepat membaca kalimat itu, aku benar - benar seperti hidup dalam dunia yang baru. Aku merasakan perubahan yang luar biasa. Bahagia sekali rasanya setelah semua saksi mengatakan "SAH" atas kalimat yang aku lantunkan.

Aku semakin terharu setelah semua yang menjadi saksi pada saat itu memberikan ucapan selamat untukku, bahkan memelukku dengan penuh kasih sayang. Mereka menganggap aku seperti saudara kandungnya sendiri. Sungguh begitu indah tradisi dalam Islam, dengan rasa persaudaraan dan keluargaan yang begitu kokoh.

Untuk mendalami tentang Islam, aku pun mengikuti bimbingan mualaf di Masjid Al FAlah dengan teman - teman mualaf lainnya. Semakin banyak aku memahami Islam, rasanya diri ini semakin bahagia memeluk agama baru itu. Perasaanku pun semakin berbunga - bunga karena ternyata keputusanku untuk masuk Islam tidak mendapatkan pertentangan dari kedua orang tua. Aku juga berharap mudah - mudahan mereka juga mendapatkan petunjuk sebagaimana yang aku dapatkan sehingga diri ini bisa masuk Islam.