Masuk Islam Karena Tertarik Mengaji Alquran

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Hanya karena sering melihat dan mendengar ibunya mengaji, Gloria Kusuma Ambarwati tertarik pada Islam. Yang menarik, ketika dia belajar Islam dan mengaji Alquran, ayahnya juga ingin berpindah keyakinan menjadi mualaf. Bagaimana mereka tertarik dengan Islam ? Berikut kisahnya.

Ilustrasi Anak Perempuan Masuk Islam Karena Tertarik Dengan Alquran ( Foto @hizbut-tahrir.or.id )

Perkenalkan nama saya Gloria Kusuma Ambarwati. Saya lahir di Solo, 18 Agustus 1990. Saya berasal dari sebuah keluarga yang berbeda agama. Ibu saya seorang muslim dan ayah saya seorang Kristen Katolik. Keluarga besar saya dikenal sebagai keluarga penganut Kristen Katolik yang sangat kental. Saya dan keluarga menetap di Solo, tempat keluarga besar ayah saya tinggal sehingga saya pun tumbuh dengan ajaran Kristen Katolik.

Latar belakang pendidikan saya, sama seperti anak - anak pada umumnya, namun di luar itu saya rutin mengikuti sekolag mingguan, semacam sekolah keagamaan. Sejak kecil saya juga terbiasa dengan Agama Islam karena ibu saya seorang muslim yang kuat sehingga seringkali saya melihat ibu shalat dan mendengarkan beliau mengaji.

IKUT PENGAJIAN
Namun, sedikit pun saya tidak pernah berusaha untuk menanyakan berbagai hal yang berhubungan dengan kepercayaan ibu. Ayah selalu menanamkan untuk selalu menghormati keputusan dan kepercayaan siapapun, termasuk ibu, tanpa harus menanyakan alasan dan sebab keputusan tersebut. Terlebih karena ibu seorang muslimah. Kemudian untuk lebih menatapkan Agama dalam diri saya pada umur delapan tahun, saya dibaptis oleh gereja dengan nama baptis Gloria.

Ketika saya duduk di bangku SMP, saya seringkali secara diam - diam ikut pengajian Islam bersama beberapa teman muslim lain. Ketika mengikuti pengajian itu, saya begitu ingin tahu apa yang disampaikan oleh pembicara yang biasa di panggil pak kiai tersebut. Beliau menjelaskan mengenai haramnya mengonsumsi daging babi dan meminum alkohol.

Yang membuat saya semakin tertarik, dua hal yang dilarang tadi, di dalam agama yang saya anut, diperbolehkan untuk dikonsumsi. Berawal dari rasa penasaran itulah, saya semakin sering mengikuti pengajian Islam. Tujuan awalnya tidak lain untuk mengobati keingintahuan tersebut.

Namun, mengikuti pengajian saja tidak membuat saya puas untuk memahami Islam. Ketika di rumah, saya semakin sering mengintip serta memperhatikan ibu ketika shalat. Saya juga sering mencuri dengar ketika ibu sedang mengaji.

Saat itu juga perasaan saya seperti diaduk - aduk. Ada perasaan yang selama ini kosong, teriris ketika mendengar ibu mengaji. Hingga akhirnya saya mengetahui beberapa fakta yang semakin membuat saya tertarik pada Islam.

Salah satu fakta tersebut saya dapatkan saat saya pergi ke rumah kakek. Beliau adalah penganut Katolik yang taat dan pemelihara babi sebagai hewan ternak. Ketika saya mengamati bagaimana babi tersebut hidup dan makan, saya semakin tercengang, ketika saya jumpai  saat babi kehabisan makanan, maka dia akan memakan (maaf) kotorannya sendiri. Dari pengamatan tersebut, akhirnya saya berpikir, mungkin orang muslim benar untuk mengharamkan babi karena babi sangat kotor.

Rasa ketertarikan saya semakin menjadi. Pada saat menginjak tahun pertama SMA, saya berkeinginan untuk mengikuti kepercayaan ibu saya untuk masuk Islam. Ayah sangat terkejut, namun berbeda dengan ibu yang menyambut gembira pilihan saya ini, Alhamdulillah, keinginan saya ini akhirnya didukung oleh keluarga.

MASUK ISLAM
Meskipun keluarga besar ayah saya merupakan penganut Kristen Katolik yang kental, namun karena sangat menghormati keputusan serta kepercayaan orang lain. Saya diperbolehkan masuk Islam dengan catatan, saya harus mengetahui betul - betul dan sungguh - sungguh menjalani ajaran Islam.

Kemudian pada tahun itu juga, ayah saya memutuskan untuk pindah ke kota Surabaya, di samping untuk urusan pekerjaan, juga untuk urusan pendidikan saya, namun saat itu saya masih belum menjadi seorang Muslim. Hingga suatu ketika ayah saya mendengar saya belajar membaca Alquran bersama ibu. Tiba - tiba ayah menghampiri kami dan mengatakan bahwa besok beliau akan meminta bantuan temannya untuk mengislamkan saya dan beliau.

Saya sangat terkejut mendengar penuturan ayah. Beliau kembali mengatakan ingin memeluk agama Islam dan belajar agama Islam bersama saya. Saat itu saya sangat bahagia, keluarga saya akan menjadi keluarga Islam, bukan lagi keluarga beda agama. Beberapa hari kemudian saya dan ayah saya resmi menjadi seorang Muslim. Dengan bimbingan teman ayah, saya dan ayah mengucapkan dua kalimah syahadat di masjid dekat rumah.