Kisah Seorang Kikir Menghilangkan Sifat Kikirnya

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Sekecil apa pun sifat kikir yang ada dalam diri kita akan mengotori hati kita. Jika tidak diperangi, akan mengeraskan hati dan menutup pintu nasihat. Salah satu solusinya adalah dengan ruqyah.

Ilustrasi Orang Pelit ( Foto @U-Report )

Sebut saja Rusdi, laki - laki paruh baya 49 tahun merupakan orang terkaya dan terkenal kikir di kampungnya. Ratusan hektar tanahnya tersebat di berbagai desa mulai dari sawah, tegalan sampai beberapa urmah yang digunakan untuk usaha penggilingan padi.

Pagi itu Rusdi sudah bersiap - siap berangkat menemui salah satu rekan bisnisnya di sebuah restoran, namun langkahnya terhenti oleh suara nenek tua yang memanggil namanya.

"Pak Rusdi, cucuku sakit keras, bolehkah saya menumpang mobil bapak untuk ke rumah sakit ?" pinta nenek Tinah.

"Aku ada urusan yang lebih penting, suruh orang lain saja," jawab Rusdi kesal lalu bergegas menaiki mobilnya.

"Mak Tinah, maafkan suami saya. Ini saya bawa uang untuk berobat Wati, saya Ikhlas," Ucap Tuti, Istri Rusdi menghentikan langkah Mak Tinah.

Kebaikan Tuti kepada para tetangga yang kurang mampu, ternyata sampai juga ke telinga Rusdi hingga membuat dia marah dan berang. "Kamu pikir itu uang nenek moyangmu, seenaknya saja dibagi - bagikan keorang lain," suara Rusdi serasa menggelegar.

"Mas, harta kita titipan Tuhan, sebagiannya ada hak orang lain," ucap Tuti sambil berlinang air mata.

"Terserah kamu mau ngomong apa. Aku tidak suka kamu memanjakan orang - orang miskin itu," hardik Rusdi.

Tuti yang merasa tak sepaham dengan suaminya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuannya. Setelah Kepergian Tuti, Diah, istri muda Rusdi merasa menang karena saingan terberatnya sudah tidak ada. Kepercayaan penuh yang diberikan Rusdi kepada Diah semakin membuatnya berkuasa dan berhasil membuat seisi rumah tunduk pada perintahnya.

DIUJI SAKIT
Perjalanan hidup tampaknya bisa diibaratkan roda pedati yang selalu berputar dan terus bergulir meniti di bumi. Bagian dari roda tersebut kadang berada di atas dan terkadang berada di bawah, begitu pula dengan kehidupan Rusdi.

Suatu ketika dia jatuh sakit, sekujur tubuhnya muncul benjolan bernanah dan berdarah. Diapun harus merogoh koceh dalam - dalam untuk berobat. Namun penyakitnya tak kunjung sembuh juga.

Mengetahui kejadian yang menimpa suaminya, Tuti merasa ikut prihatin dan mengambil inisiatif untuk membawa suaminya berobat pada seorang Ustad di Kota Lumpia Semarang, seorang pakar Agama yang ahli dalam meruqyah.

Beliau menjelaskan bahwa penyakit yang diderita Rusdi merupakan buah dari perbuatannya sendiri yang suka menzalimi orang. Saat itu juga beliau melaksanakan ruqyah pembersihan diri atas Rusdi. Beberapa hari kemudian dilakukan Ruyah pembersihan hati dan jiwanya untuk menghilangkan sifat - sifat yang kurang baik dalam diri Rusdi.

Tak lupa Beliau juga berpesan kepada Rusdi agar melaksanakan shalat lima waktu yang selama ini jarang dilakukannya dan mua berbagai kepada sesama yang membutuhkan pertolongannya.

Seiring berjalannya waktu, Rusdi telah menjadi manusia yang baru dengan arahan dan bimbingan dari Ustad tempatnya melakukan Ruqyah. Kini Rusdi dapat kembali hidup harmonis bersama ketiga istri dan anak - anaknya. Namun tidak dengan Diah, dia harus menelan kekecewaan karena diceraikan oleh Rusdi setelah terbukti berkhianat dan hanya ingin menguras hartanya saja.