Siksa Anak Durhaka Menjelang Kematiannya

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Hanya karena tidak mendapatkan restu dari orang tua terhadap laki - laki yang akan menikahinya. Rani menjadi anak yang durhaka. Ia kabur dari rumah dan memutuskan nasab. Rani tak lagi menganggap Ayah dan Ibunya sebagai orang tuanya lagi. Akibatnya, ia mengalami sakit parah hingga mati mengenaskan. Berikut kisahnya.

Ilustrasi Perempuan Durhaka Kepada Orang Tuanya ( Foto @U-Report )

Sikap durhaka yang dilakukan Rani (Nama samaran) terhadap kedua orang tuanya ternyata membawa petaka yang mengenaskan. Wanita berusia 31 tahun asal Bondowoso ini menderita penyakit komplikasi hingga akhirnya meninggal dunia.

Puncak kedurhakaan Rani terjadi dua tahun silam. Ia memilih kabur dari rumah lantaran kedua orang tuanya tak memberikan restu atas laki - laki yang akan menikahinya. Tak hanya itu saja, Rani memutuskan nasab dan tidak menganggap lagi Ayah dan Ibunya sebagai orang tuanya.

Setelah kabur, Rani menikah dengan laki - laki pilihannya. Awalnya kehidupan mereka seolah bahagia dengan harta yang melimpah. Di saat yang sama, ia mendengar kabar ibunya sakit keras. Namun bukannya menjenguk, Rani malah cuek, bahkan terkesan sudah memutus hubungan nasab antara anak dan orang tuanya.

MEMUTUS NASAB
Menurut tetangga Rani, Fahrurrozi, begitu mendengar ibunya sakit, Rani sama sekali tidak menampakkan kesedihan. Parahnya lagi, Rani mengatakan, andai saja ibunya dulu memberikan restu, maka ibunya tidak akan sakit separah itu karena akan langsung ia periksakan ke dokter.

"Dulu saja mereka tidak merestui saya, ini salah ibu sendiri, sekarang dia sendirian dan tidak ada yang merawat di rumah," ujar Fahrurrozi meniru perkataan Rani.

Beberapa bulan kemudian terdengar kabar bahwa Ibu Rani telah sembut dari penyakitnya. Rentang waktu tersebut Rani sama sekali tidak menjenguk Ibunya. Bahkan menelepon untuk sekedar tanya kabar pun tidak dilakukannya.

Hari terus berlalu, tiba - tiba Rani mendapatkan musibah. Ia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Menurut dokter, Rani menderita komplikasi. Padahal umurnya belum terlalu tua, namun penyakit komplikasi itu mengharuskan dirinya opname beberapa minggu di rumah sakit.

Karena keuangan yang terus menipis dan kesembuhan belum datang, Rani akhirnya hanya bisa rawat jalan. Semakin lama penyakit yang diderita Rani semakin mengerikan. Bahkan, ia terkesan ditelantarkan dan tidak mendapatkan perhatian yang berarti dari suaminya. Warga di sekitar rumahnya pun tampak enggan untuk menjenguk dirinya.

MENGHADAPI MAUT
Penderitaan itu membuat Rani menyesali perbuatannya. Ia ingin kembali kepada orang tuanya, namun tidak mendapatkan izin dari suami. Perasaan bersalah pun terus menghantuinya.

"Suaminya sengaja tidak memberi tahu keluarga Rani, sehingga mereka tidak menjenguk karena tidak mengetahui kondisinya," jelas Fahrurrozi.

Hingga beberapa hari kemudian, Rani pun ditemukan dalam kondisi sekaratulmaut. Dalam kondisi yang sangat mengerikan itu, ia tampak berjuang ingin mempertahankan dirinya. Napasnya terdengar berat hingga akhirnya meninggal dunia.

"Setelah ia meninggal dunia, orang tuanya baru dikabari sehingga mereka sangat terkejut," imbuh Fakhrurrozi.

Orang tua Rani pun datang bertakziyah ke rumah Rani. Saat melihat kondisi jenazah, mereka sangat prihatin. Meski sudah disakiti, kasih sayang yang melekat di hati kedua orang tuanya itu tetap tidak sirna. Hal itu tampak pada keduanya yang sesekali meneteskan airmata karena tidak tahan melihat kondisi buah hatinya itu. Beberapa saat kemudian, Rani pun dimakamkan.