Saksikan Keesaan Allah Di Surat Al Ikhlas, Ahmad Mantap Peluk Islam

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Surat Al Ikhlas yang menggambarkan keesaan Allah SWT membuat hati Ahmad Sugiarto terpukau. Selama menjadi umat Katolik, baru kali ini ia menemukan jawaban atas pertanyaan seputar Tuhan. Ia pun mantap menjadi mualaf. Berikut kisahnya.

Ilustrasi Seorang Mualaf ( Foto @voa-islam.com )

Ahmad Sugiarto sebenarnya sudah cukup lama merasakan resah mengenai ketuhanan dalam Agama Katolik yang saya anut waktu itu. Pertanyaan demi pertanyaan tentang Tuhan selalu berkecamuk dalam pikiran Ahmad Sugiarto. Hingga akhirnya Ahmad Sugiarto menemukan jawabannya dalam Alquran, khususnya surat Al Ikhlas. Dari surat tersebut, saya mulai menemukan tentang Tuhan yang patut disembah hingga Ahmad Sugiarto memutuskan menjadi seorang mualaf.

Perkenalkan nama saya Ahmad Sugiharto berusia 36 tahun, saya lahir di Manado, namun usai menikah, saya menetap di Malang, Jawa timur. Saat ini aktivitas saya sebagai penjaga keamanan di salah satu perusahaan swasta di Malang.

Keluarga besar saya masih banyak yang tinggal di Manado. Mereka merupakan keluarga beragam Katolik yang taat dalam beribadah. Sebelum menjadi mualaf, dulunya saya juga seorang hamba katolik yang taat.

Keputusan saya memeluk Islam terjadi pada tahun 2005. Dengan Islam-lah, pertanyaan yang selama ini berkecamuk di pikiran saya banyak terjawab. Akhirnya saya mantap memeluk Islam sampai saat ini dan insya Allah sampai Allah menutup waktu saya di dunia ini.

Saya dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat beragama. Dulu saya selalu mengikuti kegiatan keagamaan, mulai dari kegiatan rutin sampai ke kegiatan yang merupakan perayaan, setahun sekali, di mana dalam setahun sekali itu kami selalu memperingati kelahiran "Tuhan".

PENCARIAN TUHAN
Sebenarnya sudah cukup lama saya ingin menanyakan, kenapa Tuhan bisa dilahirkan ? Dan, kenapa Tuhan harus dilahirkan dari seorang manusia ?

Pertanyaan - pertanyaan ini memang terlihat sepele dan sederhana, hanya saja setiap saya bertanya pada orang, jawabannya selalu tidak bisa memuaskan hati. Mereka selalu menjawab bahwa Tuhan turun ke bumi untuk menebus dosa manusia. Jawaban itu menurut saya hanya bersifat asumsi.

Saya juga pernah bertanya mengapa lahirnya Tuhan dalam Katolik itu harus melalui proses yang sama dengan Manusia. Jawaban yang saya terima saat itu hanya berputar - putar saja. Bahkan, ada yang menjawab agar Tuhan dapat merakyat dengan Manusia.

BELAJAR ALQURAN TERJEMAHAN
Banyak pertanyaan - pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran saya. Namun, pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini ada di dalam pikiran saya perlahan mulai terjawab melalui Islam, melalui kitab suci Alquran. Alquran memberikan jawaban yang menurut saya lebih masuk akal dibandingkan dengan kitab saya saat masih memeluk Agama Katolik.

Di Alquran menjelaskan bahwa orang yang mereka sebut sebagai Tuhan tidaklah beranak dan tidak diperanakkan. Itu tertulis jelas di dalam Surat Al Ikhlas. Bukan hanya melalui surat Al Ikhlas saya menemukan jawaban itu, melainkan di semua ayat dalam Surat Alquran, saya menemukan hak - hak apa saja yang harus diterima sebagai seorang Muslim dan hal - hal apa saja yang dihalalkan dan diharamkan dalam Islam. Semua terjawab dengan jelas seperti yang saya baca dalam Alquran terjemahan yang saya pinjam dari teman.

Keingintahuan saya tentang Islam tidak hanya sampai di situ saja. Saya mulai berkeinginan untuk mempelajari ajaran Islam lebih banyak lagi. Di rumah, diam - diam saya mulai mempelajari gerakan shalat. Melalui buku - buku panduan shalat yang saya beli, saya mencoba mencari tahu arti dan makna dari setiap gerakan serta bacaan shalat. Melalui shalat ini, saya menemukan suatu ibadah yang lebih bermakna.

Pada suatu saat, saya memberanikan diri mengutarakan kepada orang tua bahwa saya telah memeluk Agama Islam. Mereka semua mencemooh saya. Namun, sejak Juni 2007, Alhamdulillah, keluarga dapat menerima semua keputusan saya memeluk Islam. Kini, kami tetap menjalin silaturahim dengan orang tua meski beda Agama.