Sakiti Orang Tua, Mati Mengenaskan

Mau Beli Merchandise AKUISLAM.ID Beli Di Sini (DISINI>>)Terima Kasih Buat Sahabat Yang Sudah Beli Merchandise AkuIslam.Id, Semoga Berkah.

Advertisement
Ceramah Bersama - Sebagai umat Muslim, kita dianjurkan untuk selalu menghormati kedua orang tua. Bahkan, kita dianjurkan untuk selalu dapat membahagiakan mereka. Namun, hal ini berbeda dengan Yadi yang tak pernah sekalipun mau menuruti perkataan orang tuanya. Nauzubillah, ia pun mengakhiri hidup dengan kondisi mengenaskan.

Ilustrasi Anak Durhaka ( Foto @pintarin.com )

Beberapa minggu yang lalu, warga Semarang dikejutkan dengan penemuan sesosok Jenazah yang meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan. Betapa tidak, Jenazah almarhum tertimbun dalam tumpukan sampah dan wajahnya hampir tak dapat dikenali. Namun, setelah diperiksa, bekas luka yang ada di jempol kirinya menunjukkan bahwa jenazah tersebut adalah Yadi, warga Semarang yang dulu dikenal sebagai seorang anak lurah.

Sontak, hal tersebut langsung mengejutkan warga lain yang mengenali jenazah almarhum. Pasalnya, di masa hidupnya, almarhum dikenal hidup dalam serba kecukupan disebuah rumah mewah peninggalan kedua orang tuanya. Bahkan, sehari - hari almarhum pun sering pergi kesana kemari tanpa pernah mengalami kekurangan. Namun, di akhir hayatnya, justru almarhum ditemukan meninggal dunia di sebuth timbunan sampah tak jauh dari pemukiman warga.

SUASANA HARU
Warga yang mengenali Jenazah almarhum langsung membawa jenazah Yadi untuk segera dimakamkan dengan proses pemakaman yang layak. Kerabat dekat almarhum pun segera dihubungi untuk segera mengurus proses pemakaman. Saat pertama kali mengetahui kabar bahwa Yadi telah meninggal dunia, semua kerabat Yadi pun tak percaya. Terlebih saat mendengar bahwa Jenazah almarhum ditemukan tertimbun di sebuah tumpukan sampah.

Jenazah almarhum pun langsung dibawa ke rumah Wawan, kerabat dekatnya. Di rumah Wawan, jenazah Yadi langsung dimandikan dan juga dikafani serta dishalati. Setelah beberapa anggota keluarga mulai berdatangan, prosesi pemakaman pun segera dilanjutkan. Walaupun tak banyak pelayat yang datang selama prosesi pemakaman, namun semuanya berjalan dengan khidmat tanpa ada kendala. Tanpa harus diminta, warga setempat pun ikut membantu prosesi pemakaman.

Istri almarhum yang coba diberitahu mengenai kematian suaminya tak terlihat selama proses pemakaman berlangsung. Namun, kabut duka dan suasana haru masih tetap menyelimuti prosesi pemakaman. Banyak dari kerabat keluarga almarhum yang tak menyangka jika almarhum meninggal dunia dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Tak sedikit pula yang menitikkan air mata saat jenazah almarhum mulai dimasukkan ke dalam liang lahat. Usai pembacaan doa, kerabat keluarga pun meminta kepada semua pelayat yang datang untuk mendatangi kerabat keluarga jika masih ada tanggungan dengan almarhum.

CUEK PADA ORANG TUA
Di balik meninggalnya Yadi, ternyata tersimpan cerita ironis. Dulunya, Yadi adalah dikenal sebagai anak orang berada karena bapaknya adalah pejabat lurah setempat. Namun, kemewahan itu tak lagi dirasakan Yadi seiring dengan habisnya masa jabatan orang tuanya. Terlebih, ia hanya pengangguran dan hanya bisa menghabiskan harta orang tuanya.

Bukan hanya itu saja, ketika dinasihati orang tuanya, Yadi malah sering membalasnya dengan caci makian dan sumpah serapah. Hal itu dilakukannya berulang kali dengan nada yang cukup tinggi sehingga terdengar oleh para tetangga. Warga pun tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa terdiam saat mengetahui Yadi marah - marah kepada kedua orang tuanya.

Bahkan, pernah suatu waktu, saat orang tuanya dalam kondisi sakit, Yadi malah meninggalkannya untuk berlibura bersama istrinya. Lantaran merasa iba, warga lantas menjenguk Rustam dan Rukmini, kedua orang tua Yadi yang sedang terbaring sakit. Tak pernah sekalipun yadi ingin membalas kebaikan kedua orang tua yang telah membesarkan dirinya.

Di saat kedua orang tuanya meninggal dunia, Yadi pun mulai kehilangan arah. Betapa tidak, dengan kemampuan yang seadanya, Yadi pun tak kunjung mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi kebutuhan rumah tangganya. Bahkan, dirinya juga ditinggal pergi begitu saja oleh istrinya dengan membawa sejumlah harga benda berharga miliknya.

Hanya dalam waktu singkat, harta warisan peninggalan kedua orang tuanya pun langsung habis tak bersisa. Bahkan, rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya pun terpaksa dijual. Dirinya lantas tinggal di sebuah kamar berukuran 3x3 meter, itu pun karena kebaikan hati warga yang membeli rumahnya tersebut.

Sementara itu, untuk menghidupi kebuthannya sehari - hari, Yadi lantas bekerja sebagai pemulung dengan mengumpulkan barang - barang bekas yang ada di sekitarnya. Sehari - hari, Yadi pergi ke satu tempat penimbunan sampah dan yang lainnya hanya untuk mengumpulkan barang bekas. Saat pulang kerumahnya yang kecil. dirinya sudah dalam keadaan lusuh dan baunya sangat menyengat.

Tak ada warga yang menyangka jika kehidupan Yadi akan berubah drastis seperti itu. Yadi benar - benar menjadi orang yang linglung karena tak sanggup menghadapi perubahan kehidupan yang dialaminya. Namun, ada juga beberapa warga yang menilai bahwa apa yang dialami oleh Yadi adalah akibat dari dirinya yang tak pernah menghiraukan keberadaan orang tuanya. Yadi tak pernah sekalipun mencoba untuk membahagiakan kedua orang tuanya, terlebih di saat kedua orang tuanya sedang sakit keras. oleh karena itu, warga pun hanya dapat mendoakan semoga Yadi diberi ampun dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT.