Tuesday, July 17, 2018

Rahasia Kecantikan Istri Rasulullah

AkuIslam.ID - Mentimun adalah bahan makanan yang mudah ditemui. Mentimun kerap digunakan sebagai lalapan atau makanan pelengkap. Atau bisa juga diolah sebagai minuman. Namun tahukah Anda bahwa ternyata mentimun merupakan senjata rahasia kecantikan Aisyah Ra, istri Rasulullah.

Mentimun

Mentimun adalah salah satu sayuran yang memiliki kandungan air yang cukup banyak. Mentimun sudah dikenal sejak zaman Rasulullah. Dulunya, sayuran ini sudah dipakai sebagai salah satu bahan untuk kesehatan. Biasanya, mentimun dikombinasi dengan kurma segar untuk menjaga kesehatan. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Rasulullah Saw sering melakukannya.

Dari Aisyah bahwasannya, "Rasulullah sering makan mentimun dicampur dengan kurma basah." (Riwayat Tirmizi).

Mentimun ini adalah salah satu rahasia kecantikan dari istri Rasulullah, Aisyah Ra. Kombinasi mentimun dan kurma basah ternyata dapat meningkatkan berat badan dan mengubah bentuk tubuh yang semula kurus menjadi lebih berisi.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah Ra ketika hendak dipertemukan dengan Rasulullah Saw, rutin mengonsumsi mentimun dan kurma basah untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Maklum, ketika itu tubuhnya kecil dan kurus.

Aisyah berkata, "Ibuku mengobatiku agar aku kelihatan gemuk, saat dia hendak mempertemukan aku dengan Rasulullah. Dan usaha itu tidak membuahkan hasil sehingga aku memakan mentimun dengan kurma basah. Kemudian aku menjadi gemuk dengan bentuk yang ideal." (Riwayat Ibnu Majah).

Dalam ilmu pengobatan Islam, sayur yang memiliki nama ilmiah cucumis sativus ini dikenal dengan nama qitsa' atau khiyar. Allah SWT menyebut sayuran ini adalah surat Al Baqarah, 61, "Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, 'Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.' Musa berkata, 'Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta'."

MEREMAJAKAN KULIT

Mentimun mengandung protein lemak, karhohidrat, kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.

Karena banyak mengandung bahan penting itu, mentimun sangat baik digunakan sebagai tonik (menjaga kesehatan). Selain itu, mentimun juga bisa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit.

Jus mentimun bersifat mendinginkan badan dan menurunkan panas pada saat demam. Tak hanya itu, mentimun juga dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi serta menyehatkan saluran pencernaan.

Masker wajah dari mentimun yang dihaluskan merupakan ramuan alami untuk meremajakan sel-sel kulit wajar agar tetap awet muda dan mencegah keriput. Tak hanya itu, mentimun juga dapat menghilangkan selulit.

Dengan Sabar, Terhindar Dari Fitnah

AkuIslam.ID - Benar kiranya ungkapan bahwa apapun yang dilakukan manusia pasti akan ada balasannya. Tuhan itu Maha Adil, tidak ada suatu perbuatan pun yang tidak diperhitungkan. Semua orang akan menerima balasan sesuai dengan apa yang diperbuat.

Ilustrasi

Sebagaimana yang menimpa Harun, seorang general manager di perusahaan ternama di kota. Suatu ketika pihak perusahaan merekrut manajer marketing baru, menggantikan manager lama yang resign. Sebagai pemimpin, Harun merasa bertanggungjawab atas segala urusan di kantornya. Setelah melewati seleksi yang cukup ketat, akhirnya terpilihlah Fajar sebagai manajer marketing yang baru.

AKIBAT TERLALU PERCAYA

Pada awal-awal pertemuan, Fajar memang terlihat pintar, sopan dan mudah bergaul. Inilah yang membuat Harun sangat percaya pada Fajar. Namun siapa sangka, ternyata Fajar punya misi khusus, yakni ingin menyingkirkan Harun dari jabatannya.

Tidak hanya menghasur, Fajar mulai sering mencari muka di hadapan Derektur Utama yang bertujuan untuk menghancurkan kredibilitas Harun. Harun pun difitnah memanipulasi data perusahaan.

"Dosa apakah yang telah kuperbuat sehingga aku harus menerima fitnah seperti ini," gundah Harun dalam hati.

Ternyata penderitaan Harun tidak berhenti sampai disitu. Pihak perusahaan melaporkannya ke kepolisian atas dasar penipuan dan penggelapan uang perusahaan. Inilah yang membuat Harun harus pasrah menerima kenyataan di penjara.

"Aku akan bantu kamu membuka tabir misteri ini. Insya Allah dengan bantuan seorang ustad yang pernah menolongku dari keterpurukan, kebenaran itu akan segera terungkap," uangkap salah seorang sahabat yang menengoknya.

TERUR BERSABAR

Waktu seolah berjalan dengan lambat hingga membuat Harun nyaris putus asa. Namun dukungan dan perhatian keluarga mampu membuatnya tetap bertahan. Hal itu pulalah yang membuat Harun semakin rajin beribadah dan senantiasa berserah diri kepada Allah. benar adanya, perkara Harun terus menerus menemukan titik terang.

Hingga pada akhirnya terkuaklah siapa sesungguhnya dalang dalam permasalahan tersebut, tang tak lain adalah Fajar. Harun pun dibebaskan dari penjara karena terbukti tidak bersalah dan kembali menempati posisinya dalam perusahaan.

Harun sangat bersyukur kepada Allah SWT dan semua pihak yang selalu memberikan support, terutama seorang Ustad yang terus mendoakan dan memberikan nasihat kepadanya.

Suka Berbuat Zalim, Disiksa Di Alam Kubur

AkuIslam.ID - Jenazah Sa'ad bin Mu'ad di alam kubur mendapatkan siksa kubur. Bahkan doa dari ibunya sekalipun tak mampu menghentikan siksa kubur yang dialami Sa'ad. Nauzubillah. Apa yang telah dilakukannya semasa hidup?

Ilustrasi

Ketika Rasulullah Saw masih hidup, beliau pernah bertakziah ke rumah seorang sahabat yang meninggal dunia. Di rumah yang sederhana itu telah berkumpul sahabat-sahabat Nabi Saw yang lain untuk bertakziah pula. Mereka tengah berduka karena Sa'ad bin Mu'ad meninggal dunia.

"Sekarang mandikanlah, kafani, dan shalatilah jenazah Sa'ad." perintah Rasulullah Saw kepada sahabat lain.

Nabi Muhammad Saw sendiri hanya melihat sambil berdiri di dekat pintu. Setelah dimandikan, jenazah itu dikafani. Kemudian dibawa dan diletakkan di tempat pembaringan. Lalu, jenazah itu diantar ke makam umum untuk dikuburkan.

RASUL TANPA SURBAN

Rasulullah Saw juga turut mengantarkan jenazahnya, namun tanpa memakai surban dan selendang. padahal, salah satu kebiasaan beliau ketika bertakziah adalah memakai surban dan selendang. Melihat keganjilan itu, para sahabat lain tak berani bertanya maupun protes. Sahabat yang bertakziah hanya diam saja.

Dalam iring-iringan jenazah, Rasulullah Saw mengambil posisi di sebelah kanan jenazah. Namun, kemudian beliau ppindah ke sisi sebelah kiri jenazah. Setelah sampai di kuburan, Nabi Saw ternyata ikut turun ke liang lahatnya dan meletakkan batu bata secara rata di atasnya.

"Duhai bebatuan kau temani aku, duhai tanah yang basah kau temani aku dan kau tutupi dia di antara bebatuan," ujar Rasulullah Saw.

Setelah Rasulullah naik lagi ke atas, jenazah Sa'ad di kubur dan ditimbun dengan tanah. "Aku tidak tahu, apakah Sa'ad disiksa dan siksaan itu mengalir padanya, tetapi Allah SWT mencintai hamba yang beramal sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh-Nya," tandas Rasulullah Saw.

Setelah makam itu diratakan dengan tanah, ibu Sa'ad bersedih. Di atas makam anaknya, ia meratap pilu. "Wahai anakku Sa'ad, istirahatlah kamu di surga," ujar Ibu Sa'ad

Mendengar ucapan itu, Rasulullah Saw terhenyak. Beliau lantas menghampiri ibunda almarhum Sa'ad. "Wahai ibu Sa'ad, janganlah kamu memaksa Tuhanmu, karena Sa'ad sekarang ini sedang ditimpa azab kubur," ucap Rasulullah Saw. Setelah berkata dengan ibu almarhum Sa'ad, Nabi Saw langsung pulang dari lokasi makam.

BERBUAT KASAR

Dalam perjalanan pulang, para sahabat heran dengan sikap Rasulullah Saw. Mereka lantas mendekat kepada Rasulullah dan bertanya sesuatu. "Ya Rasulullah, kami melihat engkau bersikap terhadap Sa'ad tidak seperti kepada yang lain.

Engkau mengantarkan jenazah Sa'ad tanpa memakai surban dan selendang, mengapa demikian?" tanya seorang sahabat yang memberanikan diri bertanya kepada Nabi Saw.

"Karena malaikat datang tanpa surban dan selendang, maka aku mengikutinya," jelas Rasulullah Saw.

"Lalu, mengapa Engkau mengambil posisi di sebelah kanan tempat pembaringan, lalu pindah ke sebelah kiri?" tanya sahabat yang lain.

"Tanganku mengikuti Jibril mengambil apa yang dia ambil," tegasnya lagi.

"lalu mengapa Sa'ad mendapatkan siksa di alam kubur?" timpal sahabat yang lain.

"Ya, karena dia (Sa'ad) berakhlak buruk (kasar) dan zalim terhadap keluarganya," pungkas Rasulullah Saw.

Kisah Kematian Seorang Raja Sombong

AkuIslam.ID - Ketika diberikan kesempatan memilih keadaan ketika nyawa dicabut, seorang raja yang juga mantan pendeta memilih mati dalam keadaan sujud. Permintaan itu dikabulkan karena tobatnya diterima Allah SWT.

Ilustrasi

Diriwayatkan oleh Wahab bin Munabbih, bahwa di zaman dahulu ada seorang pendeta Yahudi yang kemudian masuk Islam. Karena pengaruhnya yang besar, maka ia pun diangkat menjadi raja bagi rakyatnya. Akan tetapi raja itu masih belum juga meninggalkan seluruh kesombongannya.

Pada suatu hari, raja yang agung tersebut ingin berkuda ke seluruh pelosok kerajaannya. Ia ingin menunjukkan kehebatannya kepada seluruh rakyatnya. Rupanya saat itu datang iblis yang membisikkan sesuatu ke telinganya. Iblis itu merayu agar raja bersikap sombong dan memandang rendah orang lain.

Kemudian Raja itu memerintahkan para pejabat, pengawal dan pembesar kerajaan untuk menyiapkan kuda tunggangan agar masyarakat melihat kekuasaannya.

MALAIKAT MENYAMAR

Dalam sekejap, pakaian kebesaran dan kuda bernama AS Sabak telah siap di pintu kerajaan. Kuda As Sabak tersebut terkenal dengan kuda yang kuat dan cepat larinya. Dengan menegakkan dadanya. Raja memacu kuda itu di depan pasukan. Dia merasa bangga dan sombong dengan kehebatan dan kekuasaannya.

"Siapa yang dapat menyamai aku di dunia ini?" ujar Raja menyombongkan diri kepada rakyatnya dengan suara lantang.

Raja tak melihat seorang pun yang hebat di hadapannya. Namun, tiba-tiba dihadapannya berdiri seorang laki-laki yang berpakaian compang camping memberi salam. "Assalamualaikum, wahai raja," salam laki-laki itu.

Raja tak membalas salam itu. Bahkan, ia tak menggubris kehadiran laki-laki berpakaian lusuh itu. Merasa tak mendapatkan respon, laki-laki itu kemudian memegang tali kuda sang raja. "Lepaskan tanganmu dari tali kuda ini. engkau tidak tahu tali kuda siapa yang engkau pegang," kata raja dengan angkuhnya.

"Aku mempunyai keperluan denganmu," ujar laki-laki itu lagi.

"Baiklah, sabarlah, tunggu aku turun," jawab sang Raja.

Namun, sebelum raja itu turun, laki-laki itu kembali mencegahnya.

"Keperluanku adalah saat ini juga, bukan saat engkau turun dari kudamu," kata laki-laki misterius itu.

"Baiklah, katakan apa keperluannya," ucap Raja.

Laki-laki misterius itu kemudian membisikkan sesuatu ke telinga sang raja.

"Aku Malaikat Maut. Aku hendak mencabut nyawamu." ucap laki-laki yang ternyata malaikat maut itu.

MATI SAAT SUJUD

Mendengar penuturan itu, raja menjadi tegang. ia meminta kepada malaikat maut untuk menangguhkan pencabutan nyawanya sampai ia pulang dan berpamitan dengan istri dan anak-anaknya.

"Tidak, engkau tidak akan melihat mereka lagi untuk selamanya karena jatah umurmu sudah habis sekarang juga." ujar Malaikat Maut lagi.

Raja yang sombong itu kemudian bertobat dengan kesombongannya. Dan pertobatannya diterima Allah SWT. "Cara seperti apa yang engkau sukai ketika aku mencabur nyawamu? Aku diperintahkan mencabut nyawamu dengan cara yang engkau pilih dan engkau inginkan," kata Malaikat Maut.

"Izinkanlah aku mengambil air wudu dan melaksanakan shalat. Ketika aku sujud, cabutlah nyawaku," ujar raja.

Maka malaikat memberikan kesempatan kepada raja itu untuk berwudu dan melaksanakan shalat. Ketika tengah sujud, malaikat maut mencabut nyawa raja itu.

Ketika Iblis Terkalahkan

AkuIslam.ID - Bukan iblis namanya jika ia diam saja ketika melihat manusia istiqomah. Sama halnya ketika ia melihat Nabi Zulkifli memenuhi janjinya ke pada raja. Iblis menguji kesabaran dan kesanggupan beliau. Namun, sekali lagi iblis terkalahkan. Nabi Zulkifli tak mempan digoda iblis walau berkali-kali.

Ilustrasi

Basyar adalah seorang pemuda yang teguh pendirian serta sabar. Ia tinggal di sebuah negara yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Pada suatu hari, raja tersebut mengumpulkan semua rakyatnya. "Siapakah yang sanggup berlaku sabar, jika siang hari berpuasa dan jika malam hari beribadah?" tanya raja tersebut. Ternyata sang raja sedang mencari pengganti dirinya.

Mendengar pertanyaan itu, rakyatnya diam seribu bahasa. Mereka hanya bisa saling pandang tanpa mengatakan kesanggupannya.

Tak lama kemudian, seorang pemuda memecahkan keheningan. Sambil mengangkat tangannya, ia berkata ia sanggup melakukan apa yang diminta rajanya.

"Saya sanggup wahai Paduka," kata pemuda yang dikenal dengan nama Basyar itu.

"Benarkah apa yang engkau katakan wahai anak muda?" tanya raja.

"Aku sanggup berlaku sabar jika siang hari berpuasa dan jika malam hari beribadah," jawab Basyar. Sejak saat itulah dia dipanggil dengan sebutan Zulkifli yang artinya "Sanggup". Dan beliau akhirnya diangkat menjadi raja.

MENGGANGGU TIDUR

Zulkifli benar-benar bisa melakukan syarat yang diminta rajanya. Bila waktu malam telah tiba, ia beribadah dan di waktu siang hari, Zulkifli selalu berpuasa. Melihat keteguhan iman dan kesabaran Zulkifli ini, iblis laknatullah seolah tak rela. Bukan iblis namanya kalau dia merelakan suatu kebaikan.

Ketika iblis mengetahui Zulkifli hanya tidur dalam waktu yang tidak terlalu lama di malam hari, iblis berusaha mengganggu tidur Zulkifli yang hanya sebentar itu. Iblis berpikir bahwa bila ia berhasil membuat Zulkifli tidak tidur di waktu tersebut (malam hari), maka iblis yakin kalau Zulkifli akan kesulitan beribadah di tengah malam.

Iblis memiliki siasat untuk menghadapi Zulkifli dengan menjelma menjadi seorang kakek. kakek itu datang dan berpura-pura mengadukan nasibnya kepada Zulkifli. "Hamba seorang musafir, barang-barang hamba dirampok di perjalanan," kata Kakek itu.

"Datanglah besok pagi, akan kuputuskan masalahmu dalam sidang," jawab Zulkifli.

Namun, pada keesokan paginya, kakek itu tidak datang. Setelah ditunggu hingga sore di rumah sidang, kakek itu juga tak kunjung nongol. Namun, ketika malam harinya, saat Zulkifli hendak beristirahat, kakek itu datang lagi menghadap. "Memang engkau baru datang, bukanlah engkau berjanji akan datang pagi hari?" tanya Zulkifli.

"Orang yang merampok saya cerdik Tuanku. Jika waktu sidang dibuka, barang saya dikembalikan, dan jika sidang hendak ditutup, barang saya dirampasnya kembali," jawab kakek itu.

MENGUJI KESABARAN

Pada suatu malam, Raja Zulkifli sangat mengantuk. Ia telah berpesan kepada para penjaga agar menutup semua pintu dan menguncinya. Saat hendak membaringkan diri, terdengar suara pintu kamarnya diketok orang.

"Siapa yang masuk?" tanya Zulkifli kepada prajurit penjaganya.

"Tidak ada seorang pun yang masuk Tuanku," jawab prajurit.

Zulkifli heran, jelas-jelas tadi ia mendengar suara pintu diketuk. Lalu Zulkifli memeriksa sekeliling rumah dan ternyata dia menemukan kakek yang bermasalah tersebut.

Ia merasa heran, padahal semua pintu jelas telah terkunci rapat. "Engkau bukan manusia, engkau pasti iblis," kata Zulkifli.

"Ya, aku memang iblis yang ingin menguji kesabaranmu. Ternyata memang benar, engkau orang yang dapat memenuhi kesanggupanmu dulu," jawab iblis.

Karena siasatnya tidak berhasil, iblis pun akhirnya pergi. Nabi Zulkifli As memang terkenal memiliki kesabaran yang tinggi dan selalu mempergunakan akal sehatnya.

Penyesalan Seorang Nenek Buta

AkuIslam.ID - Karena mengingat dosa semasa hidup, seorang nenek yang sedang shalat jatuh tersungkur dan menangis. Ia merasa memiliki banyak dosa kepada sang Khalik. Subhanallah, karena tobatnya yang tulus itu, Allah mengambil nyawanya dengan sangat mudah. Bahkan saat roh sang nenek dicabut, ia sempat melihat keindahan surga.

Ilustrasi

Pada suatu saat, ada seorang nenek tua yang sedang shalat sambil menangis terisak di mimbar Nabi Daud AS. Saleh Al Muri melihat sang nenek menangisi semua dosa semasa hidupnya. Setelah selesai shalat, nenek itu mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa, "Ya Allah, Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahasia serta setiap getaran batin, tidak ada Tuhan bagiku selain Engkau ," doa nenek penuh penyesalan. Melihat sedemikian terpukulnya batin si nenek, Saleh Al Muri mendekati dan menyapa nenek itu.

"Assalamualaikum. Mengapa engkau shalat sambil menangis?" tanya Saleh Al Muri. Namun nenek tua itu tampak bingung mencari asal suara itu. Rupanya nenek itu mengalami kebutaan di kedua matanya, sehingga tak melihat sosok Saleh Al Muri yang berada di sampingnya.

"Apa yang menyebabkan engkau buta?" tanya Saleh lagi sebelum pertanyaan pertamanya dijawab.

"Wahai pemuda, aku menangis karena terlalu banyaknya melakukan maksiat kepada Allah SWT. Jika Allah tidak mengampuni dosaku, buat apa kedua mata ini bisa melihat, tetapi kelak di akhirat akan dibakar api neraka," terang nenek yang membuat Saleh ikut menangis karena sangat terharu mendengar penuturan nenek itu.

DIBACAKAN ALQURAN

Tampaknya, tangisan Saleh ini terdengar oleh nenek tua itu, sehingga nenek tidak melanjutkan bicaranya. Setelah suara menangis Saleh tidak terdengar, maka sang nenek ini melanjutkan bicaranya dengan suara agak pelan.

"Wahai pemuda, sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Alquran untukku. Karena aku sudah sangat rindu mendengarkannya."

Tanpa menunggu lama, Saleh langsung membacakan salah satu surat dalam Alquran. Dan kebetulan ayat yang dibacanya memiliki arti sebagai berikut, "Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya," (QS Al An'am: 91).

Setelah mendengarkan ayat tersebut, nenek itu bertanya lagi. "Wahai pemuda, siapakah sebenarnya orang yang beriman kepada-Nya dengan sebenar-benarnya iman?"

Mendapat pertanyaan itu, Saleh hanya diam. Dan ketika akan menjawab, tiba-tiba nenek itu terjatuh dan kemudian meninggal dunia seketika itu. Saleh merasa sangat bersedih dengan kejadian itu. Sehingga pada malam harinya Saleh bermimpi berjumpa dengan nenek itu.

KEINDAHAN SURGA

Dalam pertemuaan itu, sang nenek tengah mengenakan baju yang sangat indah. Apalagi dia kelihatan agak muda. Tentu saja membuat Saleh penasaran, "Wahai nenek, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Saleh penasaran.

"Alhamdulillah, aku sekarang ini baik-baik saja. Bahkan lebih baik dari hari kemarin. Bahkan saat rohku dicabut pun, tidak mengalami kesakitan," ujarnya singkat.

"Apa yang Nenek maksud? Apakah engkau bahagia sekarang ini?" kata Saleh yang tak puas dengan jawaban si nenek yang sesingkat itu.

"Wahai pemuda, saat rohku melayang, aku merasa melihat keindahan surga. Dan keindahan itu tidak bisa aku bayangkan. Indah sekali," ucap nenek terlihat riang gembira dan menampakkan wajah penuh kegembiraan.

Setelah kejadian itu, Saleh mengucap tasbih. Ia menyebut kebesaran kekuasaan Allah SWT. "Subhanallah, sungguh mulia tobat nenek itu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya," harap Saleh.
Monday, July 16, 2018

Menasehati Diri Sendiri

AkuIslam.ID - Kita tidak bisa mengajak orang lain, tanpa kita mengajak diri kita terlebih dahulu.

Ilustrasi

Suatu hari, datang seorang laki-laki menemui Abdullah bin Abbas. Dengan bersikap agak angkuh dan merasa pintar, ia kemudian mengajukan sebuah tawaran yang sekiranya bisa dipertimbangkan dengan matang sebelum di utarakan. Tetapi, anehnya, ia mengajukan tawaran itu dengan penuh rasa percaya diri dan tanpa perhitungan.

"Maukah engkau aku kasih nasehat?" kata lelaki itu kepada Abdullah bin Abbas.

Abdullah bin Abbas pun tak menolak dengan nasehat yang hendak disampaikan lelaki itu. Tetapi, sebelum laki-laki itu memberi sebait nasehat, Abdullah bin Abbas menjawabnya dengan mengajukan semacam syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu, "Ya, jika engkau memang tak takut tersinggung oleh tiga ayat al-Qur'an."

Lalu, Abdullah bin Abbas menyebutkan tiga ayat dalam al-Qur'an tersebut, antara lain: "Apakah kalian menyuruh orang lain berbuat baik sementara kalian melupakan diri kalian sendiri." (QS. Al-Baqarah [2]: 44; "Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan." (QS.  Ash-Shaf [61]: 3); serta "Dan aku tidak ingin menyalahi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang." (QS. Hud [11]: 88).

Lelaki itu mendengarkan dengan penuh takzim ayat demi ayat yang disebutkan Abdullah bin Abbas. Dia yang sedari awal ingin menasehati Abdullah bin Abbas, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pada akhirnya, Abdullah bin Abbas justru seakan-akan yang memberikan nasehat kepadanya. Sementara itu, ia hanya bisa diam seribu bahasa. Hingga akhirnya, Abdullah bin Abbas mengajukan pertanyaan, "Apakah engkau sudah mengamalkan ayat-ayat itu?"

Dengan tersipu malu, lelaki itu menjawab, "Belum."

"Jika demikian, mulailah dari dirimu sendiri."

Lelaki itu akhirnya mengamalkan apa yang hendak dinasehatkan, dan ia sadar bahwa sebelum dia menasehati atau mengajak orang lain berbuat sesuatu, sebaiknya dia "mensehati diri sendiri" terlebih dulu.

Memang, tak jarang kita menjumpai orang yang dengan berapi-rapi mengajak kita berbuat sesuatu. Padahal orang itu, kita tahu, belum mempratekkan dan mengamalkan apa yang dia nasehatkan. Sungguh ironis. Tak dimungkiri, bahwa setiap orang, pastilah ingin mengubah keadaan yang dilihat agar menjadi lebih baik.

Tapi kita tentu tidak bisa mengubah keadaan tanpa harus mengubah diri kita terlebih dahulu. Karena itu, untuk mengubah keadaan harus memulai dari diri kita sendiri. Kita tidak bisa mengajak orang lain, tanpa kita mengajak diri kita terlebih dahulu.