Kisah Abu Lubabah, Mengikat Dirinya Sendiri

Ilustrasi
Abu Lubabah dikenal loyal pada perjuangan Islam. Namun suatu hari ia tidak ikut perang dan memilih tinggal di rumah. Ia pun menyesal, tobat dengan cara mengikat diri sendiri ke tiang.

Pada suatu hari Abu Lubabah gelisah, merasa berdosa karena tidak ikut membela Islam di perang Tabuk. Perang Tabuk memang beda, medannya jauh, butuh waktu 15 hari berkuda untuk memerangi Romawi di tahun ke sembilan hijriyah. Tidak kurang dari tiga puluh ribu pasukan siap berangkat menuju medan jihad. Di antara mereka ada yang berkuda dan berunta.

Namun ketika itu, ada enam orang sahabat yang tertinggal, Abu Lubabah, Aus bin Khudzam, Tsa'labah bin Wadi'aj, Ka'ab bin Malik, Mararah bin Ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah. Abu Lubabah benar-benar terpukul dan menyesal tidak ikut berangkat.

"Demi Allah, saya akan mengikat diri pada tiang-tiang, Dan, tidak akan saya lepaskan talinya kecuali dilepas oleh Rasulullah," ucap Abu Lubabah spontan.

Aus dan Tsa'labah juga mengambil sikap yang sama dengan Abu Lubabah, mengikat diri di tiang hingga perang Tabuk usai. Tidak kurang, 45 hari mereka lalui dalam ikatan tali.

Sekembalinya dari Perang Tabuk, Rasulullah Saw di kabari tentang tingkah para sahabat yang mengikat diri pada tiang. Rasul mengatakan. 

"Siapa yang diikat di tiang-tiang itu?" tutur Rasulullah.

Seorang sahabat menjawab. "Mereka itu Abu Lubabah dan teman-temannya yang tidak ikut ke medan perang. Mereka berjanji tidak akan melepaskan diri kecuali jika Rasulullah sendiri yang melepaskannya."

Sejenak Rasul diam. Beliau Saw bersabda, "Aku tidak akan melepaskan mereka sebelum mendapat perintah (dari Allah)."

Jawaban itu membuat semua sahabat yang menyaksikan penderitaan Abu Lubabah dalam ikatan tali. Betapa mereka prihatin dengan Abu Lubabah. Seorang sahabat yang selama ini begitu setia dalam setiap perjuangan Rasul. Dalam hati mereka berharap, semoga Allah mengampuni dosa mereka sesegera mungkin.

TOBAT DITERIMA

Setelah menemui Abu Lubabah yang tetap terikat pada tiang, Rasulullah pulang ke rumah Ummu Salamah. Namun selepas ibadah malam, Ummu Salamah mendapati Rasul tersenyum.

"Ada apa, ya Rasul?" tanya Ummu Salamah.

Beliau Muhammad Saw menjawab, "Abu Lubabah diterima tobatnya."

"Bolehkan saya kabarkan berita gembira itu pada Abu Lubabah?" tanya Ummu Salamah begitu bersemangat.

"Terserah kepadamu," jawab Rasul pendek.

Sesaat itu juga, Ummu Salamah mengabarkan kepada para sahabat soal berita pengampunan dosa Abu Lubabah. Ia mengatakan, "Hai Abu Lubabah, bergembiralah! Karena dosamu telah diampuni dan tobatmua telah diterima."

Mendengar ucapan itu, orang-orang berkumpul; untuk melepaskan ikatan Abu Lubabah. Dengan isyarat sederhana, Abu Lubabah menolak. Sekali lagi, ia hanya ingin dilepas oleh Rasulullah Saw. Ia ingin tangan Rasul yang mulia melepaskan ikatan tali pada tubuhnya yang tega berbuat dosa.

Ketika waktu Subuh datang, Rasul keluar rumah untuk menunaikan salat berjamaah. Ketika itulah, beliau SAW menemui Abu Lubabah yang masih terikat. Saat itu juga, beliau melepas ikatan tali yang melilit tubuh Abu Lubabah lebih dari satu bulan.

Kisah tersebut sebagai as-babul nuzul surat attaubah ayat 102. "Maha Benar Allah dalam firman-Nya, "Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka. Mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS At-Taubah : 102).

Bertobat, Mati Dikelilingi Bidadari

Ilustrasi Padang Pasir Panas Tempat Kematian Shahib ( Foto @Pinterest )
Akibat punya perilaku buruk, Shahib diusir dari daerahnya. Ia pun tinggal di gunung gersang, merasakan penderitaannya. Di sanalah ia bertobat dan berdoa pada Allah. Akhirnya, dosa-dosanya pun diampuni. Ia mati dikelilingi bidadari.

Pada zaman Nabi Musa AS, ada seorang laki-laki zalim dan durhaka. Ia bernama Shahib dari Bani Israil. Karena sering membuat masalah, tentu saja penduduk sekitar tempat tinggalnya tidak suka kepada Shabib. Akhirnya, orang-orang kampung sepakat meminta untuk Shahib segera meninggalkan kampungnya.

"Lebih baik kamu keluar dari kampung sini, karena dosa kamu terhadap penduduk sudah tidak bisa dihitung lagi," kata tetuah kampung setempat yang bernama Husein.

Namun, Shahib tidak mau pindah juga. Tak lama kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Musa AS. Allah mengabarkan perihal di atas. Nabi Musa pun mendatangi lelaki itu dan juga turut mengusirnya dari desa tersebut. Laki-laki durhaka itupun angkat kaki dari desanya.

Tak lama kemudian, Shahib mengemasi barang dan pakaiannya. Ia meninggalkan rumahnya. Dalam perjalanan ia berpikir, daripada pindah jauh lebih baik pindah ke kampung sebelahnya. Akhirnya, Shahib menetap di desa dekat kampungnya dulu.

Setelah tinggal beberapa hari di tempat yang baru itu, Allah mewahyukan lagi kepada Nabi Musa AS agar mengusir Shahib dari desa tadi.

Mendengar Shahib masih dekat dengan tempat tinggalnya dulu, akhirnya Nabi Musa mendatangi Shahib, apalagi Musa telah mendapat wahyu dari Allah, supaya mengusir laki-laki itu. "Wahai Shahib, kamu jangan bertempat tinggal di sini lagi. Pergilah yang jauh dari sini," seru Nabi Musa.

DIUSIR LAGI

Nampaknya, pengusiran kali ke duanya ini membuat Shahib sakit hati. Shahib pun keluar lagi dari desa tersebut. Ia berjalan tanpa arah. Karena pikirannya sudah kacau lagi pusing, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke sebuah gurun gersang. Di tempat tersebut tidak ada orang tinggal sehingga tidak mungkin ia diusir lagi dari situ.

"Kalau begitu, aku akan berdiam di sini saja selamanya. Di gurun gersang seperti ini aku yakin tidak ada orang yang mengusir aku lagi. Dan, aku juga senang bertempat tinggal di sini," katanya dalam hati.

Tak lama setelah bertempat tinggal di gurun gersang, ia jatuh sakit, karena kekurangan makan. Sakitnya kian hari kian parah. Ia tergeletak tak berdaya di atas pasir panas. Penderitaan memang tak tertahankan lagi baginya. Karena tidak ada yang dmintai pertolongan, akhirnya Shahib mengadu dan mengeluh meratapi nasibnya.

"Wahai Tuhan, andai aku dalam pengkuan ibu, maka pastilah ia menyayangiku, ia akan menangisi atas kehinaanku ini. Andaikala ayahku di sisiku, pastilah ia akan menolongku, memandiklanku, mengkafaniku. Andai kata istriku ada di sisiku, pastilah ia menbangisi kepergianku. Andaikata anak-anakku ada di sini, pastilah mereka akan menangisi di belakangku dan berdoa, 'Ya Allah, ampunilah orang tuaku yang asing, lemah, suka maksiat, fasik yang diusir dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga terdampar di gurun yang gersang ini. Ia mati menuju akhirat dalam keadaan putus asa kepada semuanya, kecuali kepada rahmat Allah.'

"Ya, Allah, Jika Engkau putuskan aku dari ibuku, anak-anakku, istriku, maka jangan Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Hatiku terbakar karena berpisah dari mereka, maka jangan Engkau bakar aku dengan api-Mu karena maksiatku."

BIDADARI

Subhanallah, Allah pun mengirimkan bidadari-bidadari yang menyerupai ayahnya, ibunya, istrinya, dan anak-anaknya. Mereka semua duduk mengelilingi Shahib dan meratapinya. Ia pun menjadi tenang, karena seakan-akan ia dikelilingi oleh ibunya, istrinya, anak-anaknya dan ayahnya.

"Ya Allah. Jangan Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu."

Lantas, Shahib wafat dengan tenang, Ia menghadap Allah dalam keadaan bersih, karena dosanya terampuni. Allah menurunkan wahyu ke Musa, "Hai Musa, pergilah ke gurun. Di sana ada salah seorang waliku wafat. mandikan, kafani, salati dia."

Karena mendapat perintah dari Allah, maka Nabi Musa pun segera datang ke tempat yang dimaksud. Betapa kagetnya ia ketika menemukan orang yang disebut Allah sebagai wali-Nya itu adalah lelaki yang ia usir justru atas perintah Allah. Musa melihat ada bidadari di sisi mayat lelaki itu sedang menangisinya. "Wahai Tuhan, bukankah ini pemuda fasik yang kuusir atas perintah-Mu?"

"Benar, ya Musa. Aku merahmatinya. Aku ampuni dosanya karena keluhnya waktu sakit, yaitu karena perpisahannya dengan kampung halamannya, orang tua, anak-anak dan istrinya. Kukirim bidadari seperti ibunya, dan malaikat seperti ayahnya. Juga karena rahmat-Ku, di mana ia telah terhinda dalam keasingan. Jika orang terasing mati, menangislah penghuni bumi dan langit karena rasa kasihan, Aku juga kasihan padanya. Aku adalah zat yang Mahakasih Mahasayang.

Sahabatku Menjadi Maduku

Ilustrasi ( Foto @nusabali.com )
Aku tak menyangka, keakraban suami dan sahabatku ternyata berujung pada pengkhianatan. Suami yang kucintai tega menduakanku. Hatiku makin hancur, karena sahabat yang kusayangi ternyata juga menginginkan bahtera rumah tangga dengan suamiku.

Aku Atikah (40). Aku seorang ibu rumah tangga, sekaligus aktivitas di sebuah organisasi sosial kemasyarakatan. Sejak sebelum menikah, aku memang sudah aktif dengan berbagai kegiatan sosial. Pun setelah menikah, aku tetap aktif dalam organisasi sosial Islam. Aku juga bersyukur, punya suami, Haris, yang sangat mensupport segala aktivitasku.

Hampir 15 tahun pernikahanku dengan mas Haris, alhamdulillah kami sudah dikaruniai tiga anak yang saleh dan manis-manis. Si sulung saat ini masih kelas tiga SMP, sementara si bungsu kelas empat SD. Saya benar-benar menjadi wanita yang beruntung.

Kesan gaul, serta cekatan, mengantarkan aku menjadi ketua cabang di organisasi yang aku ikuti. Dari situ aku memiliki banyak teman, namun di antara banyak teman itu aku menemukan Naura (35) wanita cerdas yang bersahaja. Aku senang sekali dengannya, karena dia menjadi patnerku yang hebat dalam mengelola organisasi ini. Akupun mengangkatnya sebagai bendaharaku, dengan harapan organisasi bisa berjalan lebih maksimal.

KUTEMUKAN CHEMISTRY

Alhamdulillah, ternyata harapanku benar-benar terwujud. Aku tidak salah memilih Naura sebagai patner dalam kepengurusan ini. Bahkan aku terpilih lagi menjadi ketua cabang di dua periode berikutnya. Berawal dari situ, akhirnya terjalin chemistry antara aku dan Naura. Hubungan kami sangat dekat, bahkan melebihi hubungan peraudaran. Bahkan waktu kami habiskan bersama, bahkan untuk hal-hal yang sifatnya pribadi. Misalnya saat aku atau anakku sakit, aku ditemani oleh Naura. maklumlah Mas Haris memiliki kesibukan yang cukup tinggi. Kerap kali tidak bisa menemani aku dan anak-anak.

Sementara Naura, merupakan aktivis yang masihh single. Sehingga dia tidak terbebani dengan kegiatan keluarganya. Alhasil kamipun lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Kebetulan kami memiliki hoby yang sama, yaitu membuat kue, dan berdiskusi.

Dalam lingkungan kami, ada beberapa orang yang kurang setuju melihat keakraban kami. Pernah suatu ketika, salah satu sesepuh organisasi menegur kedekatan kami. "Bersahabat itu baik, tetapi jangan sampai terlalu dekat seperti itu, kita tidak tau apa yang akan terjadi di hari esok," ujar beliau. Namun saat itu aku meyakinkan, bahwa hubungan kami murni dilandasi kekeluargaan.

Banyak orang yang mengkhawatirkan kedekatan mas Haris dengan Naura. Maklumlah Naura masih single dalam usia yang bisa dikatakan dewasa untuk menjalani rumah tangga. Namun, lagi-lagi aku membantak kekhawatiran itu. Bahkan aku sering melibatkan Naura dalam aktivitas keluargaku. Sesekali Naura pergi diantar oleh Mas Haris. Saat itu aku benar-benar ikhlas.

SUAMIKU DIREBUTNYA

Berbekal kepercayaan itulah, Aku merelakan suamiku mengantarkan Naura dalam beberapa acara, saat aku berhalangan hadir. Aku melihat hubungan suamiku dengan Naura memang lebih dekat dibandingkan di awal-awal perkenalan mereka. Bahkan kami bertiga kerap kali beradu argumen dalam sebuah diskusi ringan di rumah. Namun saat itu aku tidak menaruh curiga. Sebaliknya aku bersyukur mereka cocok, dan kami bisa bersaudara.

Rupanya semua anggapanku terhadap Mas Haris dan Naura benar-benar salah. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Mas Haris minta ijin kepadaku untuk menikahi Naura. Allahu Akbar, ada apa ini, jeritku kala itu. Tak terahan air mataku langsung membanjiri wajahku, tubuhku lemas lunglai. Ya Rob, apa salahku, sampai-sampai suami yang paling aku cintai dan percaya ingin menikahi sahabatku. Saat Mas Haris memelukku sambil menenangkanku, aku tidak kuat untuk menolak pelukan yang tidak kuinginkan itu.

Demi Allah, saat itu juga pesona Mas Haris dan Naura langsung luntur di mataku. Tentu bisa dibayangkan betapa perihnya dihianati oleh orang yang Anda percayai dan sayangi.

Di belakangku, tanpa restuku, Mas Haris dan Naura nekat menikah secara siri. Meskipun sakit, tetapi aku mencoba ikhlas. Namun bukan berarti aku bisa menerima Naura sebagai maduku. Aku biarkan did alam hubungan yang tidak resmi dalam catatan Negara. toh Mas Haris pun tidak berani menceraikan aku. Saat itu, aku meminta dia memilih aku atau Naura. Ternyata, di depanku dia memilihku, tapi di belakangku dia lebih memilih perempuan itu. benar-benar laki-laki berkualitas rendah (astaghfirullah hal azim)!

Aku sengaja tidak mau menggungat cerai suamiku, kalau memang kami bercerai, biarlah itu keputusan dia. Saat ini aku hanya ingin tampil kuat di hadapan anak-anakku, dan mengantarkan mereka menjadi anak-anak yang saleh dan bermanfaat untuk bangsa dan agamanya.

Satu hikmah yang bisa aku ambil, jangan pernah meremehkan masukan dari orang lain, meskipun itu tampak tidak mungkin. Kita harus tetap merenungkan segala sesuatu yang kita dengar. Siapa tahu melewati ucapan orang tersebut, sebenarnya Allah telah mengingatkan kita. 

Dilarang Salat, Haruskah Berhenti Kerja?

Ilustrasi Shalat Berjamaan Di Mushola Kantor ( Foto @U-Report )
Saya seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta dan sudah 10 tahun bekerja. Tapi sudah seminggu ini saya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut, dengan alasan untuk mengurus anak di rumah. Tapi sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan saya, karena sebenarnya saya tidak bisa beribadah dan salat di kantor, padahal salat itu cuma makan waktu 5 menit.

Dikarenakan pekerjaan yang menumpuk yang begitu banyak padahal saya bekerja tiap hari sampai malam jam 20:00. Tapi pekerjaan itu tetap tidak terselesaikan juga. Padahal saya sudah menghadap atasan saya tapi tidak ada tanggapan apa-apa, akhirnya saya memohon doa kepada Allah meminta jalan yang terbaik untuk saya.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk berhenti bekerja, padahal kalau dilihat dari segi ekonomi keluarga saya belum terbilang mampu / cukup.

Pertanyaan Dari Sumiyati Dari Jakarta, Buat Yang Mau Bertanya Mengenai Masalah - Masalah Yang Dialami Bisa Kirimkan Melalui Email ceramahbersama@gmail.com Dengan Subject 'Tanya'.

JAWABAN :

Pada dasarnya bekerja itu untuk mencari nafkah juga supaya kita mendapatkan keberkahan dan keridhaan dari Allah SWT. Jika Anda sudah tidak mendapatkan ketenangan batin apalagi dilarang salat, maka sebaiknya Anda memutuskan untuk berhenti bekerja.

Anda harus yakin dan tetap optimis bahwa rejeki Allah itu luas bukan hanya dari satu perusahaan saja melainkan dari mana saja datangnya rejeki. Mungkin Anda tidak berjodoh dengan perusahaan tersebut sehingga Anda berhenti.

Firman Allah SWT surah Al-Mulk ayat 15 yang artinya, "Dialah Dzat yang telah menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjuru dan makanlah sebagaian rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

Ayat di atas menjelaskan bahwa rejeki Allah itu luas dan bukan hanya bersumber dari pekerjaan saya, melainkan banyak cara seperti berdagang, petani, nelayan dan sebagainya. Oleh karena itu, carilah rejeki Allah yang halal dengan segala kemampuan yang ada dan jangan lupa berdoalah agar diberikan jalan yang lapang. Seperti doa yang diajarkan Nabi SAW yang artinya, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari susah dan sedih, lemah dan malas, takut dan kikir, serta tertekan utang dan penindasan orang lain."

Bolehkan Menikah Dengan Sepupu?

Ilustrasi
Saya anak pertama dari empat bersaudara. Sudah satu tahun ini saya menikah dengan sepupu. Selama ini orang tua dan keluarga sangat mendukung. Namun saya tidak mencintai dia. Saya sering kerap sekali bersikap pura-pura sayang kepada suami, agar keluarga saya menjadi lebih baik. saya ingin menanyakan apakah hukumnya pernikahan antar sepupu? 

Apakah sikap saya terhadap suami selama ini, karena saya tidak mencintai suami saya ?

Pertanyaan Yang Di Kirim Sahabat Ulfa Dari Mojokerto.

JAWABAN :

Pernikahan sepupu saha di lakukan karena bukan mahram. Surat An-Nisa ayat 23, yang artinya, "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua)."

Rasulullah SAW menganjurkan agar memilih perempuan yang jauh dibanding perempuan yang dekat nasabnya agar gen-gen yang buruk tidak terkumpul dalam keturunan mereka. Pernikahan sepupu merupakan pernikahan nasab terdekat, karena itu biasanya wajar jika tidak saling mencintai, karena hubungan persaudaraan yang dekat. Islam mengajarkan suami istri itu harus saling menyayangi dan bertanggungjawab, karena itu selama Anda masih memenuhi tanggungjawab sebagai istri, Anda tidak berdosa.

Teruslah ikhtiar dan berdoa agar Anda dan suami saling mencintai. Mungkin perlu waktu lama untuk dapat mencintai suami. Dalam konsep Islam, menikah adalah untuk beribadah. Sampai-sampai bersetubuh (berhubungan suami-istri) pun termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah Saw bersabda : "Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!" Mendengar sabda Rasulullah itu para keheranan dan bertanya : "Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala?" Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: "Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa?" Jawab para sahabat : "Ya benar". Beliau bersabda lagi : "Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!". (HR Muslim, Ahmad dan Nasa'i).

Bolehkan Memakai Aksesori Berlafal Allah SWT

Kalung Berlafadz Allah ( Foto @U-Report )
Bagi seorang hamba, mengenakan pernik atau aksesori yang melambangkan Tuhannya merupakan kebanggan. Begitu juga bagi muslimah, mengenakan kalung atau aksesori lainnya berlafadkan Allah, menjadi kebanggan tersendiri. Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam?

Yanti (21) seorang mahasiswi sebuah TPS di Surabaya. Yanti, memiliki teman kuliah dari berbagai daerah dan penganut sebagai keyakinan yang berbeda. Karena itulah, dia menggenakan kalung dengan liontin membentuk lafad Allah. Dia bertujuan untuk menunjukkan kepada teman-temannya tersebut kalau dirinya seorang muslimah. Dia pun bangga menjadi muslimah. Seperti penganut Kristiani yang bangga mengenakan kalung dengan liontin salib.

Pertanyaannya, apakah dalam Islam diperbolehkan mengenakan aksesori yang mengandung lafad Allah. Apakah ada aturan khusus tentang penggunaan lafad Allah tersebut ?

JADI KEBANGGAN

Sebagai seorang muslimah memang harus bangga. Untuk mewujudkan rasa bangga itu bisa dengan banyak cara. Mulai dengan mengerjakan syariat sesuai apa yang diajarkan Rasul. Mengenakan atribut keislaman sesuai yang dianjurkan. Misalnya mengenakan busana muslim dan menutup aurat di setiap aktivitas yang dijalani. Menunjukkan potensi yang dimiliki, bahwa muslimah juga bisa berkarya serta berkreasi atau yang lainnya.

Mengenai penggunaan aksesoris dengan detail lafad Allah, tidak ada larangan mengenai hal tersebut. Bahkan, Rasulullah memiliki cincin dengan lafad Muhammad Rasulullah. Cincin ini pun kerap kali menghiasai jari suami dari Siti Khadijah ini.

Artinya, umat Islam boleh mengenakan sesuatu yang memiliki detail atau bertuliskan lafad Allah. Tentunya penggunaan atribut tersebut harus disertai dengan niatan yang baik, salah satunya adalah dengan niat syiar. Menunjukkan kepada semua orang bahwa Anda adalah seorang muslimah, yang bangga akan keyakinan tersebut.

Namun, yang harus diingat oleh seluruh muslimah, bahwa sebagai umat Islam, harus senantiasa mensucikan nama Allah. Begitu juga saat penggunaan aksesori yang berlafadkan nama Allah, harus mampu menjaganya dari hal-hal yang buruk. Memang tidak harus dalam kondisi suci (memiliki wudu), tetapi harus mampu menjaganya.

HARUS DILEPAS

Contohnya ketika akan masuk kekamar kecil/kamar mandi, atau ditempat-tempat yang jorok, maka harus melepaskan terlebih dahulu aksesoris tersebut. Hal ini seperti yang di contohkan oleh Rasulullah. Saat akan memasuki kamar kecil, Nabi selalu melepaskan cincinnya yang bertuliskan Muhammad Rasulullah tersebut.

"Apabila Nabi memasuki tempat buang air (WC), beliau selalu menanggalkan cincinnya". (HR Al Khamsah kecuali Ahmad).

Hadis di atas juga disahihkan oleh Imam At Tirmidzi dan dibenarkan pula bahwa ukiran pada cincin tersebut bertuliskan Muhammad Rasulullah. Hal ini sebagaimana juga diriwayatkan oleh Baihaqi dan Hakim.

Meskipun demikian, jika kondisi tertentu, seperti adanya kekhawatiran, aksesori tersebut hilang jika dilepaskan, maka pengunaannya dimakfu. Tetapi jika tidak ada alasan seperti ini, maka wajib untuk melepaskannya.

Sehingga, bagi para muslimah yang ingin mengenakan aksesori dengan lafad Allah, harus menyiapkan diri. Jangan sampai niat yang baik tersebut membuat Anda tidak lagi menyucikan Allah. Wallahu a'lam bissowab.