Monday, September 17, 2018

Meninggal Dengan Tangan Bengkok Ke Atas

AkuIslam.ID - Ia menderita lahir batin sampai masuk ke liang lahad. Apa pasalnya?

Ilustrasi

Kekayaan itu titipan Allah. Ia bisa menjadi sebongkah ujian. Sudah semestinya harta titipan itu membuat orang ingat dan selalu bersyukur. Tetapi, tidak demikian dengan Muniroh (50 tahun, bukan nama sebenarnya).

Ia memiliki suami kaya, sebut namanya Munarwan (60 tahun), seorang bos pisang yang kayang di Kampung Durian (sebut saja seperti itu). Kelebihan harta itulah yang membuat ia sombong, congkak dan suka meledek orang lain.

Lebih dari itu, ia sering menggunjing kejelakan orang dan kerap merendahkan orang; merasa derajatnya lebih tinggi. Akibatnya, ia tak disukai para tetangga. Akibat ucapannya yang cela itu, ia kerap bersitegang dengan tetangga hingga berakhir pertengkaran.

Kelakuan Muniroh itu ternyata baru sebagian dari sifatnya. Sebab, selain tak baik kepada orang lain, ia juga tega berbuat kurang ajar terhadap ibunya, Supinah (bukan nama sebenarnya) dan adik kandungnya, Sofiah (45 tahunm bukan nama sebenarnya).

DURHAKA KEPADA IBU KANDUNG

Sofiah mempunyai rumah tepat di sebelah rumah Muniroh. Di rumah Sofiah itulah tinggal Supinah, ibu Sofiah dan Muniroh, yang sudah uzur. Tetapi, Muniroh seakan acuh. Ia tak mau merawat ibunya, merasa terbebani dengan hidup ibunya yang sakit-sakitan itu.

Suatu hari, Sofiah harus mengantar makanan buat suaminya, Sobari (55 tahun, bukan nama sebenarnya) yang sedang bekerja di sawah. Tetapi, ia bingung karena ketiga anak lelakinya sekolah. Maka ia menitipkan ibunya ke Muniroh untuk menjaga selama ia ke sawah.

Apalagi, ibu kandungnya itu sejatinya bukan orang lain, tetapi ibu kandung Muniroh juga. Terlebih, rumah Muniroh berdekatan sehingga hal itu tak memberatkan.

"Kak, saya mau pergi ke sawah sebentar, mengantar makanan buat suami. Saya titip ibu. Tolong ibu ditengok yah. Sebab di rumah tidak ada siapa-siapa. Anak-anak pada sekolah."

Tapi, Muniroh diam saja. Ia tidak menjawab sepatah kata pun, ia tak menjawab sanggup atau menolak. Semula, Sofiah ragu meninggalkan ibunya. Tapi, apa yang dapat ia lakukan? Ia berpikir, tak apa meninggalkan ibu sejenak dan menitipkan ibunya pada kakak kandungnya. Ia berniat akan cepat-cepat pulang.

Sebelum pergi, ia berpesan kepada ibu kandungnya: jika ada apa-apa, ibunya diminta memanggil Muniroh karena ia mau pergi ke sawah mengantar makanan. Usai berpesan singkat, ia pun pergi. Tapi, tak lama setelah pergi, setelah sosoknya hilang di tikungan jalan kampung, ternyata dari dalam rumah, tiba-tiba ibunya sudah tua itu memanggil-manggil. Namun, Sofiah sudah terlanjut pergi dan tidak mungkin mendengar panggilan ibunya.

Dalam kondisi seperti itu, sudah seharusnya Muniroh yang dititipi ibunya cepat dan sigap berbuat sesuatu. Tapi, seperti hari-hari yang lain, Muniroh hanya diam saja. Ia cuek dan tak mau peduli. Padahal, ibunya itu sudah jompo; tidak bisa makan dan minum sendiri kecuali harus disuapi.

Demikian juga dengan halnya buang air besar dan kecil. Ibunya sudah tidak lagi bisa pergi ke toilet. Semuanya serba dibantu. Kini Sofiah tidak ada di rumah. Dan sudah seharusnya, Muniroh sadar dan mau membantu ibunya yang sedang butuh pertolongan itu.

Sayang, lagi-lagi, panggilan ibunya itu seperti angin lalu. Ia membiarkan ibunya itu menjerit kesakitan, padahal wanita yang dulu melahirkannya itu butuh pertolongan.

"Muniroh....! Tolong....!" ibunya berteriak memanggil namanya.

Hati Muniroh tetap tidak tergerak. Di rumahnya, ia berselonjoran kaki dan asyik berleha-leha. Meskipun ibunya di rumah sebelah terus memanggil-manggil, ia tetap diam seribu bahasa. Ia pura-pura tak mendengar jeritan ibunya, bahkan ia seperti tak mendengar kesakitan yang dirasakan ibunya. Hingga akhirnya sang ibu berteriak dengan kencang, berkali-kali dan tak henti-henti.

Rupanya, panggilan ibunya itu membuat telinganya panas. Sebab, ibunya terus berteriak-teriak, tiada henti-henti lantaran memang butuh pertolongannya. Ia pun kesal dan jengkel ketika mendengar ibunya terus memanggil.

Tapi ia bukannya bertindak cekatan ke rumah sebelah untuk menolong ibu kandungnya, ia malah berlari ke belakang rumah lalu mengambil air segayung dari kamar mandi, kemudian buru-buru ke rumah adiknya.

Begitu masuk, ia langsung menuju kamar tempat ibunya berada. Dengan sigap, ia siramkan air segayung itu ke sekujur tubuh ibunya! Malang tidak dapat ditolak, ibunya sudah terlanjut basah. Sang ibu kaget luar biasa lantaran diguyur air tiba-tiba. "Dasar nenek peyot! Sudah tua, bau bangkai, masih saja suka mengganggu orang," maki Muniroh.

Tentu, ibunya bengong dan terkejut melihat ulah Muniroh yang kurang ajar dan berbuat diluar dugaan itu. Sungguh tercela. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menerima perlakuan kurang ajar itu dengan memendam kecewa dan perih. Bahkan, dalam hati, ia pun menggumamkan kata-kata penyesalan karena telah melahirkan anak yang kurang ajar seperti Muniroh.

Walau demikian, Muniroh tidak merasa bersalah. Bahkan, tak lama kemudian, ia masih menimpali lagi dengan kata-kata yang lebih pedas. "Lebih baik, kamu mati saja daripada hidup tapi menyusahkan orang lain."

Hati ibunya benar-benar bak disayat sembilu. Pedih dan perih. Tapi, apa yang bisa ia perbuat? Ia sudah tua dan tidak bisa bergerak dan berbuat banyak. Ia tak henti-henti hanya memandang tajam wajah anaknya dengan tatapan tak percaya sekaligus kecewa. Semuanya campur aduk dengan kemarahan tertahan.

Muniroh sungguh berbeda dengan Sofiah yang selalu lembut dan sopan memperlakukan ibunya. Sofiah selalu penuh perhatian, bahkan tidak pernah sekali pun berkata kurang sopan terhadap ibunya. Ia halus dan penuh kasih sayang.

Itu tidak lain sebab ia merasa ibunya dulu telah banyak berkorban, mempertaruhkan nyawa ketika melahirkannya. Itu yang membuat ia merasa harus membalas segala jerih payah, kebaikan dan pengorbanan ibunya.

Andaikan ia menghitung, ia tak akan bisa membalas jasa ibunya. Alasan itu yang membuat Sofiah tak pernah membentak, apalagi berkata kasar kepada ibunya. Karena itu, ibunya lebih suka memilih tinggal di rumah Sofiah daripada tinggal di rumah Muniroh, meski Sofiah tidak memiliki apa-apa dan tergolong miskin.

Perlakuan kurang ajar Muniroh terhadap ibunya yang seperti itu tidak sekali dua kali saja, tetapi sudah berkali-kali. Bahkan, ketika ibunya sudah kian mendekati ajal, Muniroh tetap tidak segera insyaf. Ia tetap tidak menaruh hormat kepada ibunya, malah menghina dengan ucapan pedas. Ia bahkan tidak mau meminta maaf, bahkan beberapa hari sebelum ibunya meninggal, ia masih sempat mengucapkan kata-kata yang kurang enak didengar, "Sudah bau tanah, biarkan mati saja...."

TANGAN BENGKOK

Akhirnya, Ibu Muniroh meninggal dunia. Dan beberapa tahun kemudian setelah ibunya meninggal, rupanya Allah memberi peringatan. Muniroh mendapatkan balasan. Awalnya, suaminya meninggal. Setelah itu, ia yang jatuh sakit. Lantaran sakit cukup parah. ia sempat dirawat di rumah sakit. Apalagi, ia menderita sakit yang aneh. Tubuhnya kaku, kedua tangannya bengkok ke atas; tidak bisa digerakkan ke bawah, ke kiri atau pun ke kanan.

Awalnya, dia masih bisa jalan. Tapi setelah itu ia tidak bisa apa-apa lagi. Untung, ia memiliki anak perempuan yang mau merawat. Jadi, kalau ia mau mandi, ia diangkat seperti boneka. Makan pun disuapi, lantaran sudah tidak bisa apa-apa.

Ia yang dulu bermulut pedas kini seperti tidak bisa berbicara lagi. Ia lebih banyak diam, dan membisu. Ia yang dulu suka menghina orang kalau ribut dengan tetangganya dan suka mengumbar sumpah serapah, kini hanya bisa terdiam. Jangankan tertawa terbahak-bahak, tersenyum pun terasa susah.

Cukup lama ia sakit, hingga ajalnya pun datang. Tapi, ketika ia meninggal, tangannya itu tetap bengkok ke atas bahkan tangannya itu tak dapat disedakepkan. Jadi, ketika dimakamkan, kedua tangan almarhumah masih dalam kondisi bengkok ke atas, tidak bisa diluruskan seperti umumnya orang yang meninggal dunia.

Semua itu tak lain buah dari kedurhakaannya kepada sang ibu. Firman Allah: "...dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Israa' [17]: 23).

Meredakan Amarah, Mencegah Sakit Jantung

AkuIslam.ID - "Ya Rasulullah, nasihatilah saya. Rasulullah menjawab: Jangan kamu marah." (HR Bukhari).

Ilustrasi

Marah adalah hal pasti yang pernah dialami setiap orang. Ia merupakan mekanisme alami dalam diri seseorang. Marah yang keluar secara normal adalah pereda stres, karena jika emosi ini dipendam akan membuat seseorang tertekan.

Karenanya, marah sebenarnya adalah proses normal bagi manusia. Namun, jika marah tak terkendali dan orang lebih sering marah dalam hidupnya ketimbang tenang, maka itu akan membawa keburukan bagi kesehatan.

Marah itu ibarat percikan api di dalam dada yang kemudian membakar dan menggolakkan darah. Orang yang marah umumnya memerah mukanya, sebab darah mengalir ke bagian atas tubuh lewat pembuluh darah secara cepat.

Saat marah, terjadi kekacuan pada fungsi jantung dan otak. Inilah yang menjadi efek negatif. Seseorang yang marah akan meningkat degup jantungnya secara drastis, begitu pula tekanan darah dan hormon testosteronnya.

Ini akan sangat berbahaya bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi dan memiliki penyakit kolesterol.

Saat jantung bekerja lebih berat di luar kebiasaannya, saat itulah jantung memperoleh masalah. Dinding arteri akan menebal dan mengeras. Karena itu resiko serangan jantung pada orang yang suka marah-marah meningkat mencapai 40% dibanding orang yang selalu tenang atau senantiasa bergembira.

Pola ini merata hampir dialami oleh semua orang di dunia. Siapa saja yang melanggengkan sikap pemarah, maka siap-siaplah terkena resiko serangan jantung, hipertensi dan stroke.

MEREDAKAN AMARAH DENGAN WUDHU

Sikap kita dalam merespon sesuatu yang bisa membuat kita marah karenanya sangat penting disini. Kalau marah kita lampiaskan secara tak terkendali, maka itu akan merusak tubuh kita.

Tapi menafikan kemarahan juga tak baik, sebab itu berarti kita tak lagi memiliki mekanisme pertahanan diri seperti saat orang menghina kehormatan diri dan keluarga kita. Yang terbaik adalah sikap bijaksana yakni tak melampiaskan amarah secara berlebihan tapi juga tak menafikan amarah dalam diri.

Selain sikap bijaksana yang dikedepankan, ada satu resep mujarab dalam Islam yang bisa meredakan amarah, yakni berwudhu. Abdu Tawwab Abdullah Husain sebagaimana dikutip Dr. Jamal Elzaky menyebut bahwa saat berwudhu kita secara tidak sadar memijat titik-titik penting di kepala, wajah, pergelangan tangan dan kaki.

Secara hakikat, wudhu akan menyegarkan tubuh sebab titik-titik itu tersentuh air dan memperoleh sentuhan kesehatan yang efektif. Jika ini dilakukan rutin terus-terusan setiap hari, maka efeknya akan sangat bagus.

Inilah yang kadang membuat orang yang sering berwudhu cenderung tenang dan wajahnya putih sebab darahnya mengalir dengan lancar dan normal.

Marah yang diikuti sama halnya dengan mengikuti bahaya yang menghancurkan diri kita. Maka kendalikanlah amarah Anda dengan bijak dan kalau kira-kira Anda tak bisa mengendalikan amarah, segeralah berwudhu. Dengan itu, Anda merawat jantung, otak dan pembuluh darah Anda yang sangat vital perannya bagi kesehatan Anda.

Kesalahan Istri Diungkit Terus Padahal Sudah Minta Maaf

AkuIslam.ID - Saya ibu rumah tangga yang tinggal di Lampung dan mempunyai persoalan dalam keluarga. Saya berumah tangga sudah 14 tahun, tapi saya selalu membuat masalah.

Ilustrasi

Terakhir saya mempunyai utang yang jumlahnya tidak sedikit. Akan tetapi, saya sudah menyesalinya dan berjanji kepada suami dan diri sendiri bahwa saya tidak akan mengulanginya.

Saya benar-benar bertaubat dengan sungguh-sungguh. Sayangnya, setiap kali kami bertengkar, suami selalu mengungkit masalah utang-utang saya. Saya gerah mendengarnya dan terkadang tersulut emosi.

Terakhir, suami sudah mulai memukul dan mengucapkan kata-kata kasar, bukan hanya kepada saya tapi juga selalu menjelek-jelekkan orangtua dan keluarga saya.

Terus terang, saya tidak terima. Kalau pun saya dipukul dan dihina tidak apa, karena memang saya yang salah, dan perlu diketahui saya berutang karena membantu teman yang sedang ada masalah.

Bagaimana cara saya agar bisa tabah dalam menghadapi semua masalah ini dan adakah doa agar saya bisa sabar dan ikhlas?

Diatas adalah pertanyaan/curhatan dari Sahabat AkuIslam.ID dari Palembang

Saya yakin yang namanya manusia pasti punya kesalahan dan kekhilafan. Karena kita sebagai manusia tidak ada yang sempurna.

Dalam konteks berkeluarga Allah berfirman, "hunna libaasul lakum wa antum libaasun lahunn: Engkau adalah pakaian (suami), dan (suami) adalah pakaian istri."

Dalam kehidupan berkeluarga itu, antara suami dan istri harus saling melengkapi dan menutupi. Fungsi dari pakaian adalah menutupi dan melengkapi.

Seorang suami adalah manusia biasa yang pasti punya banyak kekurangan. Begitu juga sebaliknya. Kelebihan suami harus bisa menutupi kekurangan istri, begitu juga sebaliknya.

Kalau seandainya suatu kesalahan istri atau suami diungkit-ungkit oleh pasangannya, maka itu artinya ia selalu mengorek-orek kesalahan yang pada dasarnya merupakan milik manusia.

Allah berfirman, "Jangan batalkan sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima sedekah tersebut." (QS. al-Baqarah: 264).

Kalau seorang suami sudah memaafkan kesalahan istri, maka itu adalah sedekah bagi suami.

Ketika (maaf) itu sudah dilakukan, maka jangan diungkit-ungkit. Sama saja artinya dia mengungkit-ungkit kebaikan berupa asedekah yang sudah dia berikan kepada orang lain.

Wanita Sudah Bersuami Menyukai Pria Sekantor

AkuIslam.ID - Saya sudah berkeluarga dan punya dua orang putra. Keluarga saya bahagia, tapi akhir-akhir ini saya mendapat ujian yang berat dari Allah karena saya menyukai pria lain. Saya satu tempat kerja dengannya, sehingga setiap hari kami bertemu. saya merasa berdosa dengan suami dan anak-anak saya. Dia juga sudah berkeluarga.

Ilustrasi

Semakin hari saya tidak kuat menanggung perasaan saya, adakan doa yang bisa membuat padam syahwat cinta saya ini? Apakah saya harus berhenti bekerja sebagai solusinya?

Saya rajin shalat 5 waktu. Saya juga membaca al-Qur'an dengan harapan perasaan saya tenang dan bisa melupakan dia. Tapi, setiap kami bertemu, saya menjadi lupa diri. Karena saya semakin menderita kalau berjumpa dengannya, karena saya mencintainya, tapi tidak bisa memilikinya.

Diatas adalah pertanyaan yang dikirimkan oleh Sahabat AkuIslam.ID dari Jakarta.

Cinta itu memang tidak harus memiliki. Anda harus sadari itu. Boleh jadi Anda merasakan hal tersebut karena Anda merasa simpati saja kepada dia. Mungkin pula, maaf, karena Anda setiap hari bertemu Anda merasa terkesima dan simpati dengan gaya perilaku dan ucapannya.

Anda melihat sesuatu yang dia miliki tidak dimiliki oleh suami Anda di rumah. Itu wajar dan manusiawi. Anda lalu membayangkan Andai saja suami Anda memiliki gaya bicara seperti dia. Nah, perasaan seperti inilah yang berkecamuk dalam diri Anda.

Inilah yang menyebabkan munculnya rasa cinta Anda kepada dia secara bertahap. Tetapi, Anda harus menyadari betul tentang kondisi ini. Anda sudah memiliki suami dan anak. Lebih baik Anda mempertahankan keluarga Anda, yang sangat mencintai Anda.

Orang yang Anda cintai di kantor itu belum tentu mencintai Anda dengan tulus, seperti suami dan anak-anak Anda. Jangan terlalu menerawang terlalu jauh. itu semua adalah ujian Allah SWT.

Peribahasa menyebutkan, "Jangan lihat rumput tetangga yang hijau, tetapi perihalah rumput di rumah kita sendiri yang kita miliki."

Kalau Anda ingin benar-benar melupakannya, sementara Anda tidak bisa selagi masih bekerja satu kantor dengan dia, maka saran saya, sebaiknya Anda berhenti saja dari pekerjaan itu, selagi belum terlalu juah perasaan Anda tersebut.

Karena, itu bisa lebih berbahaya lagi. Anda bisa buat sendiri seperti membuka toko atau apa saja, yang bisa menghindari sering bertemu dengan dia. Itu bisa Anda lakukan jika Anda benar-benar ingin menjaga keutuhan rumah tangga Anda.
Saturday, September 15, 2018

Cara Membayar Utang Orang Yang Sulit Ditemukan

AkuIslam.ID - Saya ada persoalan serius dan membingungkan. Begini ceritanya. Dulu sekitar 10 tahun yang lalu, saya berteman dengan seorang yang beda daerah.

Ilustrasi

Kita sesama berada di perantauan. Terus waktu itu, saya pernah utang uang kepadanya. Setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi.

Selama ini saya sudah berusaha mencari-cari di mana sekarang dia berada. Tapi usaha saya tidak menemukan hasil. Saya tidak juga ketemu dengan dia. Yang menjadi pertanyaan saya; kemana saya harus mengembalikan atau membayar utang saya tersebut.

Diatas adalah pertanyaan yang dikirim oleh Sahabat AkuIslam.ID dari Jakarta

Kalau Anda bisa menghubunginya lewat telepon, maka hubungilah. Tapi, kalau ternyata tidak bisa juga, sementara Anda sudah berusaha maksimal, maka Anda boleh menyedekahkan uang tersebut ke masjid atau mushala atas nama orang tersebut.

Ada yang perlu Anda perhatikan. harga emas waktu Anda berutang itu berapa? Kalau misalnya Anda berutang pada tahun 2000 emas masih seharga Rp. 100.000,- maka konversikan harga itu dengan harga emas sekarang.

Berapa uang yang Anda pinjam waktu itu, dan seharga emas berapa? Nah, sekarang harga emas misalnya sudah Rp. 500.000,- maka itu yang harus Anda bayarkan.

Kisah Husnul Khatimah Nenek Shalehah

AkuIslam.ID - Nenek itu meninggal dunia dengan merupakan aroma harum dari tubuhnya. Siapakah nenek itu?

Ilustrasi

Kisah berikut ini tentang si miskin yang akhir kematiannya begitu indah, husnul khatimah. Hal itu tampak dari aroma harum yang menyelimuti tubuhnya sesaat setelah ia meregang nyawa. Siapakah si miskin itu?

Dia hanyalah seorang penjual sayur gendongan. Kita bisa tebak sendiri, berapa keuntungan yang diraih orang yang berprofesi seperti ini.

Jangankan bisa membeli rumah atau mobil, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya pun mungkin kewalahan atau kesusahan.

Akan tetapi, bagi Nenek Katiyem, demikian nama si miskin itu, profesi sebagai tukang sayur gendong bukanlah sesuatu yang menghinakan. Bahkan, profesi ini membantu banyak orang dalam urusan dapur.

Apakah Katiyem mengalami kelelahan? Secara manusiawi, tentu saja. Sebab, dia tidak saja menjual barangnya agar laku, tapi juga dia harus menggendong bakul dan berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk beribadah kepada Allah. bagaimana bisa?

Ya, Katiyem berjualan sayur gendong dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang ditinggal suami. Dia memiliki empat orang anak: dua lelaki dan dua perempuan. Mereka harus hidup, meski sang bapak telah tiada. Mereka berhak makan dan minum meski seadaanya. Katiyem menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan ridha kepada Allah, hingga keempat anaknya menikah dan memiliki seorang anak.

Apakah Katiyem berhenti di usia senjanya? Tidak. Usia yang menua tak menyurutkan langkahnya untuk terus menggendong bakul demi menjajakan sayuran, dari satu desa ke desa lainnya. Ia begitu sabar dan telaten melayani setiap pelanggan.

Tak sedikit orang yang terkagum-kagum akan kegigihannya mencari nafkah, tak terkecuali anak-anaknya. Sebagian dari mereka (mungkin) ada yang melarang Katiyem berjualan lagi, tetapi nenek satu ini tetap kekeuh dengan pekerjaannya ini.

Berjualan sayur gendong seperti sudah mendarah daging. Meski anak-anaknya sudah menikah dan (mungkin) tidak membutuhkan asupan materi lagi darinya, tapi ia berdagang setidaknya untuk diri sendiri dan dalam rangka beribadah kepada Allah, yaitu kewajiban seorang hamba untuk bekerja di saat raga dan tenaga masih ada.

Tetapi sekuat-kuatnya Katiyem berjalan dan mengitari banyak kampung untuk berjualan sayur, akhirnya ia tak kuasa juga menahan takdir bernama penyakit. Ya, Nenek Katiyem akhirnya terkena diabetes. Hal ini membuatnya terpaksa tidak berjualan lagi. Kini, ia terbaring di ranjang pesakitan, ditunggu oleh anak-anaknya secara bergantian.

Di tengah rasa sakitnya, Nenek Katiyem tidak pernah meninggalkan shalat, Bahkan, hebatnya, sang nenek melakukannya dengan shalat berjamaah di sebuah mushala yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Semua itu ia kerjakan dalam lima waktu shalat. Artinya, di tengah rasa sakit yang menggerogotinya, ia masih terus ingat Allah. Sebuah hal yang patut dicontoh tentunya.

Beberapa kali anak-anaknya mengantarkan Nenek Katiyem untuk berobat ke rumah sakit. Namun, makin lama penyakit diabetesnya makin parah. Bahkan, pada bagian (maaf) bawah payudaranya terdapat luka yang mengangga hingga tulang rusuknya kelihatan akibat garukan tangannya.

Kondisi ini memaksanya tidak bisa berjalan kemana-mana, termasuk shalat berjamaah di mushala lagi. Yang bisa dilakukannya pun hanya terbaring di ranjang sambil mengamalkan zikir yang didapatkan dari sebuah thariqah yang diikutinya saat masih muda.

Kuasa Allah akhirnya datang. Takdir kematian menghampirinya. Ia pun meregang nyawa di tengah isak tangis para keluarganya. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya semuanya milik Allah dan kepada Allah-lah kita akan kembali.

Ya, Nenek Katiyem telah kembali untuk menemui Sang Pencipta, yang telah menciptakan dia untuk menjadi sebuah teladan bagi anak-anaknya, keluarganya, tetangga dan saudaranya, serta masyarakat sekitarnya.

Jenazah Nenek Katiyem akhirnya diurus. Ia pun segera dimandikan agar proses penguburan bisa segera dilakukan. Namun, di saat itulah kuasa Allah datang. Terjadi sebuah keajaiban yang mungkin jarang terjadi selama ini, yaitu lubang mengangga di bagian bawah (maaf) payudaranya tiba-tiba menutup dengan sendirinya.

Tulang rusuk yang tadinya kelihatan terluka dan selalu disumpal dengan kapas, akhirnya, tak tampak lagi karena tertutup sendiri oleh kulitnya yang ada di sampingnya. Seolah-olah Nenek Katiyem tidak pernah merasakan sakit sebelumnya. Ini benar-benar sebuah kejadian yang luar biasa. Orang-orang pun, terutama keluarganya, benar-benar terkejut. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Bagi Allah, semua itu sangat mudah Dia lakukan. Hanya dengan kun fayakun, apa pun yang ada di jagat raya ini dengan sangat mudah Allah taklukkan, apalagi hanya menutupi sebuah lubang yang menganga dari tubuh seseorang.

Apa yang bisa membuat semuanya itu terjadi? Tentu saja, amal baik Nenek Katiyem sewaktu hidupnya. Berdagang penuh ikhlas hingga hari tua, shalat berjamaah lima waktu dan zikir yang tak henti di saat sakit, adalah hal-hal mulia yang membuat kematian Nenek Katiyem juga dalam kondisi yang sangat baik (husnul khatimah).

Tentu saja, ini dalam kaca mata manusia. Sebab, penilaian yang demikian ini tentu saja menjadi hak prerogratif Allah. Sebab, sebagai hamba Allah yang dha'if, kita hanya bisa menebak-nebak bahwa ia meninggal dalam kondisi baik atau buruk, berdasarkan gejala-gejala yang dijelaskan al-Qur'an dan Hadits.

Keterkejutan para pelayat tidak berhenti sampai disitu, sebab sesaat setelah mereka melihat luka lubang Nenek Katiyem yang tertutup kembali, mereka seketika mencium bau harum yang menyengat hidung. Selidik punya selidik, ternyata bau harum itu bersumber dari tubuh Nenek Katiyem yang kaku, yang sedang dimandikan. Sekali lagi, ini semua bisa terjadi atas izin Allah. Setelah dimandikan dan dishalatkan, jenazah Nenek Katiyem pun akhirnya dikuburkan.

Demikianlah kisah teladan yang terjadi di daerah Jawa, Kab. Magetan, beberapa tahun yang lalu itu.
Tuesday, September 11, 2018

Akhir Tragis Sang Penggunjing

AkuIslam.ID - "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?" (QS. Al-Hujurat:12).

Ilustrasi

Nek Sani. Marilah kita menyapanya demikian. Ia seorang janda sepuh berperilaku buruk, ia begitu congkak. Meski usianya sudah uzur, ia begitu pongah dengan pendiriannya, ia tak pernah mau mendengar saran anak apalagi cucunya.

Dikisahkan, belakangan ini, Nek Sani selalu merasa terserang demam. Suhu tubuhnya terus meningkat. Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman, tapi anehnya Nek Sani tak pernah mau memeriksa diri ke dokter.

"Ini hanya demam sementara saja. Untuk apa berobat ke dokter? Buang-buang duit saja," begitu ucap sang nenek saat anaknya memberi saran.

"Tapi, demam itu bisa berkepanjangan kalau tak segera diobati, Nek," ujar Raimah, cucu yang selalu memperhatikan kondisi Nek Sani.

Tapi apa jawaban Nek Sani atas desakan cucunya itu. "Jangan kamu mengajari orang yang lebih berpengalaman dari kamu! Nenek tahu keadaan diri sendiri dan kalau pun nenek perlu berobat, cukup beli obat warungan!"

Si cucu tentu saja tak dapat berkomentar lagi. Ia hanya berharap apa yang diucapkan neneknya itu benar. Cukup minum obat warungan, demamnya akan sembuh.

Namun, harapan itu hanya tinggal harapan belaka. Demam si nenek ternyata betul-betul berkepanjangan. Sudah tiga hari ini Nek Sani tak pernah ke luar dari kamarnya. Makan dan minumnya pun harus diantar ke dalam kamar.

"Kalau dibiarkan terus, penyakit nenek tak akan sembuh. Panas di tubuh nenek semakin tinggi. Ayo ke dokter, Nek! Saya akan minta bantuan tetangga untuk membawa nenek ke dokter," bujuk Raimah lagi.

Nek Sani seolah sudah tak mampu lagi untuk menjawab usul cucunya, tapi penolakannya terlihat melalui gelengan kepala yang lemah.

"Jika begitu, saya panggil saja dokternya ke sini ya, Nek?" usul Raimah lagi.

Nek Sani kembali diam. Tapi kepalanya menggeleng lebih kuat, tanda bahwa dirinya benar-benar tak ingin diperiksa oleh dokter.

Agak kesal dengan penolakan-penolakan yang dilakukan neneknya, Raimah akhirnya keluar kamar, meninggalkan sang nenek sendirian. Ia lebih memilih menonton televisi daripada membujuk neneknya yang tak mau berobat ke dokter itu.

Meski Raimah menyaksikan siaran televisi, ia tak sepenuhnya menyimak acara yang ditonton itu. Telinganya sesekali masih mendengar erangan si nenek. "Coba dari kemarin-kemarin mau dibawa berobat ke dokter, tentunya penyakit nenek tidak menjadi semakin parah seperti sekarang," gerutu Raimah. Setelah itu, ia mencoba menikmati acara televisi dan melupakan erangan Nek Sani.

Belum lagi tiga menit Raimah serius menonton tayangan televisi, tiba-tiba, erangan lebih keras si nenek terdengar. Raimah terkejut dan memutuskan melihat keadaan Nek Sani. Agak tergesa, Raimah masuk ke kamar dan memeriksa keadaan neneknya. Dan kondisi si nenek rupanya masih tetap seperti tadi, suhu badannya tinggi.

Hanya saja Raimah menemukan beberapa ekor semut merah (semut api) yang merambat di rambut Nek Sani. "Oo, rupanya semut-semut ini yang telah menggigit kulit kepala nenek hingga ia mengerang agak keras tadi," batin Raimah seraya menyingkirkan semut-semut itu hingga berjatuhan ke bawah tempat tidur. Setelah itu, Raimah kembali keluar kamar untuk melanjutkan acara menontonnya.

Lagi-lagi, belum satu menit Raimah memandangi televisi, suara erangan keras kembali terdengar. Raimah berpikir, mungkin semut-semut itu kembali menjalar di rambut nenek dan menggigit kulit kepalanya.

Raimah kembali masuk ke kamar Nek Sani, Tapi tidak setergesa tadi. Ia berjalan mendekati neneknya dan langsung memeriksa. Saat itulah Raimah mendapat kejutan luar biasa. Kalau yang pertama ia menyaksikan rambut Nek Sani dijalari tiga sampai empat ekor semut merah, tapi kali ini, ia melihat banyak sekali semut merah berkerumun di kepala neneknya. Kalau mau dihitung, Raimah pasti tak bisa.

Dengan keterperangahannya, Raimah tidak berani berbuat apa-apa selain menyaksikan keberdaaan semut-semut merah yang berkerumun di kepala Nek Sani itu. Ia bergidik jijik. Ia kemudian pergi meninggalkan kamar Nek Sani untuk mengabarkan keadaan itu kepada keluarga Nek Sani.

SEMUT MERAH

Begitu banyaknya semut merah yang berkerumun di rambut Nek Sani hingga asal warna rambut yang semula hitam keputih-putihan itu berubah menjadi warna merah yang dominan. Rambutnya pun terkesan gimbal.

Raimah yang meninggalkan kamar Nek Sani dengan keterkejutan, kembali masuk kamar bersama dua cucu Nek Sani yang lain. Dua cucu perempuan yang ikut masuk ke kamar neneknya itu sama-sama terkejut. Awalnya, mereka mengira kabar yang disampaikan Raimah bohong belaka, tapi keadaan itu nyatanya benar terjadi.

Semut merah yang berkerumun cukup banyak di rambut Nek Sani itu membuat kepala mereka seolah merasa gatal.

"Kenapa bisa begini?" Tanya salah seorang dari mereka kepada Raimah. Raimah sendiri malah menggeleng.

Kabar keadaan Nek Sani merebak. Para tetangga yang mendengarnya seolah wartawan yang dijekar deadline. Keingintahuan mereka sangat besar, tapi sayang, keluarga Nek Sani merasa keberatan pada tetangga masuk kamar. Dan para tetangga itu harus puas dengan kabar dari orang yang sempat melihat keadaan Nek Sani secara langsung.

"Ya, ini sungguh aneh," begitu komentar Bu Tika. "Kok bisa ya semut-semut merah itu berkumpul di kepala Nek Sani."

"Iya, Yang lebih aneh lagi, semut-semut itu hanya berkumpul di rambut saja. Tak seekor pun yang menjalar di wajah, apalagi bantal yang digunakan sebagai alas kepala," tambah Bu Neneng.

Bu Tika  dan Bu Neneng memang sempat masuk ke kamar Nek Sani sebelum ada larangan dari keluarga, namun setelah tetangga yang lain juga ingin ikut masuk, maka larangan pun dikeluarkan.

GEMAR BERGUNJING

Kenapa Nek Sani mengalami kejadian aneh seperti itu? Pertanyaan itu sudah lumrah muncul di kepala keluarga dan juga para tetangga. Dari pertanyaan itu, muncul sebuah perkiraan yang belum tentu seratus persen kebenarannya, namun perkiraan itu seolah menjadi patokan, karena ada hubungannya dengan kebiasaan. Nek Sani yang senang mencari kutu di rambutnya sambil menggunjingkan keburukan orang-orang di sekitarnya, bahkan juga keburukan suaminya sendiri.

Biasanya, menjelang sore yang teduh, Nek Sani duduk di bangku rotan panjang yang terletak di beranda rumahnya. Rumah itu teduh karena ada pohon buah seri yang daunnya mengembang bak payung raksasa.

Di saat Nek Sani duduk sendirian, ia senang memandangi orang lalu-lalang di depannya. dan jika ada seseorang yang pantas di ajak sebagai teman ngobrol, Nek Sani tak segan memanggilnya.

"Bu, Bu Ida! Kesini sebentar!" demikianlah cara Nek Sani memanggil dengan suara rendah. Saat orang yang dipanggilnya mendekat, biasanya, Nek Sani menanyakan apakah orang tersebut punya waktu luang. Setelah itu, ia minta tolong dicarikan kutu, selanjutnya Nek Sani berbincang apa saja. Pertama hal yang bagus-bagus, tapi kemudian berujung menceritakan kejelekan orang lain.

Selain gemar bergunjing, ternyata Nek Sani juga punya hal lain yang bisa menjadi bahan kaitan dengan kemalangan dirinya. Pada masa mudanya dulu, bahkan hingga sekarang, Nek Sani ternyata masih mengenakan susuk yang dibenamkan di sekitar wajahnya.

Susuk yangd ikenakan Nek Sani menjadi satu anggapan, kalau kematiannya tertahan karena ada susuk yang masih terbenam di bagian tubuhnya. Dengan rambut yang dikerubungi semut api dan nafas yang masih tersisa di rongga dada, betapa tersiksanya Nek Sani. Hal ini menjadi iktibar bagi semuanya.