Friday, July 20, 2018

Kelebihan Meninggal Pada Malam Atau Siang Jumat

AkuIslam.ID - Meninggal pada malam Jumat atau siang hari Jumat juga memiliki keistimewaan di hadapan Allah.

Ilustrasi

Pasalnya, orang mukmin yang meninggal pada momentum itu termasuk dari ciri-ciri orang yang meninggal dalam kondisi husnul khatimah.

Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Imam Ahmad dan al-Fasawi dalam kitab al-Ma'rifah, yang dikeluarkan melalui Abdullah bin Umar.

Rasulullah bersabda, "Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.

Keluar Keringat Di Dahi Saat Sakaratul Maut Bertanda Baik

AkuIslam.ID - Salah satu ciri husnul khatimah (akhir hayat yang baik) adalah mengalirnya keringat di dahi.

Ilustrasi

Hal ini didasarkan pada hadits Buraidah bin al-Hashib. "Bahwasannya dia pernah berada di Khurasan, lalu dia menjenguk salah seorang saudaranya yang tengah sakit, dan dia mendapatkannya telah meninggal dunia.

Ternyata dia mendapatkannya keluar keringat di dahinya. Maka ia berkata: 'Allah Maha Besar, aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: 'Kematian orang mukmin itu ditandai dengan keringat dahi." (HR. Ahmad)

Al-Hakim mengatakan, "Hadits tersebut shahih dengan syarat Muslim."

Berwibawa Cara Rasulullah

AkuIslam.ID - Rasulullah Saw sangat disegani, bukan hanya oleh kawan akan tetapi juga lawan. Ketika bertutur kata, untaiannya selalu lembut dan menyejukkan hati. Sikap beliau pun mendamaikan setiap yang menyapa dan berjumpa.

Ilustrasi

Kewibawaan menjadi hal yang penting bagi setiap orang, setiap tutur katanya diperhatikan, setiap tindak tanduk dan akhlaknya diteladani sebagai pribadi yang sangat berwibawa. Semua itu ada pada diri Rasulullah Saw. Lalu apa rahasianya? Mari kita teladani sikap Rasulullah antara lain:

RENDAH HATI

Sebagian kita mungkin berharap dinilai mempunyai kemampuan lebih dari yang lain alias lebih unggul. Namun kehebatan kita justru lahir dari sikap rendah hati yang tulus. Sungguh Nabi Muhammad Saw selalu memposisikan sejajar dengan beliau.

Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Tak seorang pun yang mereka cintai lebih dari cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tapi jika mereka melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mereka tidak berdiri untuk menghormatinya karena beliau membenci hal yang demikian," (HR. Ahmad Dan Tirmidzi).

SOPAN SANTUN

Rasulullah Saw sungguh diakui sebagai pribadi yang sopan dan santun kepada siapapun. Ucapannya lembut dan tulus dari dalam hatinya. Hal ini diabadikan dalam Alquran, yang artinya, "Maka disebabkan rahmat dari Allah (kepadamu Muhamma SAW), engkau telah bersikap lemah lembut kepada mereka. Kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari kamu. Oleh karena itu ma'afkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadap engkau, dan mohonlah keampunan bagi mereka, dan juga bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (permasalahan keduniaan) itu. Kemudian setelah engkau berazam (untuk membuat sesuatu) maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal kepada-Nya," (QS. Ali Imran: 159).

Gambaran itu semakin jelas dalam uraian hadis, dari Ibnu Mas'ud ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Maukah aku kabarkan kepadamu orang yang diharamkan masuk neraka atau orang yang neraka itu haram baginya?, (Neraka itu) diharamkan atas setiap orang yang halus, lembut dan mudah. (HR. Thirmidzi).

Bahkan ketika dizalimi pun tetap santun. Dari 'Aisyah Ra, ia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Kecintaan Allah adalah pasti atas orang yang dibuat marah tetapi ia berlaku santun (tidak membalas)," (HR. Al-Ashbihani).

SANGAT PERHATIAN

Rasulullah Saw sangat tahu situasi setiap orang yang berinteraksi dengan beliau. Tergambar dalam riwayat berikut; Rasulullah SAW pernah bersabda kepada 'Aisyah RA., "Aku tahu saat kamu senang kepadaku dan saat kamu marah kepadaku," Aisyah bertanya, "dari mana engkau mengetahuinya?" Beliau menjawab, "Kalau engkau sedang senang kepadaku, engkau akan mengatakan dalam sumpahmu "Tidak, demi Tuhan Muhammad" Akan tetapi jika engkau sedang marah, engkau akan bersumpah, "Tidak, demi Tuhan Ibrahim!". Aisyah pun menjawab, "Benar, tapi demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja," (HR Al Buchori & Muslim).

RAMAH KE SIAPA SAJA

Kita terkadang berpura-pura ramah kepada orang yang lebih tinggi kedudukan sosialnya. Tapi tatkala si papa atau anak buah kita berucap, terkadang sikap kita terkesan meremehkan. Berbeda dengan Rasulullah, justru beliaulah yang lebih dulu bersikap ramah kepada siapapun tanpa pandang status. Perhatikan riwayat dari Abu Daud, dari Anas bin malik r.a, ia berkata: Jika ada seseorang datang dan berbicara kepada Nabi atau berbisik karena merahasiakan pembicaraannya, maka beliau lah yang menundukan kepala mendekatkan telinganya terlebih dahulu, sehingga orang itu pun ikut menundukkan kepalanya juga.

Di hadis lain terungkap betapa mulia akhlak dan keramahan beliau. Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a Rasulullah bila bicara menghadapkan mukanya meski pun lawan bicaranya orang paling jahat, hal ini untuk menjinakan hati nya sekaligus menarik perhatian.

Ada seorang wanita tua datang kepada Rasulullah maka beliau menyambut kedatangannya dengan penuh hormat, beliau bertanya dengan lemah lembut: "Siapa ibu ini? ia menjawab: aku Juthamah Al-Muzainah! Bagaimana Keadaan ibu selama ini? Ia menjawab: baik-baik saja ya Rasul, selanjutnya beliau dengan penuh ramah tamah bercakap-cakap dengan tamu wanita tua itu terkadang diselengi rasa tawa, percakapan itu berlangsung sangat lama, sehingga ada sahabat bertanya: Ya Rasulullah engkau menyambut kedatangan wanita tua itu dengan hangat dan ramahnya. Nabi menjawab: Dulu wanita itu sering datang sewaktu istriku khadijah masih hidup.

TETAP HUMORIS

Tampil tegas dan sopan bukan berarti kaku. Rasulullah Saw pun mampu hadir sebagai pribadi yang luwes dan menyenangkan. mari kita perhatikan, seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: "Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?" Rasulullah menjawab: "Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua". Perempuan itu menangis mengingat nasibnya Kemudian Rasulullah menjelaskan mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi'ah ayat 35-37 "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya," (Riwayat At Tirmidzi).

Menata Hati Khusuk Tahajud

AkuIslam.ID - Mau tahu solusi sehat Jasmani dan Rohani, salat tahajud jawabannya. Bagaimana cara mencapai kualitas salat Tahajud yang demikian? Berikut ini cara yang harus dilakukan.

Ilustrasi

TEPAT WAKTU

Waktu yang tepat salat Tahajud adalah sepertiga malam terakhir. Seorang sahabat berkata: "Siti Aisyah, ketika malam telah datang Rasulullah langsung mengambil wudhu dan menunaikan shalat malam. Beliau salat sunah hingga pagi menjemput. Lalu, kapan waktu beliau tersisa untuk terlelap sebentar?" Siti Aisyah berkata: "Biasanya beliau tidur di awal malam. Kemudian tengah malamnya beliau bangun mengerjalan shalat malam...," (HR Bukhari)

BACA SURAT PANJANG

Ketika beliau salat tahajud sendiri, beliau selalu memilih bacaan ayat Alquran yang panjang. Beliau mengawali shalat Tahajud dengan membaca Surat Al-Baqarah dalam satu rakaat. Kemudian beliau meneruskan bacaan dengan surat Ali Imron, lalu Surat An-Nisaa hingga tuntas. Semua bacaan surat ini beliau baca secara tartil.

Sedangkan untuk salat fardu, beliau tidak memperpanjang bacaannya bahkan salatnya dipercepat. Seperti yang dikisahkan oleh Huzaifah Ibnul Yaman. Ia berkata: "Aku pernah salat bersama Nabi (salat malam). Beliau membaca surat Al-Baqarah, lalu ruku' ketika sampai pada ayat yang keseratus. Lalu bangun dan menamatkannya pada rakaat yang kedua. Kemudian bangun lagi dan membaca surat ali-Imran, lalu surat an-Nissa'. Kalau ada ayat tasbih, beliau bertasbih. Kalau membaca ayat doa, beliau berdoa. Lalu ruku' lama sekali, seakan-akan sama dengan satu rakaat. Lalu bangun dan diam agak lama. Kemudian bersujud lama sekali, hampir sama dengan bangunnya," (HR. Bukhari).

LEBIH LAMA

Dalam melaksanakan salat tahajud, Rasul mengerjakannya dengan sangat khusyuk. Kekhusukan ini dapat terlihat dari cara Rasul menunaikan setiap gerakan salat Tahajud. Bukan hanya memanjangkan bacaan Alqurannya, tetapi semua gerakan salat tahajud beliau sama lamanya dengan bacaan Alqurannya.

Bahkan karena kekhusukannya, kedua telapak kaki beliau membengkak tanpa beliau sadari. Hingga suatu hari, Siti Aisyah ra yang melihat kaki Rasulullah bengkak menjadi keheranan dan menanyakannya pada Rasul. "Mengapa engkau melakukan (salat malam) sampai begini, padahal dosa-dosamu sudah diampuni oleh Allah.?" Rasul menjawab: "Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur," (HR. Ibnu Majah).
Thursday, July 19, 2018

Enam Penyakit Mengantarkan Seseorang Pada Syahid

AkuIslam.ID - Tentunya setiap Muslim ingin mendapatkan Mati Syahid dan tentunya kematian ini selalu diidam-idamkan oleh setiap Muslim di seluruh dunia.

Ilustrasi

Orang yang disebut mati syahid tidak harus selalu mati kala sedang perang fii sabilillah. Ada juga kelompok orang yang sakit tertentu dan ia tergolong mati syahid.

Ulama menyebutnya sebagai mati syahid dunia. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah riwayat at-Thabrani, seperti disebut dalam Kitab al-Ausath.

Nabi bersabda, "Terbunuh di jalan Allah adalah syahid, wanita yang mati semasa nifas juga syahid, orang yang mati terbakar pun syahid, orang yang mati tenggelam juga syahid, orang yang mati karena penyakit TBC juga syahid, dan orang yang mati karena sakit perut juga syahid."

Itu dia beberapa penyakit yang bisa mengantarkan seseorang pada kematian yang syahid. Semoga kita semua diberi kematian yang syahid dan juga kematian yang terbaik husnul khatimah.

Mimpi Yang Terindah

AkuIslam.ID - Suatu hari ada dua orang pria yang ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Kali ini mereka ingin berlomba untuk membuat mimpi yang paling indah. Lalu bagaimana cara Abu Nawas membuat mimpi terindah sehingga memenangkan perlombaan itu?

Kisah Abu Nawas

Suatu hari, Abu Nawas kedatangan tamu tak diundang. Seorang yogis (ahli yoga) serta seorang pendeta. Mereka ternyata telah bersekongkol untuk memperdaya Abu Nawas. Dua pria ini sangat penasaran dengan kecerdikan Abu Nawas.

Ketika mereka datang, Abu Nawas sedang melakukan shalat Dhuha. Istri Abu Nawas mempersilahkan kedua pria itu masuk.

Setelah shalat, Abu Nawas menemui mereka. "Kami sebenarnya ingin mengajak engkau melakukan pengembaraan suci. Kalau engkau tidak keberatan, bergabunglah bersama kami," kata ahli yoga itu.

Dengan semangat Abu Nawas menerima ajakan itu. Lalu keesokan harinya, mereka berangkat bersama. Abu Nawas mengenakan jubah seorang sufi. Ahli yoga dan pendeta memakai seragam keagamaan mereka masing-masing. Saat hari sudah sore, ketiganya diserang rasa lapar. Maklum ketiganya tidak membawa perbekalan.

"Hai Abu Nawas, bagaimana kalau engkau saja yang mengumpulkan sedekah, Karena kami akan mengadakan kebaktian," kata pendeta.

LARANGAN MAKAN

Tanpa banyak bciara Abu Nawas berangkat mencari dan mengumpulkan sedekah dari rumah ke rumah. Setelah cukup, ia membeli makanan dari sedekah tersebut. Lalu Abu Nawas segera mengajak kedua rekannya itu makan, namun ternyata keduanya menolak.

"Jangan sekarang, kami sedang berpuasa," kata ahli yoga yang dibenarkan oleh pendeta.

Meskipun Abu Nawas meminta bagiannya saja untuk dimakan dan menyisakan bagian ahli yoga dan pendeta itu, namun keinginannya tetap ditolak. Abu Nawas mencoba merayu, namun tak ada hasil.

"Bagaimana kalau kita mengadakan perjanjian?" kata pendeta kepada Abu Nawas.

Pendeta menjelaskan, siapa yang memiliki mimpi terindah maka akan mendapatkan bagian makanannya terbanyak, begitu juga sebaliknya.

LOMBA MIMPI

Malam semakin larut, pendeta dan ahli yoga mengantuk dan tertidur. Abu Nawas tidak bisa tidur. Ia hanya berpura-pura tidur. Setelah merasa yakin teman-temannya sudah terlelap. Abu Nawas menghampiri makan itu dan menghabiskannya, setelah kenyang barulah dia bisa tidur.

Paginya mereka bangun bersamaan, Ahli yoga dengan wajah berseri-seri bercerita, bahwa dia telah bermimpi memasuki sebuah taman yang mirip dengan Nirvana.

Pendeta itu sangat memujinya, kemudian dia juga bercerita tentang mimpinya, "Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Aku bertemu dengan pencipta Agamaku lalu aku diberkatinya".

Ahli yoga juga memuji-muji kehebatan mimpi pendeta, Abu Nawas hanya diam. Ia bahkan tidak merasa tertarik sedikitpun.

Kini giliran Abu Nawas yang bercerita. Menurut Abu Nawas, dia bermimpi dengan Nabi Daud As yang ahli berpuasa. Dalam mimpinya Nabi Daud As memerintahkan Abu Nawas untuk segera berbuka puasa.

"Karena yang menyuruhku Nabi Daud, jadi aku tidak berani membantahnya, setelah bangun aku langsung makan makanan itu.

Kini pendeta dan yodis itu kelaparan, dia menyesal dan mengakui kehebatan atas kecerdikan Abu Nawas itu.

Dinasihati Ulama Wanita Penggoda Tobat

AkuIslam.ID - Hawa nafsu akan mampu dikalahkan dengan rasa takut kepada Allah SWT. Seperti yang dinasehatkan oleh ulam zaman dahulu yang bernama Ubaid bin Umair. Akibat nasihat itu, wanita penghibur itu kemudian bertobat. Berikut kisahnya.

Wanita Bercadar

Di dalam kitab Raudhatul Muhibbin Wa Nuzhatul Musytaqin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dikisahkan, di kota Makkah dahulu terdapat seorang muslimah yang cantik. Kecantikannya begitu membuat setiap mata yang memandang akan terkagum-kagum. Wanita itu telah menikah, namun demikian kecantikannya masih belum memudar.

Suatu hari, di depan sebuah cermin, wanita itu mengajukan pertanyaan aneh kepada suaminya, "Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda?"

"Ada, dia adalah Ubaid bin Umair," jawab suaminya.

Sang istri diam sejenak. Kemudian ide nakalnya pun keluar. Ia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.

"Wahai suamiku, bolehkan aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umar bertekuk lutut di depanku?" katanya merayu.

MENGUJI ULAMA

Sang suami terkejut dengan permintaan ekstrem itu, tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, untuk menguji keshalihah seorang ulama. "Silahkan aku mengijinkanmu."

Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidilharam. Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah masih hidup.

Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasihat. Ia beralasan kebutuhannya amat penting, dan memintanya pindah ke pojok masjid. Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya dan tampaklah wajah cantiknya. "Apa yang kau lakukan?" kata Ubaid.

"Sungguh, aku mencintaimu. Aku hanya ingin jawaban darimu," sergah wanita itu, berusaha menggoda Ubaid.

"Sebentar, ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi," kata Ubaid

"Baik, aku akan menjawabnya dengan jujur," jawab wanita itu.

"Pertama, seandainya Malaikat Maut akan mencabut nyawamu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu?" tanya sang ulama.

Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya dengan kematian. Ia langsung menjawab, "Tidak".

"Kedua, seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu?"

"Tidak"

BERTOBAT

"Ketiga, seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmat-Nya yang telah dianugerahkan kepadamu, masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu?"

"Demi Allah, tidak," jawab si wanita.

"Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah. Betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu." terang sang ulama,

Tak terasa, wanita penggoda itu langsung menangis. Ia benar-benar mendapatkan nasihat yang benar-benar menyentuhnya. Ia pun pulang. Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih dan berkata, "Mengapa engkau terlihat begitu sedih>"

"Kita ini termasuk orang yang celaka," jawab wanita itu, kemudian ia mengambil wudhu dan shalat.

Hari-hari berikutnya, ia berubah drastis. Ia tak lagi membanggakan kecantikannya. Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam. ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.