Tuesday, May 22, 2018

Kisah Pemuda Berpenyakit Menggendong Ibunya Berhaji

AkuIslam.ID - Hari itu pemuda shaleh itu melintasi sahara panas dengan menggendong sang ibu tercinta dari Yaman menuju Mekkah. Berminggu-minggu ia melakukan perjalanan impossible mission sejauh 600 km ini dengan penuh ikhlas dan sabar.

Ilustrasi

Dulu, di Yaman ada seorang pemuda berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Namanya Uwais al-Qarni. Meskipun kondisinya demikian, tapi dialah pemuda shaleh dan berbakti pada ibunya yang sudah tua dan lumpuh. Dengan telaten, Uwais merawatnya dan penuhi semua permintaannya. Namun ada satu permintaan yang sulit ia wujudkan.

"Nak, mungkin ibu tak lama lagi akan bersamamu. Usahakan agar ibu dapat menunaikan ibadah haji," pinta ibunya.

Sejenak Uwais terdiam, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Ia berpikir bagaimana caranya menempuh perjalanan dari Yaman ke Mekkah.

Jaraknya sangatlah jauh, belum lagi badai yang sewaktu-waktu datang. Namun akhirnya ia menemukan sebuah ide. ya, Ide brilian yang bagi orang lain dianggap aneh dan tak masuk akal.

Uwais hari itu pamit pada ibunya untuk pergi ke pasar ternak. Sang ibu memberi restu. Di salah satu sudut pasar, pemuda ini membeli lembu kecil. Setelah harganya cocok, pemuda berwajah belang ini membawanya pulang dengan memanggulnya.

Aneh bukan? Ia diminta agar keinginan ibunya bisa naik haji kok malah membeli anak lembu. Lebih aneh lagi, ia membuat kandang lembunya jauh dari tempat mereka tinggal. Kandang itu ia buat di atas bukit. Padahal biasanya orang yang mempunyai hewan peliharaan, tentulah kandangnya dibuat tidak jauh dari hewannya.

Setelah kandang siap pakai, Uwais langsung mengambil anak lembu tersebut dan menggendongnya. Ia bawa lembu itu ke kandang yang ada di atas bukit, begitu pun ketika lembu itu mau turun Uwais menggendongnya turun, begitu seterusnya. Uwais tidak peduli dengan orang-orang yang mengejeknya. Pemuda itu dianggap sinting, aneh dan sebagainya.

Terang saja, rutinitas "nyleneh" ini menambah daftar cemoohan orang padanya, yang memang bagi Uwais sendiri merupakan menu akrab sejak sepeninggal ayahnya, Amir ibn Juz ibn Murad al-Qairani. Lebih-lebih setelah Uwais mengidap penyakit sopak yang membelangkan tubuhnya. Panggilan gila sering mampi di telinganya.

Uwais cuek saja atas cemoohan orang-orang terhadapnya. Ia tetap melakukan pekerjaan itu dengan rutin. Tak sehari pun terlewatkan tanpa menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais untuk menggendongnya. Tetapi karena biasa menggendongnya tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak begitu terasa beratnya.

JALAN KAKI DAN MENGGENDONG IBUNYA

8 bulan berlalu. Dan lembu anakan itu beratnya sudah mencapai 100 kg. Bayangkan bagaimana tenaga Uwais yang sanggup menggendong lembu seberat itu. Tentulah Uwais sangat kuat.

Orang lain boleh menertawakan kebiasaan dirinya yang dianggap nyeleneh dengan bolak-balik, turun naik dari rumah ke puncak bukit, dengan menggendong lembu, selama sekitar 8 bulanan, karena mereka tidak tahu maksud dan tujuan Uwais yang sebenarnya.

Setelah niatan Uwais bertingkah seperti itu ternyata untuk melatih fisiknya agar Uwais nantinya kuat menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, barulah orang-orang yang tadinya memandangnya aneh bahkan gila, memahami kelakuan Uwais.

Subhanallah. Mulia sekali pemuda shaleh itu. Uwais betul-betul serius mempersiapkan fisiknya. Maklumlah seperti dijelaskan di atas, ibunya lumpuh sementara sang ibu ingin sebelum ajalnya tiba yang dirasa sudah mendekat, bisa menunaikan ibadah haji untuk menyempurnakan keislamannya. Mungkin tak ada zaman sekarang ini yang sanggup mewujudkan niatan itu dengan cara seperti yang dilakukan Uwais.

Musim haji telah tiba.

"Ibu, mari kita berangkat haji!" ucap Uwais pada ibunya.

"Dengan apa, Nak? Mana ada bekal untuk kesana?" sahut sang ibu kaget.

"Mari Bu, aku gendong ibu. Perbekalan insya Allah cukup. Fisikku insya Allah sudah cukup kuat!" ujar Uwais meyakinkan sang ibu.

Wanita tua itu meneteskan air mata. Hari itu Uwais mulai melakukan perjalanan, melintasi sahara panas dengan menggendong sang ibu tercinta dari Yaman menuju Mekkah. Perjalanan itu ia tempuh berminggu-minggu dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Sampai akhirnya Ka'bah sudah berada persis di depan matanya. Mereka berdua pun menunaikan ibadah haji. Sambil tetap menggendong ibunya, saat melakukan thawaf (mengelilingi Ka'bah), mereka berdoa.

"Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais.

"Bagaimana dengan dosamu, Nak?" tanya ibunya heran.

"Jika dosa ibu terampuni, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga," jawab Uwais.

DICARI 2 SAHABAT NABI

Bakti Uwais pada ibunya sungguh luar biasa. Allah swt. pun memberikan kenikmatan-Nya pada Uwais seketika itu saat masih melaksanakan ibadah haji. Pemuda itu disembuhkan dari penyakit belang-belangnya. Hanya tertinggal bulatan putih di tengkuknya.

Bulatan itu sengaja disisakan sebagai petanda agar Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Nabi saw sebelumnya pernah berpesan, "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdoa untuk kamu berdua."

Setelah Nabi saw wafat, hingga tongkat estafet beralih dari kekhalifahan Abu Bakar kepada Umar bin Khattab, khalifah Umar teringat sabda Nabi saw tentang Uwais al-Qarni. Ia segera mengajak sahabat Ali as untuk mencari bersama-sama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka berdua menanyakan tentang Uwais al-Qarni, apakah ia turut bersama mereka.

Perlu diketahui, Uwais al-Qarni adalah sosok yang hidup di masa Rasulullah. Karena tidak pernah berjumpa dengan Nabi saw, maka ia bukan berkategori sahabat. Sebab definisi sahabat adalah hidup di masa Rasulullah, beriman kepadanya, dan pernah berjumpa atau melihat wajah Rasulullah meski sekali.

Dari kisah keteladanan Uwais, kita harusnya berintrospeksi, sudah sejauhmana kita berbakti pada orang tua kita? Allah swt. berfirman, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (QS. Al-Isra: 23-24).

Haid, Haruskah Ikut Shalat Id?

AkuIslam.ID - Menghadiri shalat Id merupakan sunah Nabi, lalu bagaimana jika sedang haid? Haruskah tetap keluar mengikuti rombongan jamaah shalat Id? Ikuti ulasan selengkapnya berikut ini.

Ilustrasi

Fakhriyani (31) memiliki jadwal haid yang bertepatan dengan datangnya Idul Fitri nanti. Dia pernah mengalami hal tersebut dan kemungkinan besar dia melewatkan Idul Fitri dalam kondisi haid sehingga tidak dapat melaksanakan shalat Id.

Pertanyaannya, apakah benar saat shalat Id dia harus tetap ikut bergabung rombongan shalat Id meskipun sedang haid. Apakah ada tuntunannya?

KELUAR RUMAH

Moman Idul Fitri merupakan waktu yang dimuliakan. Karena itu, seluruh umat Islam diperintahkan untuk keluar rumah menuju tempat shalat Id, baik di masjid maupun di tanah lapang untuk menunaikan ibadah shalat Id.

Saat keluar rumah ini, semua orang di perintahkan untuk berhias, mengenakan busana terbaik yang dimiliki, termasuk para muslimah baik yang suci maupun yang sedang haid. Semuanya diperintahkan untuk berbondong-bondong melakukan siar Idul Fitri.

Hal ini sebagaimana hadis yang di ceritakan oleh Ummu Athiyah, "Rasulullah menyuruh kami untuk mengeluarkan gadis-gadis pada Hari Raya Idul Fitri dan Adha, yang sedang haid serta perempuan dalam pingitan. Adapun perempuan yang haid, mereka menjauhi shalat. Ummi Athiyah berkata, 'Ya Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?' Nabi pun menjawab, 'Biarkan saudaranya yang memakaikan jilbab untuknya'."

Sedangkan dalam riwayat lain dijelaskan, "Wanita-wanita yang haid berada di belakang orang-orang yang bertakbir bersama saudara perempuannya".

Dalam riwayat bukhari, "Ummu Athiyah berkata, kami disuruh mengeluarkan wanita-wanita yang haid dan mereka bertakbir mengikuti takbir mereka (orang laki-laki)," (HR Jamaah).

BEDA PENDAPAT

Namun, para ulama berbeda pendapat terkait keluarnya para muslimah keluar rumah di dua hari raya ini. Ada yang berpendapat disunahkannya keluar bagi wanita tidak membedakan antara yang gadis, janda, maupun yang masih menikah. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa disunahkannya dibedakan antara untuk wanita muda dan wanita tua.

Pendapat ketiga, keluarnya wanita tersebut adalah boleh, tidak dianjurkan secara mutlak, artinya tidak harus diikuti.

Sedangkan pendapat keempat, keluarnya wanita tersebut adalah makruh. Sedangkan pendapat keenam, mewajibkan para muslimah untuk keluar mendatangi shalat Id. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam buku Fikih Muslimah karya Ibrahim Muhammad Al Jamal.

Ajarkan Anak Mengelola Angpau Lebaran

AkuIslam.ID - Bagi si kecil, momen silaturahim Lebaran biasanya identik dengan angpau. Tak jarang, jumlah angpau sangat banyak bagi seorang anak seusianya. Untuk itu, orang tua harus bijak untuk mengajarkan si kecil bagaimana mengelola angpau Lebaran. Tak hanya ditabung, tapi juga perlu disedekahkan pada mereka yang lebih membutuhkan.

Menghitung Angpau Lebaran

Mendapatkan uang saku saat Lebaran menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi buah hati Anda. Namun, terkadang kebanyakan dari mereka tidak mengerti akan digunakan untuk apa uang sakut tersebut. Menurut dosen Psikologi Universitas 17 Agustus Surabaya, Dra Dwi Sarwendah MSi, orang tua harus mampu mengelola dan mengarahkan anak dalam pemanfaatan uang saku Lebaran sehingga keinginan Anak dapat dibimbing dengan bijak.

Nah, bagi para ibu yang ingin agar uang saku Lebaran Anak dapat dimanfaatkan dengan baik, Dra Dwi Sarwendah MSi memberikan beberapa langkah / tips yang bisa dilakukan.

RENCANAKAN

Sebelum hari Lebaran tiba, Anda bisa mengajak si kecil berdiskusi tentang angpau yang nantinya akan diterima. Jelaskan padanya bahwa angpau tersebut adalah hadiah dari sanak saudara yang harus digunakan sebaik mungkin.

"Tanyakan pula pada si kecil, adakah keinginannya untuk membeli sesuatu. Namun, di sini Anda juga perlu memperhatikan keinginan si kecil. Apakah yang diinginkan tersebut termasuk penting atau tidak, sehingga bila sudah terlanjur dibeli tidak menjadi mubazir," tuturnya.

DITABUNG

Langkah ini bisa menjadi pembelajaran buat buah hati Anda. Uang saku saat Lebaran idealnya sebagian dapat disimpan sebagai tabungan pribadi buah hati. Dengan menabung, banyak manfaat yang dapat diambil. Nilai positif seperti ini dapat Anda tularkan pada buah hati Anda.

"Ajak dan kenalkan mereka dengan sifat suka menabung dan tidak boros, sehingga tercipta kepribadian yang baik di dalam diri Anak." ungkapnya.

GUNAKAN SESUAI KEBUTUHAN

Selain untuk ditabung, uang saku Lebaran anak dapat di gunakan, namun harus sesuai dengan kebutuhan sang anak. Untuk penggunaan uang ini, sebelumnya Anda bisa menanyakan dulu pada Anak apa yang mereka inginkan. Tetapi sebagai catatan Anda harus memfilter kebutuhan itu tergolong penting atau tidak. Misalnya digunakan untuk membeli keperluan sekolah.

"Jangan sampai membiarkan anak menggunakannya untuk berfoya-foya hingga Anak memiliki sifat boros," jelas wanita yang kerap disapa Wendy ini.

BERBAGI DENGAN SESAMA

Langkah yang lainnya adalah memanfaatkan uang saku Lebaran untuk berbagi dengan sesama. Ini juga menjadi suatu pembelajaran tersendiri bagi Anak agar memiliki sikap simpati pada lingkungan sekitarnya.

Berbagi dengan sesama ini, Anda dapat mengajak mereka ke tempat sosial misalnya ke panti asuhan dan anak jalanan. Dengan langkah ini, selain sikap empati yang akan timbul, sikap untuk menghargai sesuatu juga akan muncul.

"Anak akan tau kalau dirinya lebih beruntung dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya sehingga mereka akan lebih menghargai dan bersyukur dengan apa yang mereka miliki," ungkap Wendy.

Atasi Anak Kelelahan Selama Lebaran

AkuIslam.ID - Momen Lebaran adalah momen menyenangkan yang sangat ditunggu. Berkumpul bersama keluarga, bersilaturahim dan mudik adalah tradisi yang kerap dilakukan. Namun bagaimana jika kita membawa sang buah hati? Agar si kecil tidak kelelahan selama berlebaran, ada beberapa trik yang harus Anda perhatikan mengenai pola makan dan istirahat anak.

Ilustrasi Mudik Bersama Anak

Silaturahim dan mudik adalah tradisi yang kerap dilakukan saat Lebaran. Berkumpul bersama keluarga besar, berlibur, dan bersilaturahim ke rumah saudara adalah hal yang bisa jadi ditunggu anak. Tak jarang libur Lebaran menjadi sangat padat aktifitas. Tak hanya untuk orang tua, namun juga untuk si anak.

Pasti menyenangkan melakukan perjalanan mudik dan bersilaturahim Lebaran bersama dengan buah hati tercinta. Namun, ketika mengajak si kecil maraton bersilaturahim atau mudik, tentu ada beberapa konsekuensi yang harus diperhatikan orang tua.

Padatnya aktivitas silaturahim terkadang membuat si kecil lupa waktu istirahat dan waktu makan. Jika pola makan dan istirahat tidak diperhatikan, maka anak dapat mengalami kelelahan.

AWAS DEHIDRASI

Agar perjalanan Lebaran Anda nyaman, Dr Laksmi S Handini SpA menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan. "Yang pertama, pastikan si kecil berangkat dalam kondisi sehat, apalagi jika Anda melakukan perjalanan jauh. Stamina anak harus baik sebelum Anda melakukan aktifitas padat.

Saya sendiri pribadi lebih nyaman mengajak anak perjalanan jauh setelah anak berusia 6 bulan ke atas," ungkap Dr Laksmi, home doctor spesialis anak dari RS Husada Utama, Surabaya.

Beberapa hal yang perlu diwaspadai adalah anak mengalami dehidrasi. Terkadang karena terlalu gembira bertemu dengan sanak keluarga, maka anak akan kekurangan cairan. Jika dibiarkan, maka anak akan mengalami dehidrasi. Untuk mengetahui buah hati Anda dalam kondisi dehidrasi atau tidak, bisa diperhatikan frekuensi kencingnya.

Pada anak berusia di bawah 6 bulan, minimal harus kencing 6 kali dalam sehari. Sedangkan pada anak usia di atas 6 bulan, minimal 6 jam sekali harus buang air kecil. "Bibir kering, anak sering haus, dan air kencing anak berwarna pekat, itu juga tanda anak mengalami dehidrasi," imbuh dr Laksmi.

Jika tradisi di dalam keluarga biasanya saat Lebaran melakukan maraton silaturahim ke rumah beberapa saudara, maka harus di atur jamnya. Jangan diforsir tanpa ada istirahat. "Jangan sampai anak lelah, dan utamakan waktu istirahat untuk anak. Misalnya, jadwal pertama, silaturahim pagi hari. Lalu biarkan sore harinya anak istirahat. Baru di lanjutkan pada malam hari," paparnya.

MAKANAN BERGIZI

Dr Laksmi melanjutkan, pada istirahat malam juga harus diperhatikan. Jangan sampai anak begadang terlalu malam. Apalagi jika keesokan harinya anak harus beraktifitas kembali pagi harinya. Minimal jam istirahat yang ideal anak (10-12 jam) terpenuhi. Untuk anak yang terbiasa tidur siang, maka usahakan kondisi siang hari kondusif untuk anak tidur siang.

"Walau senang bertemu dengan banyak saudara, namun orang tua juga harus mendisplinkan anak masalah jam istirahat karena akan ada aktifitas lainnya keesokan harinya. Hal ini mencegah agar si kecil tidak kelelahan dan stamina tetap terjaga," ujarnya.

Selain itu, jadwal makan anak jangan sampai tidak teratur selama aktifitas Lebaran. Asupan makanan anak juga harus diperhatikan. Pastikan anak mengonsumsi makanan sarat gizi. "Buah dan sayur harus tetap dikonsumsi. Jika memang tidak ada buah potong, maka bisa diganti dengan jus segar," ucap Dr Laksmi.

Dan yang terakhir, agar perjalanan silaturahim dan mudik nyaman, sediakan selalu kotak P3K di mobil Anda. Minimal Anda membawa obat-obatan seperti paracetamol, obat kejang, obat asma, obat epilepsi, obat antialergi dan obat-obatan yang kerap dikonsumsi anak. Dengan begitu, keluhan anak dapat segera diatasi selama perjalanan.
Monday, May 21, 2018

Bolehkah Membersihkan Pakaian Yang Terkena Najis Dengan Mesin Cuci?

AkuIslam.ID - Pada zaman yang sudah modern seperti saat ini, tidak heran apabila banyak sekali alat-alat elektronik yang sangat canggih dan juga membantu meringankan pekerjaan seseorang. Salah satu contohnya adalah mesin cuci. Seperti yang sudah kita ketahui, mesin cuci adalah alat elektronik yang dapat membantu kita dalam urusan mencuci / membersihkan pakaian tanpa perlu lagi bersusah payah mengucek dan menggosok pakaian.

Ilustrasi

Semenjak adanya mesin cuci, banyak sekali masyarakat yang mencuci pakaian menggunakan mesin cuci karena sangat membantu dan menghemat waktu. Menggunakan mesin cuci juga tidak sulit karena memang dibuat untuk mempermudah orang mencuci pakaian. Banyak juga orang yang memanfaatkan mesin cuci sebagai salah satu alat untuk menghasilkan duit. Yaitu, dengan membuka usaha Laundry.

Mencuci pakaian menggunakan mesin cuci memang membuat pakaian kotor menjadi bersih. Tapi, apabila ada pakaian yang terkena najis dan dicuci menggunakan mesin cuci, apakah najisnya akan hilang?

Di dalam kitab fathul qorib di jelaskan bahwa : 

Dalam mencuci benda yang terkena najis di isyaratkan air mengalir pada benda tersebut ( di guyurkan) hal ini berlaku pada air yang sedikit (volume air nya kurang dari +/200 liter) apabila sebaliknya air ada terlebih dahulu kemudian benda ( pakaian) yang terkena najis di celup kan kedalam nya maka belum di nyatakan suci, jika air itu banyak, maka tidak di isyaratkan mengalir kan pada benda tersebut ( pakaian)

Hal ini juga di jelaskan di dalam kitab (Mughni Al Muhtaaj juz 1 halaman: 86) sebagai berikut: Menurut pendapat yang paling shohih ( benar) saat air kurang dua qullah di isyarat kan air yang mendatangi najis nya agar air tidak menjadi najis bila di balik ( Barang mendatangi najis nya) sebab dengan kejatuhan air sedikit/kurang dua qullah bisa langsung najis.

Contoh : 

Apabila ada pakaian yang terkena najis, yang pertama harus kita lakukan yaitu membersihkan dulu ainun najisnya yang meliputi bau, rasa, dan warna najis. Setelah kira-kira najisnya sudah hilang maka kita cuci baju kita menggunakan sabun/deterjen lalu bilas. Setelah sisa sabun bersih dari cucian kita, lalu lanjutkan dengan bilasan terakhir. Bilasan terakhir ini menetukan suci atau tidaknya hasil cucian kita.

Kalau pada bilasan terakhir kita menggunakan air mengalir, maka sucilah cucian kita. Tetapi kalau memakai air dalam bak air, maka air itu harus memenuhi ukuran dua qullah, sebelum cucian kita dimasukkan ke dalam bak air. Disinilah masalah itu terjadi, apabila air dalam bak air kurang dari dua qullah dimasuki pakaian kotor dan terkena najis, maka najislah airnya.

Jadi jalan keluarnya adalah selesai mencuci menggunakan mesin cuci, hendaknya bilas pakaian dengan menggunakan air kran atau air yang mensucikan seperti air yang mengalir. Cara lain apabila tidak menemukan air yang mengalir adalah dengan menampung terlebih dahulu air kedalam bak yang bisa menampung dua qullah (192+ltr) lalu masukkan cucian kita kedalamnya. Maka sucilah cucian kita.

Jadi, mencuci pakaian dengan mesin cuci itu boleh saja. Tetapi apabila ada pakaian yang terkena najis maka lebih baik dicuci dengan cara biasa saja.

Artikel Ini Adalah Kiriman Dari Sahabat AkuIslam.ID : Ade Sukma Fachrurodzi, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Ada Hak Bagi Orang Lain

AkuIslam.ID - Saya adalah seorang sopir angkutan umum. Akibat semakin banyak saingan, penumpang pun menjadi sepi. Kadang-kadang, untuk mendapatkan uang setoran pun harus tombok alias tekor.

Ilustrasi

Hal ini sempat membuat saya su'udzon (berburuk sangka) kepada Allah, mengapa rizki saya sangat seret. Astagfirullah al'adzim.

Di suatu hari, saya melihat seorang nenek tua, kira-kira berumur 80-an tahun, dalam keadaan yang sangat lemah, berjalan pun sambil terhuyung, bajunya lusuh. Di benak saya timbul rasa iba.

Orang setua itu mengapa tidak ada yang merawatnya. Hal ini menggerakkan hati saya untuk menolongnya. Tetapi, saya sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Kucoba merogoh saku celana, di dalamnya hanya ada beberapa lembar uang yang belum cukup untuk setoran.

Karena sangat ingin menolong, kuambil selembar uang ribuan dan kuberikan kepada nenek tua itu. Sambil gemetar, diterimalah uang tersebut dan nenek itu pun bergumam entah apa, saya tidak tahu karena saya langsung bergegas pergi.

Keesokan harinya, saya menjalani aktivitas seperti biasa sebagai sopir. Namun, hari itu tidak seperti biasanya, penumpang saat itu sedang ramai. Alhamdulillah, baru setengah hari, uang yang didapat sudah cukup untuk setoran, bahkan lebih. Hari itu benar-benar sangat melelahkan.

Sampai hampir larut malam, saya baru pulang kerja. Sesampainya di rumah, saya jadi berfikir, hari ini rizki saya sedang lumayan. Mungkin karena kemarin saya memberi sedekah kepada nenek tua itu dan ia mendoakan agar rizki saya lancar.

Saya jadi teringat nasihat guru saya bahwa orang yang bersedekah akan diberi imbalan lebih banyak oleh Allah swt. dan dalam rizki kita, ada sebagian rizki untuk orang yang membutuhkan. Begitulah pengalaman yang pernah saya alami, semoga hal ini menyadarkan kita agar tidak kikir dan mau memberi bantuan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.