Wednesday, May 23, 2018

Meninggalkan Puasa Saat Bepergian

AkuIslam.ID - Ketika menempuh perjalanan untuk menunaikan ibadah umrah di siang bulan Ramadan, haruskah umat tetap berpuasa atau sebaliknya, boleh meninggalkannya?

Ilustrasi

Pada Ramadan tahun ini, Mifta (29) merencanakan untuk menunaikan ibadah umrah bersama suaminya. Jadwal yang diberikan oleh trabel penyelengara umrah adalah saat puasa Ramadhan. Berangkat bakda subuh dengan jadwal pesawat pukul 07.30 WIB dari Bandara Sukarno-Hatta Cengkareng.

Saat itu seharusnya umat Islam sudah melaksanakan rukun Islam keempat yaitu puasa Ramadan. Namun karena sedang berbarengan dengan Safar (bepergian untuk menunaikan umrah) apakah diperbolehkan untuk berbuka atau tidak puasa. Lebih afdhal mana saat Safar, melakukan puasa atau meninggalkannya?

BEDA PENDAPAT

Imam Nawawi berkata, "Para ulama berbeda pendapat tentang puasa dalam keadaan safar (bepergian), Sebagian ulama ahlu Dzohir berpendapat, 'Tidak sah puasa Ramadan dalam keadaan Safar, jika ia berpuasa (dalam keadaan safar) maka tidak dianggap dan wajib qadha berdasarkan hadis "Tidak termasuk perbuatan kebajikan ketika puasa dalam keadaan Safar" dan didalam hadis lain "Mereka (Yang berpuasa dalam keadaan safar) melakukan kemaksiatan.' Sedangkan menurut mayoritas ulama dan semua ahlu fatwa, diperbolehkan puasa dalam keadaan safar dan puasanya dianggap serta mendapatkan pahala. (Sahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi, pusataka al Iman Hal. 219).

DUA PAHALA

Sedangkan dalam buku fiqih wanita karangan kamil Muhammad uwaidah dijelaskan, bahwa orang yang sedang safar kemudian berbuka puasa, maka dia harus mengganti puasa sebanyak hari yang yang ditinggalkannya. Seperti yang dijelaskan dalam alquran surat albaqarah ayat 184.

Ayat ini dikhususkan untuk orang yang sedang melakukan perjalanan dan orang-orang yang sakit secara keseluruhan. Sehingga jika ada muslimah yang sedang bepergian seperti mifta, boleh baginya untuk membatalkan puasa. Namun jika dia kuat berpuasa maka baginya ada dua pahala.

Sedangkan jika puasa yang dilakukannya hanya akan membebaninya, maka berbuka lebih utama dari berpuasa. Hal ini juga ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Di dalamnya menceritakan tentang perjalanan Rasulullah di siang bulan Ramadan. Saat naik Unta, Rasulullah meminta air atau susu, sehingga para sahabat yang menyertainya langsung berbuka.

5 Kiat Keutamaan Sedekah Di Bulan Ramadan

AkuIslam.ID - Selain ibadah puasa, bulan Ramadan adalah bulan sedekah. Taburan rahmat dan kemuliaan bersedekah di bulan suci amat berlimpah. Begitulah teladan Rasulullah Saw.

Ilustrasi

Bersedekah merupakan amal yang istimewa. Bahkan Rasulullah Saw sendiri yang menjami bahwa orang yang ahli sedekah adalah hamba yang dicintai-Nya. "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk," (HR. Al Baihaqi).

Bahkan di hadis lain, orang yang istiqomah bersedekah mendapatkan predikat hamba Allah yang paling baik. Rasulullah Saw bersabda, "Dunia itu untuk 4 jenis hamba, yang pertama, hamba yang diberikan rezeki oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertakwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik," (HR Tirmizi).

Berikut lima kedasyatan bersedekah di bulan Ramadan:

1. SESUAI SUNNAH NABI

Tentu saja jika kita mampu bersedekah di bulan Ramadan, berarti kita sudah menjalankan sunah Rasulullah Saw. Sebab, beliau adalah orang yang paling dermawan. Kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadan.

Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas Ra, "Rasulullah Saw adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkannya Alquran. Dan kedermawanan Rasulullah Saw melebihi angin yang berhembus," (HR Bukhari).

Subhanallah, bagaimana dengan kita? Sudahkan kita menyiapkan dana khusus untuk bersedekah di bulan suci Ramadan ini? Mari bertanya kepada diri kita masing-masing.

2. DIJAMIN SURGA

Selanjutnya, keutamaan sedekah di bulan Ramadan adalah jaminan surga. Tentu aja kita tetap menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar. Maknanya, jika kita mampu menggabungkan ibadah puasa kita dengan bersedekah, dan shalat malam, maka surga menjadi jaminannya.

Sungguh, puasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang agung. Bahkan pahala puasa tidak terbatas kelipatannya. Sebagaimana dikabarkan dalam hadis qudsi berikut, "Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman, 'Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya," (HR Muslim).

Lebih-lebih jika malam-malam Ramadan itu kita sempurnakan dengan shalat malam, dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah Saw bersabda, "Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu," (HR Bukhari dan Muslim).

3. RUANGAN KHUSUS DI SURGA

Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga yang sangat indah dan istimewa. Digambarkan dalam sabda Rasulullah Saw, "Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur," (HR At Tirmizi dan Ibnu Hibban).

4. PAHALA DOBEL

Ramadan benar-benar menjadi ladang ibadah, lebih-lebih bersedekah. Sekali bersedekah, maka kita tidak hanya mendapat pahala sedekah, namun mendapat tambahan pahala puasa lagi.

Rasulullah Saw bersabda, "Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya," (HR At Tirmizi).

5. DIBERI KEMUDAHAN

Lagi-lagi Ramadan sangat istimewa. Jika kita mau bersedekah di bulan mulia itu, maka Allah akan memberikan kemudahan melakukannya. Artinya, bersedekah di bulan Ramadan lebih dimudahkan.

Hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah Saw, "Jika datang bulan Ramadan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu," (HR Bukhari dan Muslim).

Subhanallah, mudah-mudahan kita mendapatkan kemudahan dalam bersedekah, sehingga ibadah kita di bulan Ramadan menjadi sempurna. Amin ya rabbal'alamin.

Sahabat Yang Gemar Menuntut Ilmu

AkuIslam.ID - Rasulullah menjelaskan bahwa ilmu derajatnya lebihtinggi dari harta. Orang berilmu lebih mulia daripada orang yang berharta. Karena itu, Rasulullah senantiasa menyarankan untuk menuntut ilmu hingga akhir hayat. Salah satu sahabatnya yang juga tinggi derajatnya adalah Ali bin Abi Thalib. Bahkan, ia dijuluki sebagai pintu masuknya ilmu.

Ilustrasi Berilmul Dan Orang Kosong Ilmu

Pada suatu hari Rasulullah bersabda kepada para sahabat, "Sudikah kalian mengetahui amal perbuatan para pahlawan?"

"Wahai Rasulullah, apakah amal perbuatan para pahlawan tersebut?" tanya sahabat.

"Amal mereka adalah mencari ilmu karena sesungguhnya ilmu adalah cahaya orang mukmin di dunia dan di akhirat. Aku adalah kota (gudang ilmu), sedangkan Ali adalah pintu masuknya," sabda Rasul.

Ketika kaum Khawarij mendengar sabda Rasulullah Saw tersebut, timbullah rasa hasud dan dengki pada Ali Ra. Akhirnya, sepuluh orang pembesar di antara mereka berkumpul membuat persekongkolan. Mereka sepakat bahwa masing-masing dari mereka menanyakan masalah yang sama.

Jika Ali Ra menjawab masing-masing dari pertanyaan mereka dengan jawaban yang lain, maka berarti Ali Ra memang berilmu luas sebagaimana yang disabdakan Rasulullah.

HAKIKAT ILMU

Salah satu seorang dari mereka datang dan mengawali pertanyaan kepada Ali.

"Hai Ali, manakah yang lebih utama ilmu atau harta?" tanyanya.

"Ilmu lebih utama dari harta," jawab Ali.

"Apa alasannya?" tanya mereka lagi.

"Ilmu adalah warisan pada nabi sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, dan lain sebagainya," jelas Ali.

Setelah mendapat jawaban dari Ali, orang yang pertama bertanya langsung pergi.

Lalu, orang kedua bertanya perihal yang sama dengan orang pertama Ali.

"Hai Ali, mana yang lebih penting, harta atau ilmu?" tanya orang kedua.

"Ilmu lebih utama dari harta," katanya lagi.

"Apa alasan dan argumentasi Anda?" tanyanya lagi.

"Ilmu akan menjaga dan melindungi Anda, sementara harta, justru kamu yang menjaganya," jawab Ali dengan kecerdasannya.

Penanya kedua pun berlalu pergi setelah mendapat jawaban dari Ali.

JAWABAN YANG SAMA

Kemudian disusul orang ketiga. Pertanyaan serupa kembali dilontarkan kepada Ali.

Ali pun menjawab dengan sigap pertanyaan tersebut.

"Jelaslah ilmu yang lebih berharga dibanding harta," jawab Ali.

"Apa alasannya?" tanya orang ketiga.

"Pemilik harta punya banyak musuh. Sementara pemilik ilmu punya banyak teman," tegas Ali.

Orang ketiga ini pun pergi. Setelah mendapat jawaban dari Ali.

Disusul orang keempat datang kepada Ali, manakah yang paling utama, harta atau ilmu. Ali pun kembali memberikan argumen yang tegas.

"Jika kamu membelanjakan harta, maka harta itu akan berkurang. Jika kamu mempergunakan ilmu, maka ilmu itu akan semakin bertambah," jelas Ali.

Orang keempat ini pun pergi setelah mendengar jawaban dari Ali.

Demikian giliran orang kelima. Datang bertanya sebagaimana pertanyaan yang sama seperti yang terdahulu. Ali pun menjawab, "Pemilik harta mendapat julukan bakhil dan kikir. Sedangkan pemilik ilmu mendapatkan predikat panggilan sebagai orang yang mulia dan terhormat." Lalu, orang kelima pun pergi dengan jawaban dari Ali.

Hal serupa pun terus berdatangan kepada Ali. Hingga akhirnya datang penanya keenam sampai dengan kesepuluh. Hal yang sama secara tegas dan mantap, Ali selalu menjawab secara tegas bahwa ilmu adalah hal yang paling utama dengan berbagai argumentasi yang diberikan seperti, harta perlu penjaga dari pencurian, sedangkan ilmu tidak perlu penjaga dan pencuri. Ilmu lebihutama daripada harta, karena pemilik harta akan dihisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu akan disyafa'ati pada hari kiamat.

Selanjutnya, Ali berkata, "Seandainya mereka masih bertanya lagi dalam masalah ini, tentu aku akan menjawabnya dengan jawaban lain selama aku masih hidup," Akhirnya mereka mengakui ketinggian dan keluasan ilmu Ali, sebagaimana sabda Nabi Saw, lalu mereka semua datang menyerah dan masuk Islam.

Mengatur Gizi Anak Ketika Berpuasa

AkuIslam.ID - Ketika berpuasa, si kecil membutuhkan asupan nutrisi yang cukup. Agar selama siang hari, mereka kuat menjalankan ibadah puasa sambil tetap beraktivitas dan tidak lemas. Karena itu, Anda sebagai sang ibu harus bisa menyediakan menu sahur dan berbuka yang tepat yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak.

Menu Buka Puasa Dan Sahur Sehat

Puasa pada anak memang sebenarnya hanya bentuk latihan saja, tidak boleh dipaksa jika anak tidak kuat. Namun, jika si kecil telah mampu untuk melakukan puasa selama sehari full, maka tidak ada salahnya Anda sebagai orang tua mensupport anak. Salah satu bentuk support yang bisa Anda berikan adalah menyajikan menu sahur dan berbuka yang bergizi.

Menurut dr Kusdwijono SpA, spesialis anak dari RS Husada Utama Surabaya, sama halnya dengan menu pada orang dewasa untuk bulan Ramadan, harus memenuhi gizi seimbang dan kaya serat.

"Karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin lain penting diperhatikan dan harus lengkap diberikan, agar anak yang masih dalam masa pertumbuhan tidak terganggu metabolisme pencernaannya," imbuhnya

MENU SAHUR & BUKA

Dokter yang kerap disapa dr Kus ini melanjutkan bahwa pemilihan menu tepat akan mengaruhi aktivitas anak sehari-hari saat berpuasa. Seperti pada waktu sahur. Makan sahur sangat penting dalam berpuasa. Lewat makan sahur, tubuh mendapatkan cadangan energi selama satu hari menjalankan puasa. Karena itu, usahakan untuk memenuhi asupan serat yang berasal dari buah dan sayuran, karbohidrat yang terdapat dalam nasi dan kentang juga protein hewani dan nabati.

"Protein hewani berasal dari ayam, daging, ikan dan telur, atau dari protein nabati yang berasal dari tahu dan tempe. Terakhir, lengkapi menu sahur anak dengan susu," saran dr Kus.

Jenis makanan untuk sahur sebaiknya juga lebihmudah mengenyangkan. Misalnya, makanan seperti tauge, semangka, anggur, wortel, jeruk, ikan kukus, dada ayam panggang, apel, sirloin kukus, kentang panggang, popcorn dan pisang.

Untuk takjil, berikan makan dan minuman manis untuk memenuhi kebutuhan gula anak. "Tapi ingat, jangan berlebihan, karena makanan manis yang berlebihan akan membuat anak menolak mengonsumsi makanan besar. "Makanan manis dapat mengurangi keinginan anak untuk memakan makanan lain. Akibatnya, kebutuhan nutrisi selama berpuasa tidak tercukupi," imbuhnya.

Kemudian saat berbuka, sama halnya dengan sahur, gizi seimbang harus diperhatikan. Jangan lupa berikan juga susu pada anak ketika berbuka. Pilih makanan dengan indeks glikemik tinggi saat buka, seperti bagel, donat, roti putih, corn flakes, wafel, kentang panggang, wortel dan semangka.

SNACK BUAH

Selain menu berbuka, Anda juga dapat memberikan snack di saat senggang seperti setelah Tarawih. Untuk snack yang tepat, pilih buah potong atau makanan olahan buah. Bisa jadi pudding buah atau kue buah lainnya. Untuk buah, yang paling baik adalah buah dengan kadar gula tinggi seperti semangka dan bengkoang.

Dr Kus menambahkan, ada beberapa makanan yang juga harus dihindari dikonsumsi anak saat berpuasa. Diantaranya adalah jenis makanan pedas, gorengan, dan minuman berkarbonasi. Bahan-bahan makanan tersebut kurang mencukupi kebutuhan nutrisi anak. Asupan makanan asin saat sahur juga perlu pula dibatasi. Makanan asin dapat memicu rasa haus saat anak berpuasa.

Karena, anak akan mengalami kekosongan perut seharian, maka sebaiknya segerakanlah waktu berbuka dan bersahurlah dekat dengan waktu imsak. Akan tetapi, saat sahur, hindari untuk memaksa anak makan berlebihan saat sahur. Terlalu banyak makan dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti kembung dan begah pada anak.

Tips Mengajak Anak Berpuasa

AkuIslam.ID - Tak ada salahnya melatih anak berpuasa di usia dini. Salah satu cara yang tepat adalah dengan memberi contoh dan memotivasi melalui hadiah.

Mengajari / Melatih Anak Berpuasa

Anak usia balita atau yang sudah menginjak sekolah dasar belum wajib untuk mengikuti puasa Ramadan. Namun, tidak ada salahnya jika mengajari anak untuk berlatih puasa sejak usia dini mungkin. Menurut Tatik Mukhoiyyaroh SPsi MPsi, anak tidak wajib puasa, tapi wajib dilatih puasa.

"Sebenarnya anak kan tidak wajib puasa sebelum balig. Tapi, wajib dilatih puasa, supaya nanti kalau sudah balig, anak akan puasa dengan penuh karena sudah terbiasa," jelasnya.

Dosen psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya ini juga menambahkan jika tingkat latihan kepada anak juga harus dibedakan.

KETIKA BALITA

Jika anak masih berusia balita, sekitar 4-5 tahun, anak diberikan motivasi dan pengertian dulu mengenai puasa Ramadan. Kemudian ajak anak latihan tidak sarapan dulu pada saat bulan Ramadan.

"Kalau untuk anak usia balita, cara melatihnya dengan menunda sarapan dulu. Kalau biasanya sarapan pukul 7, sekarang untuk latihan, sarapannya pukul 10. Tapi, anak juga tetap dilibatkan untuk ikut sahur, supaya anak mengetahui tata cara berpuasa," imbuhnya.

Anak juga harus diberikan contoh dan pengertian ketika menjalankan puasa, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Selain itu, memberi motivasi kepada si kecil juga sangat berdampak secara psikologis bahwa ia biasa menjalankan puasa.

Orang tua juga harus mengetahui kondisi anak, jika memang anak sudah lemas dan tidak bisa melanjutkan puasanya, maka anak boleh makan atau minum meskipun belum waktunya berbuka puasa, tapi dengan syarat makan di tempat yang tertutup dan tidak diketahui oleh orang banyak atau saudara-saudaranya yang sedang puasa.

"Orang tua juga harus tahu, jangan sampai latihan puasa membuat anak sakit. Kalau anak sudah terlihat lemas dan tidak kuat, anak boleh makan. Tapi, diberi pengertian, kalau makan, tidak boleh di tempat umum karena bisa mengganggu orang yang berpuasa," tuturnya.

MEMBERI REWARD

Bagi anak yang sudah menginjak sekolah dasar, lingkungan dan contoh dari orang tua sangat berpengaruh terhadap latihan puasanya. Anak akan cenderung terpengaruh dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Jika lingkungan sekolahnya banyak yang tidak puasa, maka anak biasanya akan mengikuti tidak puasa.

Tugas orang tua di sini adalah menstimulasi agar anak mau untuk latihan puasa agar pada saat balig sudah mampu untuk melakukan puasa secara penuh. "Anak perlu distimuli dengan reward agar menjalankan latihan puasa. Reward yang diberikan tidak harus yang muluk-muluk atau barang yang mahal, cukup berikan pujian, pelukan, atau kue kecil yang membuat anak menjadi semangat,"

Kalau anak masih saja tetap menolak untuk latihan puasa, bisa dilakukan beberapa tahapan, seperti membuat kesepakatan awal, jika anak berhasil puasa sampai Duhur, maka akan diberikan reward. Setelah itu, bikin perjanjian, berapa lama anak akan puasa Duhur dan melanjutkan untuk puasa sampai Asar. Setelah puasa Asar, perlahan-lahan anak akan puasa sampai penuh.

"Lebih baik anak distimuli dengan reward, daripada anak harus dipaksa dan diberikan hukuman. Tapi, kalau sudah masuk usia balig, masih saja tidak mau puasa, orang tua harus tegas dan memberikan peringatan," tegasnya.

Memilih Taat, Putuskan Berjilbab

AkuIslam.ID - Setelah sekian lama tampil dengan penampilan yang seksi di layar kaca, presenter cantik Terry Putri akhirnya memutuskan untuk mengenakan jilbab. Hal ini ia lakukan semata-mata ingin menjadi manusia yang taat di mata Sang Pencipta.

Terry Putri Berhijrah

Ada yang berbeda dari penampilan presenter cantik Terry Putri sejak mulai tahun 2015 tepatnya. Pasalnya, artis yang selama ini kerap tampil dengan rambut terurai, kini memutuskan untuk berjilbab. Hal itu merupakan sebuah panggilan dalam hati untuk berhijrah dan berjilbab.

"Apabila bertanya hijrah-ku kenapa, karena tidak hanya ingin 'pintar' tapi juga 'sadar', karena kesenangan itu fana tapi kebahagiaan itu selamanya. Umur sesaat tapi bekal amal itu kekal," terang Terry Putri.

Aktris kelahiran 1 Desember 1979 ini pun mengaku keputusannya tersebut bukan sekedar mencari popularitas dan emosi sesaat. Berhijrah adalah keputusan yang sudah ia ambil untuk menjadi perempuan yang lebih baik.

"Inilah jalan menghilangkan emosi yang bisa membekukan qalbu. Inilah jalan sabar yang dijanjikan imbalan surga. Inilah jalan ketenangan hidup, dari segala goda fana duniawi," imbuhnya.

Selain itu, soal keputusannya ini, presenter olahraga ini pun menjelaskan tidak ada lagi keraguan, ia siap dengan segala konsekuensi, termasuk kehilangan pekerjaan di dunia hiburan. "Tidak ada lagi ragu. Tidak ada lagi rasa takut. Sudah lupa akan rasa khawatir. Hidup ini dijamin Allah selama dalam bentangan ketaatan. Taat itu nikmat, taat itu indah," ujarnya

RAJIN PENGAJIAN

Dengan memutuskan berjilbab, bagi presenter yang kerap membawakan berita olahraga ini pun harus banyak memperbaiki diri serta lebih memperdalam agama. Kini Terry tengah mengikuti pengajian renungan (tafakuran), bersama teman artis lainnya seperti Yulia Rahman.

"Ini aku lagi coba untuk menemukan jalannya. Ibadahku buat aku, tanggung jawab untuk akhirat, aku masih banyak belajar. Karena itu aku mulai ikut majelis tafakuran, sama-sama belajar agama dengan yang lain." ungkap Terry.

Keputusan yang Terry ambil pun banyak mengundang risiko, salah satunya adalah kehilangan pekerjaan.

"Aku memutuskan semua kontrak yang enggak sesuai sama aku sekarang. Ada tiga atau empat kontrak kerja reguler sudah aku putusin. Aku bilang, aku memilih sesuai ketaatan aku sekarang," imbuhnya.

Soal kerjaan dan keputusannya untuk berjilbab, Terry pun sudah jauh hari memikirkannya. "Masalah rezeki mah aku percaya, kalau kita yakin sama Tuhan, pasti tenang," tegasnya.

Hilang satu tumbuh seribu, istilah ini yang datang pada kehidupan Terry. Setelah beberapa pekerjaan sempat tertunda dan hilang pasca ia berjilbab, pekerjaan lain pun sudah menanti dirinya dengan kondisi bahwa ia sudah berjilbab.

"Ada tiga kontrak reguler dan satu nonreguler batal. Tapi, semua itu enggak masalah. Itu nikmat sekali bagi aku sekarang. Dan Alhamdulillah, selalu ada pekerjaan yang datang. Ini merupakan berkah bagi aku. Setelah aku kehilangan satu, Allah berikan rezeki yang lainnya," pungkasnya.

Rajin Sedekah, Kista Pun Sembuh

AkuIslam.ID - Kista bisa disembuhkan dengan sedekah. Itulah yang dialami oleh Ny Jelinda. Usai sakitnya sembuh tak lama kemudian Jelinda pun dinyatakan positif hamil. Subhanallah, berbagai keajaiban itu membuatnya kian aktif bersedekah. Berikut kisahnya.

Ilustrasi

Semua penyakit ada obatnya. Jika sebuah penyakit tidak sembuh juga meski sudah berobat ke mana-mana dan dengan berbagai macam obat, maka hakikatnya tentu saja belum ada izin Allah SWT untuk kesembuhannya.

Dalam mengobati penyakit, secara umum ada dua cara, yakni ikhtiar dan doa. Ikhtiar dilakukan dengan berobat ke dokter, meminum atau memakan obatnya, lalu disempurnakan dengan doa. Namun, belum banyak yang menyadari bahwa salah satu cara menyembuhkan penyakit adalah dengan sedekah. Sebab, Rasulullah Saw bersabda, "Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bersedekah".

Pengalaman penyakit yang sembuh dengan sedekah itu telah dirasakan oleh Ny Jelinda beberapa tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, penyakit kistanya langsung sembuh usai rutin sedekah. Ny Jelinda menceritakan, suatu hari ia terkejut dengan apa yang disampaikan dokter kepadanya.

"Ibu, ada kista berukuran 4 cm di mulut rahim ibu. Jadi, kemungkinan besar harus operasi caesar ketika melahirkan," tutur dokter kandungan, membuat Ny Jelinda (33) lunglai.

Wanita asal Minangkabau ini memang tengah bertubi-tubi kena cobaan sejak awal kehamilannya. Kegembiraannya hamil anak pertama yang sudah dirindukan bersama sang suami, ternyata tak berlangsung lama. Jelinda di-PHK dari tempatnya bekerja persis ketika ia dinyatakan positif mengandung.

COBAAN BERTUBI

Bukan cuma itu. Usaha rental mobil kecil-kecilan yang dikelola suaminya seret, bahkan nyaris tidak memberi pemasukan. Padahal, cicilan pinjaman modal usaha harus dibayar tiap bulan. Belum lagi untuk keperluan dapur. Terlebih saat Ny Jelinda butuh gizi yang lebih baik untuk perkembangan janinnya. Itu semua tentu saja perlu biaya lebih.

"Ya Allah, kuatkan hamba-Mu menerima cobaan ini. Engkaulah Yang Maha Luas Rezki," ratap istri Irwan Kadri (30) pasrah.

Di tengah tafakurnya, Jelinda teringat pesan Ustad Yusuf Mansur dalam bukunya yang berjudul "Mencari Tuhan" Buku ini dia baca saat masih bekerja di kantor lama. Jelinda sangat terkesan akan isi buku tersebut yang menyadarkan akan makna dan keberkahan sedekah.

"Sedekah dapat menjadi solusi berbagai permasalahan kita, jadi dekatilah Tuhan melalui sedekah," begitu antara lain pesan Sang Ustad. Jelinda lalu mencoba mengamalkannya. Ia mendaftar jadi donatur PPPA Darul Qur'an Wisatahati melalui collecting di tempatnya bekerja. Sampai kemudian cobaan berat mulai menimpanya.

"Sedekah terbaik adalah ketika kita sedang kepepet," demikian pesan lain Ustad Yusuf Mansur yang juga berkesan baginya. Dan, kini ia tergerak untuk membuktikannya dengan sisa uang pesangonnya.

BISA HAMIL

Dengan tekad bulat, ia serahkan Rp. 5 Juta dari Rp. 6 juta tabungannya kepada seorang temannya yang kebetulan panitia kegiatan Majelis Dhuha Nasional (MDN) dari Wisatahati Padang. Sedekah itu digunakan untuk menyelenggarakan MDN di Kota Padang.

Subhanallah, setelah eksekusi sedekah, kista di mulut rahimnya mengecil sehingga kata dokter, ia bisa melahirkan secara normal.

Betapa bahagia rasanya Jelinda. Allah memang tak pernah membiarkan hamba-Nya larut dalam kesulitan. Kini, dirinya beserta suami makin mendekatkan diri kepada Allah melalui rangkaian Tahajud, Duha, Rawatib, dan tak lupa melengkapinya dengan sedekah.